Kakiku bergerak secara spontan menendang Nala sekuat mungkin sampai menggelinding dan jatuh dari atas ranjang. Ia mengumpat sejadi-jadinya dalam berbagai bahasa. “Jancuk! Merde!” Bangkit dari lantai, diusapnya tangan serta dahinya berkali-kali. Ia menatapku seakan-akan aku telah mematahkan tulang-tulangnya. Harusnya aku yang memberikan tatapan horor seperti itu karena ia dengan kurang ajar masuk kemari dan tidur... sambil memelukku?! Siapa yang bisa memastikan aku tak diapa-apakan dirinya malam itu! “Sakit, bego!” “Ngapain kamu di sini?” Bantal di dekatku menjadi sasaran amukan. Aku remas bantal itu dan memukul-mukulkannya ke arah Nala yang lagi-lagi memekik. Kudorong ia sampai keluar dari pintu kamar yang menjeblak terbuka. Inilah mengapa aku benci tidur dengan pintu yang tak dikunci.

