Delusi

3459 Kata

Dari puncak gedung yang baru dibangun dan belum dirampungkan seluruhnya, dapat kulihat teman-teman baruku dibariskan di depan Fakultas menerima bentakan senior yang mempertanyakan kesalahan-kesalahan mereka. Aku benci bentuk senioritas seperti itu. Daripada pening mendengar amarah tidak penting mereka, lebih baik kuamati saja sambil duduk di pinggir atap, tertawa kecil. “Kabur dari kegiatan ospek bukan ciri mahasiswa yang baik.” Suara asing yang tiba-tiba menyapa dari arah belakang seketika mengalihkan perhatianku yang semula terpaku pada jalanan di depan Fakultas menuju ke belakang. Seorang lelaki sebayaku berdiri dengan kedua tangan terlipat ke belakang. Beranjak berdiri, aku tersenyum mengamatinya dari puncak kepala sampai ujung sepatu. Sambil mengingat-ingat di mana aku pernah meliha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN