25. Pria Paling Menyebalkan

1102 Kata

"Sayang sekali, ya?! Padahal jarang-jarang loh ayahnya Luna punya teman ngopi," komentar Nina. "Sebenarnya tadi saya memang mau langsung pulang. Tapi karena Ibu menawarkan saya minum kopi, saya bisa pulang nanti. Rezeki tidak boleh ditolak," ujar Ervan meskipun tahu bahwa Aluna memintanya untuk segera pulang secara tidak langsung. Nina tersenyum lebar. "Ayo, masuk dulu kalau gitu. Temenin papanya Luna minum kopi." "Dengan senang hati." Ervan melirik sekilas pada Aluna yang melotot padanya. Abai kemudian. "Ayo!" Nina mengajak tamunya untuk masuk. "Terima kasih, Bu." Ervan mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Sementara Aluna, berdiri dengan tatapan garang, rasanya ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Luna! Ayo! Kenapa masih berdiri di situ?" Nina berdiri di dekat pintu utama saat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN