Suami Tidak Mampu

1020 Kata
Anna melepas rangkulannya saat melihat di dalam rumah sudah ada seluruh keluarga, dan tentu saja masing-masing menunjukan wajah terkejut saat melihatnya. Saat ini ponsel Adam berdering membuatnya segera menerima panggilan dengan menjauh darinya. Anna menatap kepergian Adam. Pria itu memang sangat sibuk. Bisa di bilang hidupnya hanya tentang pekerjaan. Bahkan saat istrinya menunggu di rumah, dengan tak peduli Adam memilih pekerjaan. Anna bahkan sampai berpikir apa pria itu tidak mampu melakukan ‘itu’ sampai tidak pernah menyentuhnya? Normalnya seorang pria, mau ada cinta atau tidak, tapi kalau sudah berpenampilan seksi pasti di terjang, apalagi istrinya sendiri. Tapi pria itu sama sekali tak tergoda meski Anna sudah memakai pakaian kurang bahan dan tipis. Anna bahkan harus rela menahan malu karena hal itu. Merasa dirinya seperti w*************a yang tak punya harga diri. Ya, semurahan itu dia dulu. Tak peduli meski Adam terus menolaknya. “Anna!” Anna menoleh dan menemukan Rima disana. Ekspresi terkejut tak bisa dia sembunyikan saat melihatnya. “Apa- apaan kamu?” Rima menyentuh rambut merahnya juga dress press body yang berwarna senada dengan rambutnya. “Kenapa penampilan kamu jadi begini? Kamu mau membuat aku malu!” serunya dengan wajah kesal. “Kamu gak lihat semua keluarga ngeliat kamu sekarang? Pergi ganti baju sekarang! Dan apa- apaan rambut kamu ini!” Sekali lagi Rima menyentuh rambutnya. Anna masih tersenyum dan menatap Rima.”Mereka lihat aku karena aku cantik, Ma. Mereka iri karena anak- anak meraka gak ada yang secantik aku.” Rima mengerjapkan matanya mendengar nada bicara Anna yang sedikit congkak. Biasanya menantunya ini akan bicara dengan sopan dan menunduk tanpa berani menatapnya. “Kamu!-” “Rima, ini siapa?” Baru akan menyemburkan kemarahannya seorang wanita menghampiri dan menatap Anna. Saat menyadari itu Anna, dia tak bisa tak terkejut. “Anna?” Dia tertawa. “Ya ampun, Anna. Kenapa kamu jadi begini?” Rima memalingkan wajahnya malu, ucapan yang sedikit keras itu membuat yang lain juga penasaran dan menghampiri. Mira, salah satu adik ayah mertuanya. Wanita ini adalah salah satu orang yang tidak menyukainya dan kerap mencari- cari kesalahannya. Tapi, kalau di pikir- pikir lagi semua keluarga Adam memang tidak menyukainya. Mereka sama menyebalkannya dengan Mira. “Model baru, Tante,” jawab Anna dengan tenang. “Ya ampun, norak banget. Lagian kok bisa Adam biarin kamu?” Anna mengernyitkan keningnya. “Apa hubungannya sama Mas Adam, Tante. Rambut- rambut aku, kok.” “Anna kamu lupa peraturan keluarga kita? Atau jangan- jangan kamu mau di hukum?” Anna mendengus. “Kayaknya Tante deh yang harus di hukum. Udah tua bukannya jadi panutan kok malah ngomong sembarangan.” Mira terdiam dengan wajah malu sekaligus marah, hingga satu orang lagi mengeluarkan kata- kata provokasi terhadap Anna, “Rima kamu terlalu baik sama dia. Lihat dia jadi ngelunjak dan bertingkah seenaknya. Sudah mulai gak sopan. Masa datang ke acara keluarga kayak gitu. Berani juga ngomong kayak gitu sama Mira!” Irene bibi Adam yang lain angkat suara. “Lihat dong mantuku, sopan, anggun, gak neko- neko orangnya.” Dia mulai membanggakan dan membandingkan Anna dengan menantunya. Anna mendengus dia seperti melihat dirinya dulu. Menunduk dan tak banyak bicara. “Itu bukan gak neko- neko. Tapi gak berani karena punya mertua galak kayak Tante. Saya yakin dalam hatinya mengutuk Tante cepet mati biar dia bisa menikmati hidupnya,” ucap Anna dengan berani membuat semua orang membelalakan mata tak menyangka jika Anna akan bicara begitu. “Kamu!” Bibi Adam itu menunjuk tepat di wajah Anna. “Pantas sampai sekarang kamu gak hamil. Mana mau Adam sama perempuan kayak kamu! Kasar, berhati busuk! Itu pasti karma dari Tuhan!” Anna menatap tajam telunjuk itu dan dengan cepat menggenggamnya lalu meremasnya kuat. Karma dia bilang? Apa penyakitnya sekarang juga karma? Lalu kesalahan apa yang di lakukan sampai Tuhan menghukumnya. Jika benar ini hukuman, maka dia tidak akan rela mendapatkannya sendiri. Sementara orang yang lebih jahat darinya masih bisa tertawa mengejeknya.“Tante bilang aku gak sopan? Apa ini yang dibilang sopan?” Krek! Suara bunyi tulang terdengar membuat Bibi Adam menjerit kesakitan. “Akh!” “Ka— mu, apa- apaan kamu, lepas!” Anna menghempaskan tangan Irene. “Jangan pernah nujuk saya, Tante! Saya sopan sama orang yang sopan, dan sejak awal omongan Tante Irene dan Tante Mira udah ngehina saya! Perkara gak hamil kenapa gak tanya keponakan tante? Mungkin dia gak mampu?” Di sisi lain Adam yang sejak tadi menatap perdebatan mereka mengernyit merasa terganggu dengan ucapan Anna. “Wah Mas, kamu beneran gak mampu?“ ucap Harras yang berada di sebelahnya. Mereka memang sengaja memperhatikan Anna untuk melihat sampai dimana sandiwara wanita itu. Harras menggeleng pelan, lalu melihat Adam dari atas ke bawah. Sebenarnya Harras akui Anna adalah wanita cantik, mungkin jika tidak ingat wanita itu di bawa wanita jahat ke keluarga mereka dia akan jatuh cinta. Tapi meski begitu dia tidak akan menyiakan jika Anna akan melayaninya jika dia jadi Adam. Atau apakah Adam memang tidak mampu? Adam mengepalkan tangannya yang dia simpan di saku celananya lalu melangkah mendekat dengan tenang. Bibi Adam yang mendengar ucapan Anna nampak gelagapan, lalu menatap pada Rima. “Masa kamu mau diam saja, Rima. Lihat dia sudah berani menyakiti aku! Aw, akh tanganku!” “Benar itu Rima. Kalau di biarin bisa- bisa dia ngelunjak.” Mira menambahkan dengan berapi-api. Mata Rima menatap tajam. “Anna cepat minta maaf!” “Kenapa harus minta maaf, toh aku gak salah,” ucap Anna acuh. Rima meramas lengan Anna dengan berbisik. “Jangan bikin aku malu, Anna! Cepat minta maaf! Bila perlu berlutut!” Tangan Rima mendorong bahu Anna hingga Anna terhunyung. Beruntung seseorang menangkapnya yang hampir terjatuh, hingga dia masih terselamatkan dari posisi memalukan. “Kamu gak papa?” Anna menoleh dan menemukan Adam. Pria itu menolongnya? “Aku gak papa.” Anna menegakkan tubuhnya setelah menyingkirkan tangan Adam lalu menatap Rima dengan tajam. Wanita itu! Jika dulu dia segan karena dia adalah ibu Adam. Tapi sekarang dia tak peduli. Dia tak takut bahkan meski nanti wanita itu akan marah. Akan dia lawan habis- habisan. Lagi pula kenapa harus takut, toh dia akan mati sebentar lagi. Baru akan maju Adam justru menahannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN