8. Permintaan Damian

1090 Kata
"Diantar siapa, Dek?" Hana terkesiap saat Marshal memberinya tatapan menyelidik. Ia baru saja masuk ke dalam rumah, tetapi sang kakak tercinta sudah memberinya pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Haruskah ia mengakui bahwa kini ia memiliki pacar? Hana menghela napas panjang seraya berpikir jawaban apa yang tepat untuk ia berikan pada Marshal. Sementara Marshal mulai terlihat kesal karena adik cantiknya itu tak juga menjawab. "Dia-" "Pacarnya Hana, Nak. Damian namanya!" sahut Evita yang datang langsung dari dapur. "Apa? Hana pacaran? Sejak kapan, Mami?" tanya Marshal. Evita memukul lengan kekar putranya. "Kamu tuh kalau bertanya satu-satu! Ya, udah beberapa minggu ini." Wanita itu menoleh pada putrinya yang kini tertunduk. "Benar, kan, Sayang?" tanyanya. Hana mengangguk malu, sedangkan Marshal tersenyum penuh arti. "Jadi ini maksud pertanyaan kamu waktu itu?" goda Marshal. "Pertanyaan apa, Shal?" Evita semakin penasaran. "Soalnya Hana pernah nanya tentang ... aduh, Dek!" Marshal melotot kesal pada sang adik nya sudah mencubit lengannya. "Kakak keterlaluan banget deh! Masa soal itu masih aja mau dibocorin ke Mami!" protes Hana. "Memangnya kenapa? Kenapa kalian harus merahasiakannya dari Mami?" tanya Evita menuntut. "Hana malu-malu, Mi!" ledek Marshal. "Hah ... ya sudah, lebih baik kamu makan siang dulu sana, Hana!" Evita mengedikkan dagunya ke arah meja makan. Begitu Hana sampai di ruang makan, matanya berbinar. "Wah, telur balado! Terima kasih, Mami!" Hana bersorak girang langsung mengecup pipi ibunya dan bergegas ke dapur. "Hana, simpan sedikit dong!" pinta Marshal. "Gak ada, ya, Kak! Ini jatah aku dari Mami. Kan Kakak bisa minta Mami bikin lagi!" sungut Hana. "Ck, dasar pelit!" ujar Marshal kesal. "Biarin! Sana pergi!" Marshal mendengus sebal seraya berlalu dari ruang makan, meninggalkan Hana yang mulai menikmati makanan kesukaannya. *** Hana menikmati coklat panas yang dibuat oleh sang kakak. Marshal sedang menikmati hari libur dinasnya, jadi ia leluasa menghabiskan waktunya bersama Hana. "Gimana ceritanya kamu jadian sama kakak kelas kamu itu?" Marshal begitu penasaran dengan sosok Damian yang mampu membuat adik kesayangannya jatuh cinta. Hana tak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke bawah di mana kolam renang memantulkan cahaya bulan purnama. "Kak Dami itu ketua OSIS di sekolah. Dia tampan dan cerdas, tapi begitu dingin dengan perempuan karena dia memang gak suka dengan siswi yang sering mencari perhatiannya. Aku sendiri juga kagum sama dia, tapi hanya bisa melihatnya dari jauh," ungkap Hana. "Kenapa?" tanya Marshal. "Fans fanatik Kak Dami galak-galak, Kak. Mereka gak akan segan-segan pakai cara kotor* agar saingan mereka tersingkir. Makanya aku gak berani dekat sama dia. Sampai akhirnya Kak Dami yang perlahan mendekat padaku dan akhirnya kami jadian," ujar Hana sembari tersenyum. "Apa kamu mengalami yang seperti kamu ceritakan tadi?" Hana menoleh. "Cerita yang mana, Kak?" "Fansnya Damian yang kamu bilang galak." Hana menghela napas panjang lalu menganggukkan kepala. "Jadi?" "Untung aja Kak Dami cepat datang nolong aku." Marshal menghela napas lega. Ia memeluk tubuh adiknya dari belakang dan meletakkan dagunya di kepalanya. "Pokoknya kamu harus jaga diri baik-baik! Kakak gak mau kamu mengalami kejadian yang membuatmu dalam situasi berbahaya. Kakak berharap Damian bisa menjagamu dengan baik. Kamu adikku satu-satunya," bisik Marshal. Hana mengangguk pelan. Dalam hatinya ia berjanji akan menjaga diri sebaik-baiknya. *** Hana memasukkan bulatan kecil berbahan dasar daging sapi beserta sedikit kuahnya ke dalam mulutnya, sedangkan Damian sibuk dengan ponselnya untuk berbalas pesan dengan seseorang. "Kak, gak makan dulu?" ucap Hana. Damian tersenyum seraya menyimpan ponselnya. "Maaf, ya! Tadi sepupu kirim SMS kalau besok dia mau datang ke rumahku." Hana mengangguk pelan dan melanjutkan makanannya, mengabaikan Damian yang kembali membalas SMS sepupunya hingga tanpa ia sadari, semangkuk bakso yang Hana makan tandas. "Aku duluan, Kak!" Seketika Hana berdiri dan hendak meninggalkan Damian di kantin. "Sayang, tunggu! Aku belum makan lho!" "Ya iyalah belum makan! Dari tadi pegang hp mulu!" sungut Hana. "Maafkan aku, Sayang! Please, duduk dulu!" Hana pun menurut. Ia kembali duduk meskipun wajah kesalnya masih jelas terlihat. "Aku makan, ya!" "Terserah!" ucap Hana kesal. "Duh, pacarku marah! Jangan marah dong! Kalau marah, nanti cowok-cowok pada naksir lagi." "Apa hubungannya coba?" "Kamu kalau marah jadi makin cantik!" "Gombal!" "Gombal pacar sendiri ini! Masa gak boleh?" Hana tak menyahut lagi. Bisa-bisa perdebatan mereka tidak akan berakhir hingga bel tanda masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi. "Sayang, nanti pulang sekolah kita jalan, yuk!" ucap Damian. "Kita mau ke mana?" tanya Hana. "Nanti kamu juga tahu!" Setelah makanannya habis, Damian berdiri dan menggenggam tangan Hana dan segera meninggalkan kantin. "Mau, ya?" pinta Damian. "Hmm ... gimana, ya?" Hana terlihat ragu. "Nanti aku jelasin sama Tante Evita kalau anak gadisnya aku bawa jalan-jalan dulu sebelum pulang," pungkas Damian. "Benar, ya?" Damian mengangguk. "Oke, Sayang! Nanti pulang sekolah aku tunggu kamu di parkiran." Damian mengecup pipi gadis itu lalu meninggalkan Hana yang masih mematung akibat kecupan singkat tadi. "Kak Dami bikin jantungku mau copot," lirih Hana. "Duh, anak gadisnya Tante Evita dicium mantan ketua OSIS!" ledek Gracia. "Ih, Cia! Demen banget bikin orang kaget!" sungut Hana. "Buruan masuk!" ucap Gracia lalu segera masuk diikuti oleh Hana. *** Hana keluar dari kelas begitu pesan singkat dari Damian ia terima. Pemuda itu menunggunya di tempat parkir sesuai kesepakatan mereka. "Maaf, Kak! Udah lama, ya?" Hana merasa tak enak jika Damian menunggunya. Damian tersenyum. "Gak apa-apa kok, belum terlalu lama juga." "Aku kira Kakak marah." Hana menghela napas lega. "Aku gak bisa marah sama pacarku!" kekeh Damian. Damian pun langsung memakaikan helm di kepala Hana. Setelah itu, ia naik duduk di atas motor disusul oleh Hana. Tak lama setelah mesin motor dihidupkan, mereka pun meninggalkan sekolah. Dua puluh menit berlalu, mereka akhirnya sampai di tempat yang Damian inginkan. "Kak, ini di mana?" Mereka berada di sebuah danau yang sangat ramai oleh pengunjung dengan berbagai usia. Beberapa penjual jajanan juga berkumpul di sana untuk menarik minat pengunjung. Damian menarik tangan Hana setelah memarkirkan motornya dengan benar. "Ayo kita ke sana!" Hana menatap takjub danau yang ada di depannya. "Dulu, aku sering ke sini untuk menenangkan pikiran dan saat merasa enggan untuk pulang ke rumah," ujar Damian. "Enggan untuk pulang? Kenapa?" Damian menghela napas panjang. "Aku ingin melarikan diri dari keegoisan orang tuaku. Setiap hari mereka selalu saja memaksakan kehendak padaku. Mereka tidak mau mendengarkan keinginanku, termasuk aku yang tidak mau kuliah Kedokteran seperti mereka." "Berarti kamu gak mau jadi dokter untuk ikut orang tua kamu? Kenapa?" tanya Hana. "Aku senang dengan dunia bisnis. Aku bahkan mengejar beasiswa ke Jerman untuk kuliah bisnis di sana." Hana terkejut. Seketika ia menoleh, menatap wajah kekasihnya yang juga menatapnya. "Kak Dami," lirih Hana. Damian menggenggam jemari Hana lalu mengecup punggung tangan gadis itu. "Berjanjilah untuk tetap setia menungguku! Aku sedang berusaha merancang masa depan indah bersamamu. Kamu mau kan, Sayang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN