“Aku minta maaf, Rania,” ucap Kim, “jangan masukin ke hati ucapan si tua itu. Dari dulu dia memang suka ngomong semau dia aja.” Aku terkesiap. “Aku pikir, ayah hanya mengundang kita berdua, aku sama sekali gak tau soal acara makan malam bersama seperti ini.” Kim masih ingin aku mempercayainya, di halaman luas di rumah Tuan Liu kami memilih duduk di kursi taman di dekat air mancur yang menyuarakan gemericiknya yang khas. “Aku gak apa-apa kok, Kim. Santai aja. Beneran.” Akhirnya aku bicara, “lagian aku juga udah biasa kok direndahin kayak gini. Ada cewek kayak aku dekat sama cowok kayak kamu dianggap penjilat ya wajar. Dianggap matre ya wajar juga, memang kenyataannya banyak cewek begitu kan? Tapi sayang aja sih, kalau Tuan Liu memukul rata kek gitu. Masih ada kok cewek-cewek. Baik-baik.”

