Malam ini akan jadi cerita seru yang kualami bersama Kim. Kami gegas beranjak pulang dari rumah Tuan Liu Xingsheng. Tak ada gunanya kami belama-lama di sana, makan malam dengan suasana kekeluargaan yang terasa nyaman mengobrol ringan sudah hilang dari pikiran. Tidak ada makan malam seperti itu, yang ada, nyawa kami berdua nyaris hilang. Aku dan Kim menghempaskan diri di atas ranjang besar yang empuk, di kamar Kim. Kamar yang sangat nyaman menurutku. Kami tertawa, kemudian saling pandang. “Ini gokil,” kataku, masih terus tertawa seperti orang mabuk. “Lagi-lagi Tuan Liu gagal menanam timah panas di otakku. Kesian.” Kim tergelak. “Kamu sialan memang, hahaa.” Kami tertawa, atas ketidakpercayaan karena ternyata Tuan Liu masih memberi kesempatan untuk bernapas dengan baik. Aku pikir, itu ka

