Bunyi musik di luar terdengar sampai di kamar penginapan. Aku menatap lurus menuju langit-langit. Rasa sakit pada pergelangan kaki tak lagi menjadi prioritasku, sungguh terkalahkan oleh ketakutan dan kecemasan akibat kejadian tadi. Anonim gila. Anonim sinting! Ia mengikutiku sampai kemari. Artinya, ia tak pernah meninggalkanku sendiri. Batinku berkata ia sengaja mengamatiku dari jauh dan bertindak di saat-saat yang ia suka. Lantas, siapa anonim ini? Benarkah ia pengancamku yang dikirim si bandit? Bola mataku melirik menuju karpet di bawah sana. Nala yang patuh kusuruh tidur di bawah sedang duduk bersila, sibuk mengutak-atik laptopnya seraya mendengarkan musik dari earphone. Sesekali ia menggigit ibu jarinya, menyatukan alis dan memasang tampang serius. Apa yang kiranya ia kerjakan sampai

