bc

100 Keinginan Sebelum Pergi

book_age18+
43
IKUTI
1K
BACA
family
HE
love after marriage
friends to lovers
heir/heiress
sweet
kicking
like
intro-logo
Uraian

Anna mencintai Adam. Menjadi istri yang baik dan juga menantu yang patuh pada mertuanya. Namun sikap penurutnya tak pernah bersambut baik. Dua tahun menikah bahkan Adam tak pernah menyentuhnya. Namun Anna tidak pernah menyerah untuk terus meraih hati Adam, berharap pria dingin itu kelak akan mencintainya. Hingga suatu hari vonis dokter meruntuhkan harapannya dan membuatnya merasa hidup yang dia lalui hanya sia- sia.

"Hasil dari biopsi sumsum tulang dan tes darah menunjukkan bahwa anda mengidap Leukemia Limfoblastik Akut, atau yang sering disebut kanker darah."

Mengingat kesempatan hidupnya yang hanya tersisa sedikit Anna mulai mencatat semua keinginan hidup yang belum pernah terlaksana karena harus menjaga image sebagai istri yang sempurna. Dan mulai sekarang dia hanya akan melakukan semua sesuai keinginannya. 99 keinginan sudah tercatat termasuk bercerai dari Adam suami dingin dan tak berperasaan.

Tapi siapa tahu keinginan ke 100 dia justru ingin terus bersama Adam. Hidup lebih lama bersama suaminya yang ternyata tak sedingin yang dia kira.

chap-preview
Pratinjau gratis
Vonis Hidup
"Bagaimana dengan kondisi saya Dokter? Kenapa tubuh saya akhir- akhir ini banyak lemas dan tidak bertenaga, mudah lelah dan juga mimisan?" Di sebuah ruang pemeriksaan bernuansa putih seorang wanita tengah menunggu hasil tes pemeriksaan lengkap yang dia lakukan. Di depannya seorang dokter menatap dengan tersenyum dan berwajah tenang seolah tak ada yang perlu dia khawatirkan. Sementara Anna Ayudya, seorang wanita berusia 25 tahun menatap cemas pada dokter di depannya. Menunggu hasil tes yang dia lakukan dua hari kebelakang. Beberapa minggu terakhir tubuhnya terasa lemas dan mudah lelah, apalagi terkadang hidungnya mengeluarkan darah setelah bekerja berlebihan. Awalnya dia mengira hanya kelelahan biasa, tapi rupanya hal itu terus berlangsung hingga akhirnya dia memutuskan untuk memeriksakan diri. "Saya mengerti kekhawatiran anda ..." Dokter menjeda ucapannya, lalu menatap bias wanita di depannya yang begitu cemas. Namun dia masih menatap tenang berharap berita yang akan dia sampaikan tak membuat wanita di depannya putus asa. "Hasil dari biopsi sumsum tulang dan tes darah menunjukkan bahwa anda mengidap Leukemia Limfoblastik Akut, atau yang sering disebut kanker darah." Wajah Anna berubah tertegun. Terkejut bukan main dengan apa yang dokter ucapkan. "Kanker darah?" ucapan itu meluncur masih dengan tatapan kosong dan perasaan hancur. "Ya, Leukemia. Ini adalah kondisi di mana sumsum tulang memproduksi sel darah putih yang abnormal dan tidak berfungsi, sehingga sel-sel sehat lainnya jadi tertekan. Ini mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi dan membawa oksigen, membuat tubuh Ibu lebih mudah lemas dan lelah, bahkan sakit—" ucapan dokter selanjutnya lebih terdengar seperti dengungan menyakitkan di telinga Anna. Matanya mengerjap pelan seolah harapan di depan sana memudar dan tak terlihat. "Lalu... bagaimana pengobatannya, Dok?" dengan suara yang nyaris tak terdengar Anna bertanya. Menatap penuh harap pada dokter yang masih tersenyum tenang. "Kemoterapi adalah langkah awal untuk mengontrol sel kanker ..." Dokter kembali menjeda ucapannya, lalu menghela nafasnya berat. Meski masih tersenyum tapi Anna semakin melihat tak ada yang baik sama sekali dari ucapan Sang Dokter. "Namun, melihat kondisi sel darahnya yang sudah cukup agresif, pilihan pengobatan paling efektif untuk kesembuhan jangka panjang adalah Transplantasi Sumsum Tulang." Anna memejamkan matanya. Bahunya melorot lemas. Saat matanya terbuka tatapannya lebih putus asa dari sebelumnya. "Transplantasi sumsum tulang?" ucapnya dengan nada yang semakin sengau. Sekuat tenaga dia menahan air matanya yang ingin keluar. "Ya, tujuannya adalah mengganti sumsum tulang anda dengan sumsum tulang yang sehat dari pendonor." Ada sedikit harapan yang memancar dari mata Anna, hingga dokter kembali berucap, "Namun, ini memerlukan donor yang cocok." Secepat kilat harapan itu kembali memudar. "Bagaimana saya mendapatkannya, Dokter?" "Bisa dari keluarga, bisa juga dari luar. Tapi yang paling ideal adalah saudara kandung. Kita perlu mencari 'pasangan' yang cocok di tingkat sel." Mendengar kata keluarga membuat tangis Anna runtuh seketika. Dia tidak memilikinya, dia sebatang kara tanpa keluarga dan saudara. Jadi bagaimana dia bisa mendapatkannya? "Apa yang terjadi kalau saya gak mendapatkan yang cocok, Dok?" Melihat tangis di wajah Anna dokter kembali menghela nafasnya. "Tanpa transplantasi ini, kemungkinan kambuh sangat tinggi. Lalu akan semakin parah." "Jadi tetap harus mencari pendonor?" "Betul. Kita akan mulai dengan tes kecocokan di keluarga inti. Jika tidak ada, kita akan mendaftar di bank donor sumsum tulang nasional. Ini memang proses yang panjang dan butuh banyak dukungan, tapi ini harapan terbaik." "Lalu bagaiman kalau tidak ada yang cocok? Saya juga tidak memiliki keluarga." Dokter tertegun dengan wajah berubah iba. Namun dia menepuk pundak Anna untuk menguatkan. "Seperti yang saya bilang kita bisa mencari di bank donor. Jangan putus asa." "Kalau masih tidak ada? Berapa lama saya bisa bertahan?" Anna mendongak dengan menghapus air matanya. Dia harus tahu bagian yang paling buruknya, bukan? "Kita bisa berusaha dahulu—" "Berapa lama dokter?" potong Anna dengan cepat. Dia tak ingin mendengar ucapan penenang yang sia- sia. Dia butuh kepastian. Dokter menghela nafasnya semakin berat. "Kurang lebih tiga bulan. Tapi seperti yang saya katakan anda jangan putus harapan kita bisa berusaha. Jangan berpikir ini akhir dari segalanya. Seperti yang saya katakan kita bisa mulai dengan kemoterapi untuk mencegah sel terus berkembang." "Saya ngerti, Dokter. Akan saya pikirkan." Anna memilih beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan dokter. Tubuhnya terasa lemas dengan kaki yang seolah tak menapak di lantai. Beberapa kali kakinya yang mengenakan hells kehilangan pijakan dan hampir terjatuh. Tangis tak terbendung keluar begitu saja dengan d**a yang terasa sesak dan nyeri. Hanya tiga bulan? Tiga bulan waktu tersisa, dan dia akan tiada. ... Saat tiba di rumah tatapan Anna masih kosong, dengan harapan yang hilang. Vonis dokter meruntuhkan semua harapan yang dia bangun selama ini. Berpengangan pada tembok Anna melepas hells-nya lalu menggantinya dengan sandal rumahan yang hangat. Sandal berbulu lembut dan empuk kini terpasang di kakinya yang masih tak merasakan apapun. Bukan hanya kaki bahkan seluruh tubuhnya terasa dingin. "Bu Anna, jam pulang Pak Adam hampir tiba, waktunya anda bersiap," ucapan seorang pelayan menghentikannya, langkahnya yang hendak menaiki tangga tertegun. Anna menunduk menatap telapak tangannya yang bergetar. Apa saja yang sudah dia lakukan selama ini? Banyak. Banyak hal yang sudah dia lakukan untuk orang lain. Tapi tidak ada yang benar-benar untuk dirinya sendiri. Mata Anna berpendar ke seluruh ruangan. Rumah besar dan mewah dengan beberapa pelayan yang bekerja. Namun untuk Adam suaminya dia selalu melakukannya dengan tangannya. Menyambut dengan senyuman, menyiapkan segala kebutuhan badan bahkan perut selalu Anna lakukan sendiri. Berharap suaminya melihatnya dan mencintainya dengan berjalannya waktu. Namun, hingga kini dua tahun pernikahan Adam tetap dingin dan tak berperasaan padanya. Lalu apa? Hanya tiga bulan tersisa dan dia masih harus merendahkan harga dirinya? Anna tertawa. Tawa pedih dan juga lucu sekaligus. Betapa konyolnya dia selama ini. Menyiakan hidupnya hanya untuk berakhir mati dalam tiga bulan. Dua puluh lima tahun yang sia- sia. Tawa itu masih berderai membuat para pelayan menatapnya bingung. "Bu Anna?" panggilnya lagi. Tawa Anna terhenti lalu menoleh pada pelayan yang masih menunggu dengan berdiri patuh. "Aku tidak mau masak," ucap Anna. Pelayan menatap heran. Namun dia tersenyum saat mengerti. "Saya ngerti, Bu. Bapak gak pulang ya, hari ini?" Anna menggeleng. "Mulai sekarang dan seterusnya saya gak akan masak lagi. Bahkan meski dia pulang." Pelayan menatap bingung, tak biasanya majikannya begitu. Bahkan saat Adam harus pulang malam Anna tetap menunggu dan menyiapkan makanan. Menghangatkan makanan yang dingin agar siap saat Adam menginginkannya. Meski nyatanya masakannya tetap tak membuat Adam tertarik dan memakannya. Hingga keesokan harinya masakannya hanya akan berakhir di tempat sampah Anna kembali tersenyum. Sudah waktunya dia memikirkan dirinya sendiri. Langkah yang awalnya lesu menjadi tegap seolah menemukan harapan baru. Meski tidak hidup selamanya dia akan membuat tiga bulan untuk dirinya sendiri. Benar! Tidak ada waktu untuk berputus asa. Semua manusia akan mati. Mati ya mati saja. Pilihannya hanya dua. Mati dengan bahagia, atau mati sia- sia.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook