“Haruskah kamu mengatakan itu di depanku?” Mata Rania berkaca- kaca. Saat melihat Adam. Ada sebuah harapan jika dia bisa kembali. Bahkan kepulangannya yang sudah terencana sejak satu bulan lalu dia nantikan sebab ada Adam disini. “Apa maksud kamu?” “Adam, aku tahu pernikahan kamu karena terpaksa, jadi—” “Terpaksa atau tidak Anna tetap istriku. Dan seharusnya kamu gak perlu mengatakan kamu mantanku seolah itu sebuah kebanggaan.” potong Adam. “Adam aku—” “Hidupku sekarang ada dimasa kini bersama istriku. Tidak akan aku banggakan siapa mantanku.” Adam terus memotong ucapan Rania membuat Rania semakin menampakan kesedihan. “Aku tahu kamu masih marah, Adam. Tapi kamu gak bisa sekejam itu. Kamu tahu aku pergi untuk cita- citaku. Seharusnya kamu mengerti, dan menunggu aku. Tapi kamu bahkan

