Anna menatap pada resepsionis sekali lagi. Sudah 10 menit dia dan Lia berdiri disana untuk memesan unit vila yang akan mereka tinggali dua hari ke depan. Namun resepsionis bilang vila mereka penuh dan tak tersisa satu pun.
“Kau yakin tidak ada yang akan pergi hari ini?” tanya Anna kembali memastikan.
“Maaf, Bu. Paling cepat besok.” Anna menghela nafasnya.
“Ngapain sih repot sewa. Kita bisa ke vila Pak Adam, kan?” Anna menoleh mendengar usulan Lia. Bisa saja dia langsung kesana. Adam memang memiliki vila pribadi selain beberapa unit yang sengaja di buat untuk di sewakan. Pria itu bahkan memilih tempat yang paling indah dari semua vila untuk dirinya. Tapi, Anna benar-benar tak ingin bersinggungan dengan pria itu. Meski Adam tidak akan peduli, tapi Anna tidak mau Adam tahu kalau dia datang ke sana untuk liburan. Lagi pula itu vila pribadi Adam.
“Kita cari tempat lain aja, kita cari hotel di sekitar sini.” Anna berbalik dan mendorong kopernya. Namun Lia segera menahan.
“Jauh- jauh kesini gak jadi gitu? Anna aku udah luangin waktu loh buat kesini. Susah payah aku mau lihat gimana keindahan vila ini. Kamu malah ajak aku nginep di hotel?”
“Ya terus? Aku udah bilang kan sebelum kesini kita harus konfirmasi dulu ada vila yang kosong atau enggak. Kamu bilang gak usah, langsung aja. Sekarang kalau udah begini gimana? Mau balik udah malem juga. Ya udah kita nginep semalem di hotel terus kesini lagi besok nunggu vila yang kosong,” tawar Anna.
“Gak bisa!” Anna mengerutkan keningnya mendengar suara Lia yang sedikit keras. “Ma—ksudku kenapa kita gak coba dulu ke vila Pak Adam. Gak mungkin kan kamu gak diizinin masuk. Kamu istrinya loh?”
“Tapi, Li—” Tak peduli protes Anna, Lia menarik Anna untuk segera pergi.
“Pelan- pelan dong, Li.” Anna bahkan harus mengimbangi langkah Lia yang terburu- buru.
“Ya harus cepet, gimana kalau telat.”
“Hah? Telat? gimana maksudnya?” Langkah Lia terhenti dan tersenyum.
“Maksudku ini udah malem, kita harus istirahat.”
Anna masih mengerutkan keningnya bingung, namun dia tetap mengikuti langkah Lia hingga mereka tiba di vila Adam.
Anna melipat tangannya di d**a, saat ini mereka berdiri di depan pintu dengan Lia yang menatap benda itu dengan penuh senyuman.
Wajah Anna semakin berkerut. Namun kebingungannya tentang tingkah Lia masih tak bisa dia ungkapkan. “Sekarang gimana kita masuk?” Tentu saja Anna tak memiliki kunci akses vila ini. Meski dulu dia juga pernah menginap disana, tapi saat itu dia datang dengan Adam.
Dan seperti ketidak pedulian pria itu, Adam tidak membawanya ke sana dan memilih vila lain untuknya tinggal seorang diri.
“Tunggu bentar.” Lia justru mengetuk pintu beberapa kali menambah rasa bingung di kepala Anna semakin bertambah.
“Ngapain ngetuk, emang ada orang?” Namun pertanyaan Anna segera terjawab saat pintu terbuka dari dalam.
“Pak Adam.” Anna tertegun saat seseorang yang muncul di balik pintu adalah Adam.
Mata tajam pria itu menatapnya juga memperhatikan koper yang di pegangnya.
“Ada apa?” tanyanya dengan dingin.
“Kami kesini mau liburan, tapi gak bagian vila. Vilanya penuh, bisa kan kita nginep disini?” Tentu saja bukan Anna yang bicara melainkan Lia.
Sementara Anna menarik Lia mundur dua langkah, “Lia, mending kita cari hotel aja, ya?” Bukan persetujuan yang Anna dapatkan Lia justru menyingkirkan tangan Anna lalu mendekat kembali pada Adam yang masih berdiri di depan pintu.
“Boleh kan, Pak Adam?” tanyanya lagi. “Masa Pak Adam tega, ini udah malem. Mau cari hotel pun susah.”
Adam tak bicara dan hanya membuka pintu lebar membuat Lia semakin melebarkan senyumnya.
Tanpa menunggu Anna, Lia mengikuti Adam untuk segera masuk.
Anna menghela nafasnya lalu menarik kopernya untuk ikut masuk. Tiba di dalam rumah bukan hanya Adam yang ada disana. Ada Harras dan Reihan juga. Di depan mereka ada beberapa berkas berserakan juga laptop yang terbuka. Nampak sekali mereka sedang sibuk bekerja. Keduanya menatap bingung. Namun Anna juga tidak bermaksud menjelaskan.
“Wah ada Pak Harras juga?” Lia tersenyum pada Harras dan Reihan yang dengan cepat merubah ekspresi wajah mereka.
“Mau apa kalian kesini?” tanya Harras yang langsung berdiri dari duduknya. Seperti biasa tatapan tak suka Harras layangkan pada Anna.
“Dimana aku bisa tidur?” Tak ingin berhadapan dengan ketiga pria itu Anna memilih bertanya tanpa basa- basi.
“Pilih saja dimana kamu mau,” ucap Adam acuh tak acuh.
Anna mengangguk dan segera menarik kembali kopernya, namun baru beberapa langkah dia menjauh sebuah suara terdengar di belakangnya.
“Di lantai atas kamar kami.” Itu suara Harras.
Tanpa menoleh Anna melanjutkan niatnya untuk mencari kamar di lantai ini.
…
“Mas, kok mereka bisa kesini?” Harras menatap penasaran.
“Gak tahu.”
Harras berdecak. “Bisa- bisanya dia datang sama wanita genit itu. Kamu lihat tatapannya itu kayak cewek kurang belaian.” Reihan tertawa kecil untuk menanggapi ucapan Harras. “Bener, kan, Rei?”
“Pak Harras emang berpengalaman.”
Harras berdecak. “Lihat aja tatapannya yang menatap Mas Adam. Dia kayak punya maksud tertentu …” Harras terdiam sebentar seolah berpikir. “Atau jangan- jangan kedatangan Anna kemari juga karena ada maksud tertentu? Mas gimana kalau dia disuruh wanita itu untuk memata- matai kerjaan kita?” Kali ini Adam mendongak dan menatap Harras. Bisa saja yang Harras katakan benar, dia tak tahu kenapa Anna bisa tiba- tiba ada disana.
…
Anna menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 10 malam. Munurunkan kakinya ke lantai dan mengenakan sandal bulu untuk segera keluar dari kamarnya.
Saat menuruni tangga satu persatu Anna melihat Adam duduk di sofa dengan beberapa kertas berserakan juga laptop di pangkuannya.
“Kamu belum tidur?” tanya Adam saat dia menginjak tangga terakhir.
Tanpa menoleh Anna hanya bergumam dan melangkah ke arah dapur. Anna membuka lemari es yang nampak penuh. Tentu saja pemilik villa akan datang sudah pasti semua sudah tersedia.
“Aku boleh minta makanan?”
“Ambil yang kamu mau.”
Anna mengambil sebotol s**u lalu sekotak buah yang sudah di kupas. Benar- benar sudah tersedia dan siap santap.
Anna mengayunkan langkah ke arah televisi lalu duduk di sofa tak jauh dari Adam yang masih fokus dengan pekerjaannya.
Adam melepas kaca mata bacanya dan menoleh saat mendengar Anna tertawa dan rupanya wanita itu sedang menonton acara komedi. “Apa tujuan kamu kesini sebenarnya?” Anna menoleh. Gerakannya yang hendak menyuapkan buah ke mulutnya terhenti. “Kamu mengikuti aku?” tanya Adam lagi.
“Apa?”
“Iya, kan. Kamu mengikuti aku sampai kesini? Aku tahu kamu menyukai aku, tapi Anna bisakah kamu jangan terlalu menampakan diri? Apa sebagai wanita kamu tidak memiliki rasa malu?”
Anna mendenguskan tawa. Lalu menggerakan tubuhnya untuk menghadap Adam. Tidak disangka pria dingin itu bisa berkata panjang lebar seperti sekarang. Dan poin penting dari ucapan Adam adalah pria itu tahu dia memang menyukainya, tapi sengaja mengabaikannya.
Pria tak berperasaan!
“Sepertinya aku harus mengatakannya. Dengar Pak Adam. Ya, kamu benar aku memang tidak punya rasa malu karena menyukai kamu selama ini. Tapi tenang saja mulai sekarang aku tidak akan menyukai kamu lagi. Aku juga menyadari kebodohanku.”
“Apa?”
“Jadi mulai sekarang aku gak akan menyukai kamu lagi. Aku bersumpah akan menghapus perasaanku. Kamu juga bisa tenang kedatangan aku kesini murni karena mau liburan.”
Anna menoleh kembali dan menatap televisi dengan acuh. Sementara Adam masih menatap tak percaya dengan apa yang Anna katakan. Bagaimana dia mengingat saat Anna setiap hari mengejarnya bahkan kata- kata manis yang selalu dia ucapkan.
Ada apa dengan wanita ini? Benarkah dia sudah berubah dan tidak menyukainya lagi?
Tapi kenapa Adam justru merasa tak suka.