Paradoksal

5117 Kata

Kakiku bergerak secara spontan menendang Nala sekuat mungkin sampai menggelinding dan jatuh dari atas ranjang. Ia mengumpat sejadi-jadinya dalam berbagai bahasa. “Jancuk! Merde!” Bangkit dari lantai, diusapnya tangan serta dahinya berkali-kali. Ia menatapku seakan-akan aku telah mematahkan tulang-tulangnya. Harusnya aku yang memberikan tatapan horor seperti itu karena ia dengan kurang ajar masuk kemari dan tidur... sambil memelukku?! Siapa yang bisa memastikan aku tak diapa-apakan dirinya malam itu! “Sakit, bego!” “Ngapain kamu di sini?” Bantal di dekatku menjadi sasaran amukan. Aku remas bantal itu dan memukul-mukulkannya ke arah Nala yang lagi-lagi memekik. Kudorong ia sampai keluar dari pintu kamar yang menjeblak terbuka. Inilah mengapa aku benci tidur dengan pintu yang tak dikunci.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN