9. Ujian Nasional

1021 Kata
Sejak Damian mengutarakan niatnya untuk ke Jerman, Hana tak bersuara. Pikiran gadis itu melayang ke mana-mana serta rasa takut jika mereka harus menjalin hubungan jarak jauh. Belum cukup sebulan mereka bersama. Mereka baru merasakan manisnya jatuh cinta satu sama lain, akan tetapi ujian sudah berada di depan mata. Damian masih menatap lekat gadis yang duduk di sampingnya tanpa membalas tatapannya sedikit pun. "Kapan berangkat?" tanya Hana akhirnya. Damian menelan salivanya susah payah. "Seminggu setelah pengumuman ujian nasional," jawabnya. Hana mengangguk pelan. "Selamat, ya!" Akhirnya ia menoleh, memberikan senyuman terbaiknya pada Damian walau tak sampai ke mata. Lebih tampak seperti senyuman pedih. Damian mengecup punggung tangan kekasihnya. "Maaf karena aku baru memberitahumu. Aku takut kamu akan minta putus kalau aku jujur padamu." Hana menggeleng pelan. "Justru aku senang kalau kamu jujur. Aku mau kamu berjuang lebih keras untuk menggapai cita-citamu." Damian memeluk kekasihnya. "Pokoknya kita gak boleh putus. Aku sayang sama kamu." "Aku juga sayang sama kamu, Kak," balas Hana. *** Ujian nasional khusus kelas XII SMA dimulai. Para siswa terlihat berdiri dengan tenang di lapangan sekolah sembari mendengarkan arahan kepala sekolah tentang aturan pelaksanaan ujian. Suasana sekolah tak seramai biasanya karena sesuai aturan, siswa kelas X dan kelas XI diliburkan. Setelah mendengarkan arahan dan dilanjutkan dengan doa bersama sesuai keyakinan masing-masing, para siswa diminta masuk ke ruangan masing-masing sesuai nomor ujian mereka. Damian satu ruangan dengan Gibran dan Karl, sementara sahabat mereka yang lainnya di ruangan yang berbeda. "Dami, nanti kalau habis ini gue mau bicara sama lo!" ujar Gibran. "Soal apa?" tanya Damian. "Nantilah!" pungkas Gibran. Damian hendak memukul lengan Gibran, akan tetapi dua orang pengawas ruangan sudah memasuki ruangan. Peserta ujian pun seketika duduk tenang menunggu Lembar Jawaban Komputer dibagikan pada mereka. Lembar jawaban tersebut harus diisi menggunakan pensil 2B dengan cara menghitamkan pilihan jawaban yang dianggap benar dan harus serapi mungkin dan tidak boleh ada coretan lain. Setelah peserta mengisi kolom identitas pada lembar jawaban, salah satu pengawas ruangan membagikan lembar soal pada seluruh peserta ujian. Lima puluh pertanyaan tertera dalam lembaran tersebut dan harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. *** "Lo mau ngomong apa?" "Wah, gak sabaran banget lo!" kekeh Gibran. "Lo duduk dulu kan bisa!" Damian mendengus, akan tetapi ia tetap menurut. Ia, Karl, Nino, dan Fadli kini menanti apa yang akan Gibran katakan. "Oke, sekarang lo mau apa!" Gibran duduk lalu mengambil sesuatu dari saku seragam sekolahnya. "Nih, lo ambil!" Damian mengernyit. "Kunci apa ini?" "Ini kunci mobil sport gue sesuai janji gue!" Damian tersentak kaget. "Lo serius?" "Kalau gue gak serius, tuh kunci gak ada di tangan lo!" ucap Gibran. Tangan Damian bergetar memegang kunci mobil itu. Matanya terpejam sembari menggeleng pelan. "Ini gak benar! Perasaan cinta gue tulus ke Hana!" "Gak, gue berubah pikiran!" ucap Damian tegas. "Lho, kenapa? Padahal waktu itu lo pengen banget ini!" timpal Karl. "Tapi perasaan gue ke Hana serius, bukan main-main!" tukas Damian. "Udah, terima aja!" ujar Nino. "Kan lo bisa ajak Hana jalan-jalan pakai mobil itu, gak bikin dia kepanasan lagi." Damian menghela napas panjang seiring dengan makin eratnya genggaman kunci mobil di tangannya. *** Berbeda dengan Damian yang memperjuangkan masa-masa terakhirnya di bangku SMA, Hana justru menyibukkan diri menyelesaikan tugas sekolah yang cukup banyak selama tiga hari. Seperti saat ini, gadis itu beberapa kali menghela napas saat ia merasa kesulitan menyelesaikan salah satu soal Fisika. Ia melepas kacamatanya lalu memijat keningnya karena mendadak merasa pusing. Tak berselang lama, perutnya berbunyi tanda ia harus makan. "Mending makan dulu terus tidur siang," gumamnya. Hana beranjak dari posisi selonjoran di lantai kamarnya dan bergegas ke ruang makan untuk mengisi perutnya. "Eh, anak gadis Mami udah nongol!" Evita tersenyum menyambut sang putri yang terlihat lesu. "Capek, Mi!" keluh Hana. "Capek kenapa?" "Tugasku banyak banget!" Evita tersenyum. "Ya udah, kamu makan terus istirahat. Jangan terlalu dipaksakan, Nak! Nanti kamu bisa stres kalau dipaksakan terus." Hana mengangguk pelan lalu duduk di salah satu kursi, menunggu sang ibu menyiapkan makanan sambil memijat kembali kepalanya dengan dua tangannya. "Damian ujian berapa hari, Nak?" tanya Evita. "Tiga hari, Mami. Kenapa?" "Gak, siapa tahu aja kamu malah kangen sama dia!" goda Evita. "Ah, Mami apa-apaan sih!" Hana merengut. "Duh, anak gadis Mami malah malu-malu gitu!" "Udah deh, Mami! Kapan aku makannya kalau begini?" protes Hana. Evita pun langsung bungkam, akan tetapi wajah semringahnya masih tak luntur juga. *** Hari berikutnya, Damian kembali mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah sembari menghubungi kekasihnya via telepon. "Udah, Kak! Buruan ke sekolah sekarang!" "Iya, tapi aku masih kangen lho, Sayang," ujar Damian. Kekehan geli Hana terdengar merdu. "Aku juga kangen, Kak, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Nanti kamu telat!" Damian menghela napasnya dalam-dalam. "Oke, Sayang. Aku berangkat dulu. Kamu doain aku, ya!" "Iya, pasti! Semangat, ya!" Damian tersenyum sebelum mematikan sambungan teleponnya. "Aku cinta kamu," ucapnya. "Aku juga cinta kamu," balas Hana sebelum sambungan telepon benar-benar terputus. Damian langsung bangkit dari ranjang seraya tersenyum. Ponselnya ia simpan di dalam laci meja belajarnya karena selama ujian, siswa dilarang membawa ponsel. Damian turun dari lantai dua dan langsung mengambil kotak bekal dan mengisinya dengan dua roti selai stroberi. Sejak pertengkarannya dengan sang ayah, Damian enggan sarapan bersama kedua orang tuanya. Setelah menyiapkan bekalnya sendiri, ia pamit pada asisten rumah tangganya dan langsung menuju garasi untuk mengeluarkan motornya. Dari kejauhan, sang ibu menatap nanar kepergian putranya yang selalu tanpa pamit padanya. "Maafkan Mama, Nak," lirihnya. Dua puluh menit kemudian, Damian sudah tiba di sekolah. Karena waktu ujian masih ada 45 menit lagi, ia memutuskan untuk sarapan dulu. Ia membuka kotak bekalnya dan memakannya dengan santai karena tak ada seorang pun di dalam ruangan. Saat potongan terakhir rotinya masuk ke dalam mulutnya, Karl masuk dan langsung duduk di depannya. "Kenapa lo?" tanya Damian begitu melihat Karl tersenyum lebar. "Semalam gue habis kencan sama Shila. Gila, gue sampai melayang!" Damian melotot kesal. "Lo habis one night stand lagi? Masih sempat-sempatnya lo!" "Hei, Dami! Kepala gue udah pusing mikirin ujian, masa gue gak bisa senang-senang sebentar!" sungut Karl. Di antara mereka berlima, hanya Karl yang terkenal paling berengsek* pada wanita. Ia tak segan berganti wanita seperti berganti pakaian. "Terserah lo deh! Yang jelas gue sama yang lain udah berusaha bikin lo sadar!" pungkasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN