Tubuhku membeku seakan sendi-sendiku mengalami disfungsi. Padahal bukan itu yang seharusnya aku berikan sebagai respon. Hatiku memerintahkan sebaliknya, sedangkan bisikan asing yang bercokol dalam kepalaku menolak mentah-mentah. Namun nyatanya, aku bergeming, bahkan tak berkedip sedetik pun, meski aku rasakan sengatan di dalam jantungku yang berdebar tiba-tiba ketika bibirku bersinggungan dengannya. Terhitung baru dua detik sebelum kedua tanganku terangkat menyentuh dadanya. Aku mundur menjauh, membuat ia menatapku penuh tanda tanya. Respon penolakan yang barangkali melukainya—hal itu tampak di sepasang mata malaikatnya. “Kenapa?” tanyanya. Aku menggeleng perlahan, memikirkan alasan yang tepat. Aku tak bisa jatuh dalam pelukan seorang Lelananging Jagad. Meski bila dewata menjadi

