*** Riana terkejut saat melihat amplop berisi surat pemecatannya dari Pak Wira. “Ini pasti ulah Dias!” ujar perempuan itu tak suka. Dias benar-benar tidak main-main ternyata. “Baiklah, sekarang giliranku, Yas,” sinisnya. Matahari memang sudah lama meninggalkan petang, kini sudah saatnya Riana membalas apa yang telah membuatnya terluka selama beberapa hari ini. Riana tidak akan membiarkan Dias ataupun Ziya bahagia di atas penderitaannya. “Dari mana saja kamu Bu dokter?” Rencana sudah Riana susun dengan rapi, tetapi masih saja ada yang mengganggunya. Riana memutar bola matanya dengan jenuh lantaran mendapati dokter Sandi sedang bersandar di pintu. Sial! Untuk apa lelaki itu menghampirinya? Kenapa belum pulan juga? Atau jangan-jangan dokter Sandi sengaja diam-diam mengikutinya? Riana

