Bila mampu, aku akan menghitung berapa jumlah tetes hujan yang ditumpahkan langit siang ini. Di balik kaca jendela, aku mengamati hujan dan keadaan di luar, seraya membenamkan dagu di atas sofa yang hangat. Ada sesuatu yang janggal tiap kali mataku menyoroti setiap sudut tempat yang indah ini. Di mana aku pernah mengenalinya? Aku berusaha mengingat-ingat, namun tak mampu membawa sejumput ingatan di kepala. Berbalik, aku mendengar suara Bu Shakuntala memanggilku. “Kuenya sudah siap. Kamu mau coba?” Aku tersenyum dan mengangguk. Di dapur aku mendapati Abimanyu dan Parikesit membantu ibu mereka menyiapkan hidangan. Kue dikeluarkan dari oven. Entah itu sebuah kecerobohan atau kesengajaan, Parikesit menyenggol loyang yang digenggam Abimanyu, membuatnya melompat jatuh dan menghamburkan kue-kue

