Hening sempurna menyelimuti meja bundar tempat Ervan duduk bersama dua pria berjas, rekan bisnis dari luar yang membuatnya terpaksa harus meninggalkan putra tercinta hingga malam tiba. Makanan sudah tersaji di atas meja. Terapi pikiran Ervan justru sedang bercabang ke mana-mana. Rekan bisnis yang tak mungkin ia tinggalkan, Sagara yang sejak pagi bersama ibunya. Juga pemandangan di depan tadi—Aluna. Ervan melihatnya. Mereka. Siapa sebenarnya pria yang bersama Aluna? Apa hubungan mereka? Bukankah wanita itu tidak suka pergi keluar di malam hari bersama pria yang bukan saudaranya? "Pak Ervan?" Suara itu menyentak kesadaran sang pemilik nama. Ervan segera menoleh. "Maaf. Saya sedikit melamun." Tawa kecil terdengar dari salah satu dari dua pria itu. "Pak Ervan bisa saja.'' Mengira sekeda

