Anna melajukan mobilnya pelan. Melihat cuaca yang mulai hujan dan jarak pandang yang terbatas Anna tak bisa gegabah. “Manusia- manusia munafik,” ucapnya kesal dengan memukul setir. Air mata tiba-tiba menetes, namun dengan cepat dia mengusapnya. Dia tak ingin menangis, tak sudi kehilangan air matanya yang berharga. Tapi tetap saja menghadapi pengkhianatan itu menyakitkan. Apalagi Anna menganggap Lia seperti saudaranya sendiri. Setelah melaju cukup jauh dari vila Anna mengernyitkan keningnya saat melihat kemacetan di depannya hingga dia pun menginjak rem dengan pelan agar berhenti perlahan. “Macet parah.” Anna melihat sekitarnya. Mobil- mobil di depannya mulai melaju perlahan, begitu pun dirinya. Namun baru beberapa meter mobil melaju dia harus kembali berhenti sebab mobil di depannya

