Brak!
Sabrina dapat mendengar suara benturan cukup keras. Sesaat kemudian, Fadli ambruk sambil merintih kesakitan memegangi kepalanya. Sekilas Sabrina melihat, Raya seperti kebingungan, dan akhirnya Sabrina sadar jika Raya adalah pelaku yang membuat Fadli meringis kesakitan saat ini.
Sabrina tidak ingin tahu apa motif Raya. Yang jelas, saat ini ia harus pergi secepat mungkin sebelum Fadli bisa menangkapnya.
Sabrina pergi dengan keadaan yang kacau. Tibanya di dekat lift, Fadli berhasil menangkap lengannya. Sabrina berusaha berontak, tapi kekuatannya kalah telak.
Duag!
Sebuah pukulan berhasil mengenai kepala Fadli yang lagi-lagi membuat pria itu kesakitan. Lalu, Sabrina bisa merasakan sebuah tarikan kuat pada tubuhnya hingga tangan Fadli terlepas darinya.
“Berani kau menyentuhnya, maka kau akan mati!”
Napas Sabrina yang tadinya tidak beraturan, kita seketika terhenti. Dadanya sampai terasa sesak menyadari siapa pria yang sudah menolongnya saat itu. Secara slow motion, kepalanya mendongak. Dan dugaannya benar. Hal yang paling ia takutkan akhirnya terjadi.
“Tidak, aku mohon, jangan!” cicit Sabrina lirih.
“Lepaskan dia! Dia calon istriku dan kamu nggak tahu apa-apa soal kami!” sentak Fadli, menatap tajam pria yang menyelamatkan Sabrina.
“Calon istri? Benarkah itu, Sabrina?” tanya si pria penolong.
Sabrina bungkam. Ia tidak tahu mana yang lebih baik. Antara kembali pada Fadli, atau mengikuti alur yang dibuat oleh penyelamatnya.
“Sabrina! Kembali padaku!” sentak Fadli.
Sabrina memejamkan matanya erat. Ia teringat kembali dengan apa yang hampir saja menimpanya beberapa detik yang lalu.
“Tidak! Dia bukan calon suamiku dan dia-”
“GADIS SIALAN!” Fadli yang emosi ingin mencengkram tangan Sabrina. Namun, pria yang tadi menyelamatkan Sabrina langsung menangkap tangan Fadli dan memelintirnya.
“ARGH!”
“Masih berani mau menyentuhnya?” tantang pria itu.
“S siapa kau?”
Pria itu tersenyum miring. “Rafa. Rafa Aswantara. Aku yakin anak pengusaha sepertimu tidak sebodoh itu untuk tahu namaku, kan?”
“Ap apa?” kaget Fadli. Ia langsung menarik tangannya lepas dari pria bernama lengkap Rafa Aswantara itu.
“Jauhi dia, atau aku pastikan kamu dan keluargamu akan hancur dalam waktu kurang dari satu minggu!” ancam Rafa.
Sabrina hanya memejamkan mata saat akhirnya Fadli pergi darinya. Ia sadar, ia belum sepenuhnya terbebas dari bahaya. Bahkan, mungkin saat ini bahaya yang lebih besar sedang menghadangnya.
“Aku sudah menyelamatkanmu. Tidak mau mengatakan terima kasih?” ucap Rafa pada Sabrina.
Tubuh Sabrina bergetar. Ia berusaha menghindari beradu tatap dengan penyelamatnya itu
.
“Sabrina-”
“Dari mana Kak Rafa tahu kalau aku di sini? Bagaimana bisa-”
“Kebetulan? Mungkin ini takdir yang pertanda baik untuk kita? Bagaimana menurutmu?”
Sabrina menggigit bibir bawahnya. Ia segera melepaskan tangannya dari genggaman Rafa. “Aku mohon, jangan muncul lagi! Aku takut sama Kakak. Aku nggak mau kita bertemu lagi seperti ini!” pinta Sabrina, sebelum akhirnya ia memasuki lift sendirian.
Saat di perjalanan pulang, ingatan Sabrina kembali melayang ke kenangan bertahun-tahun yang lalu. Rafa Aswantara bukanlah nama yang asing bagi Sabrina. Mereka bahkan pernah tinggal di bawah atap yang sama selama bertahun-tahun. Tumbuh bersama sebagai orang yang saling menyayangi - kakak beradik.
Sabrina sangat menyayangi Rafa. Rafa selalu melindunginya dari apapun meski mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Sabrina adalah anak angkat di keluarga Aswantara. Tetapi mereka tidak pernah menganggap Sabrina sebagai anak angkat. Mereka menyayangi Sabrina seperti mereka menyayangi putra tunggal mereka sendiri. Hingga pengakuan mengerikan yang keluar dari mulut Rafa akhirnya didengar oleh orang tuanya.
“Aku suka Sabrina. Aku mau Sabrina menikah denganku setelah dia lulus SMA nanti.”
“Rafa, dia adikmu. Lagi pula, kamu masih harus fokus kuliah. Jangan berpikiran macam-macam! Fokus saja pada studi kamu! Nanti kamu juga bakalan bertemu dengan orang yang sepadan sama kamu.”
“Kami sayang Sabrina, tapi bukan berarti kami bisa menerima Sabrina sebagai istri kamu. Dia adik kamu, Rafa. Terlebih lagi, latar belakang keluarganya tidak jelas. Jika kamu menikahinya, maka kita harus menerima latar belakangnya sebagai anak terbuang. Mama nggak mau itu. Bagi Mama, Mama cuma mau kenal Sabrina sebagai Sabrina Aswantara - putri kami.”
“Rafa tidak mau tahu. Empat bulan lagi Sabrina lulus SMA. Dan Rafa akan segera menikahinya. Soal studi Rafa, Papa Mama nggak perlu khawatir. Rafa akan tetap mewujudkan ambisi kalian dalam hal itu. Tapi soal Sabrina, Rafa nggak mau kalian ikut campur.”
Sabrina yang saat itu masih berusia delapan belas tahun, mendengar percakapan itu. Ia turut terkejut mendengar jika sang kakak memiliki perasaan terlarang terhadapnya. Ia sadar, jika Rafa selama ini memang cukup protektif padanya. Bahkan Rafa pernah berkelahi dengan teman sekelasnya hanya karena pria itu tampak akrab dengan Sabrina. Tapi Sabrina pikir itu hanya karena Rafa ingin melindunginya sebagai seorang kakak.
Sampai di rumahnya, Sabrina memejamkan mata. Ia tahu, setelah ini sang ibu pasti akan mencari jalan lain untuk menjual Sabrina. Rencana pernikahannya dengan Fadli pun, terjadi karena Fadli bersedia memberi mahar sebesar lima puluh juta untuk Sabrina. Semua hanya karena uang - ibu Sabrina sangat terobsesi dengan uang.
Keadaan rumah tampak sepi. Mungki, ibu Sabrina tidak pulang malam ini. Ia memang tak jarang juga tinggal di rumah suami barunya, meninggalkan Sabrina di kontrakan kecil mereka sendirian.
“Ini lebih baik dari pada aku harus dengar omelan Ibu malam-malam,” gumam Sabrina.
Sabrina membersihkan dirinya. Sebelum tidur, ia memastikan semua kunci dan jendela telah tertutup rapat. Lalu, ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal untuk menghalau udara dingin di tengah musim kemarau itu.
“Pa, Papa manggil Sabrina?” tanya seorang gadis dengan pakaian tidurnya, memasuki ruang kerja sang ayah angkat.
“Dua hari lagi pengumuman kelulusan kamu, kan?” tanya Anton - si ayah angkat Sabrina.
Sabrina menatap Pratiwi yang merupakan ibu angkatnya. Wajah wanita paruh baya itu memancarkan kesedihan dan ketidak relaan. Perasaan Sabrina pun mulai tidak enak.
“Iya, Pa.”
“Dan selama ini, kamu selalu bilang akan balas budi dengan kebaikan kami yang sudah mengadobsimu sewaktu kamu kecil,” imbuh Anton.
“Iya, Pa. Sabrina pasti akan balas kebaikan keluarga ini pada Sabrina. Papa sama Mama sabar ya, Pa, Ma, Sabrina pasti bakal jadi orang sukses buat kalian. Lalu Sabrina akan-”
“Sabrina …”
Sabrina menelan salivanya meski terasa sulit. Debar jantungnya sudah tidak menentu. Ia merasa, kali ini ayah yang sangat ia sayangi itu akan mengatakan sesuatu yang mungkin dapat melukai hatinya.
“Jika kamu ingin balas budi pada kami, ada satu hal yang bisa kami lakukan,” kata Anton.
“Apa itu, Pa?”
“Jauhi Rafa! Tolong, pergi jauh dari hidup Rafa, Sabrina! Kami memang menyayanimu. Tapi, kami juga ingin yang terbaik untuk anak kesayangan kami. Dan itu bukan kamu,” jawab Anton.
“Maksud Papa apa? Sabrina nggak ngerti. Kenapa Sabrina harus jauhin Kak Rafa? Sabrina sayang sama Kak Rafa, Mama dan Papa. Mana mungkin Sabrina bisa?”
“Rafa gila karenamu, Sabrina. Dan kami tidak ingin kegilaannya semakin parah karena kehadiranmu.”
Pratiwi yang sejak tadi diam, berjalan ke arah Sabrina. Ia genggam tangan anak gadisnya itu. “Ini bukan keputusan yang mudah buat Mama dan Papa. Kami ngelakuin ini bukan semata-mata untuk Rafa saja. Tapi, kami juga ingin kamu merasakan kebebasan. Selama ini, sikap Rafa terhadapmu sudah sangat kelewatan. Kamu bahkan mungkin tidak akan pernah menemukan cinta sejati kamu kalau kamu masih berada di sini. Kami lakukan ini semua demi kalian berdua - termasuk kamu. Jadi, tolong mengerti ya, sayang!”