“s**t! Aku hampir gila karenamu, Rania. Kenapa kamu tidak menjawab teleponku, Dear?” Aku menelan ludah. Apa yang harus kujelaskan? Sumpah, aku sangat bingung sekarang. Ditambah lagi Tuan Liem terdengar sangat khawatir. Apakah dia sudah mengetahuinya dari David? “Apa yang kamu lakukan di rumah Ayahku?” tanya Tuan Liem, terdengar lelah. “Cuma makan malam, itu aja. Tuan Liem ngundang aku dan Kim untuk dinner. Salah?” Aku nyolot. Ya, meskipun sebenarnya aku sangat merindukan laki-laki itu. Tuan Liem terdengar kesal. Dia memaki diri sendiri. “Harusnya aku tidak cemburu,” ucapnya lagi, dan aku terkejut. “Kamu cemburu? Serius?” ledekku, tanpa sadar kedua sudut bibir terangkat. Entah kenapa rasanya senang mengetahui Tuan Liem cemburu dan dia hampir semalaman memikirkanku. Makanya pulang! “A

