Bab. 93

1186 Kata

Tuan Liu Xingsheng menyipitkan mata. Pandangannya tertuju pada putranya, Tuan Liem Xingsheng—yang seharusnya menjadi putra kebanggaan. Tatapan itu menjelaskan banyak rasa, dia kecewa, benci, sekaligus penasaran barangkali, mengapa Tuan Liem begitu keras kepalanya mempertahankanku. Kulihat petunjuk waktu yang menempel di dinding, jarum jam menunjukkan waktu tepat jam 9 malam. Artinya, sudah berjam-jam aku dan Tuan Liem berada di ruangan ini tanpa kusadari. Pergelangan tangan dan kaki terikat dengan posisi tubuh menggantung seperti ini benar-benar menyiksa. Aku tak tahan karena sudah merasa sangat sakit, perih pada bagian pergelangan tangan. Lagi, lagi kunikmati penyiksaan ini. Tak ada yang berani bersuara, selain detak jarum jam yang seakan menghitung detik-detik kematian kami, oh tidak,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN