Segitiga Peirce

3436 Kata

Aku bernyanyi di atas balkon, membagi pandangan pada sepenjuru arah. Mataku menjelajahi hutan dengan dersik angin yang menyenggol dedaunan, danau lengkap dengan kunang-kunang, dan langit cerah berbintang. Tempat ini begitu indah. Seperti mimpi. Benarkah ini mimpi atau kenyataan gila? Sebab, dunia nyata tak akan pernah bisa seindah ini. Bintang gemintang yang gemerlapan mencumbu langit gelap tak pernah tampak seindah ini. Tanganku terangkat ke atas, menyipitkan sebelah mata dan membayangkan dua jariku dapat memetik salah satu yang berpendar paling terang. “Sirius,” suara Abimanyu terdengar di sampingku. Ia berdiri cukup dekat, seraya mengekori perhatianku pada bintang semu yang berada di antara ibu jari dan telunjuk.  “Akan kuceritakan kisah di balik eksistensinya.” Kupandang ia dan ters

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN