bc

Ranjang Hangat Wanita Simpanan

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
family
forced
second chance
pregnant
badboy
stepfather
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
bold
city
friends with benefits
addiction
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Sudah dua kali Sabrina gagal menikah. Awalnya, ia kira itu hanya karena nasib sialnya saja. Namun, ternyata, di balik itu semua ada andil seseorang dari masa lalunya yang membuat para calon suami Sabrina itu pergi. Sabrina tahu, ini adalah sebuah pertanda buruk untuk hidupnya. Meski sudah lelah ia berlari, pada akhirnya lelaki itu berhasil menemukannya kembali. Bahkan, sejak lama sebelum Sabrina menyadari kehadirannya, pria itu seolah sudah menjerat Sabrina untuk tidak bisa lepas lagi darinya. "Jika kamu ingin balas budi pada kami, ada satu hal yang bisa kamu lakukan," kata seorang pria paruh baya pada gadis muda di depannya. "Apa itu, Pa?" "Jauhi Rafa! Tolong, pergi jauh dari hidup Rafa, Sabrina! Kami memang menyayangimu. Tapi, kami juga mau yang terbaik untuk anak kesayangan kami. Dan itu bukan kamu." "Rafa gila karenamu, Sabrina. Dan kami tidak ingin kegilaannya akan semakin parah karena kehadiranmu." Di sisi lain ... "Semakin keras kalian berusaha memisahkan aku dengan Sabrina, maka akan semakin besar juga usahaku untuk mendapatkannya kembali."

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Penghianatan
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim, sepasang kekasih sedang bergumul mesra. Gadis yang kini berada di atas pria itu, terus menggerakkan tubuhnya, disertai erangan-erangan yang membuat suasana kamar terasa lebih panas. Keduanya, sedang bercinta di unit apartemen milik si pria. Hunian yang baru dibelinya sekitar enam bulan yang lalu. Pergerakan wanita itu semakin cepat. Desahannya menggelegar semakin keras hingga akhinya ia berteriak kencang di titik pencapaiannya. “Aku belum keluar,” ujar si pria. Ia membanting tubuh wanitanya. Lalu, ia mengambil alih permainan. Ia menggerakkan bagian bawah tubuhnya dengan kencang, membuat suara decitan ranjang menambah kesan erotisme ruangan itu. “Ash! Jangan cepat-cepat! Seben.tar huh, lagi!” Si wanita kembali terpancing gejolak yang dinyalakan oleh pria yang sedang menggagahi tubuhnya. Tubuhnya bergoncang hebat. “Tidak! Tunggu, huh! Kita keluar bersama. Akan aku berikan akhir yang sempurna hingga kau tidak akan bisa melupakannya,” balas si pria. Ia semakin kuat memacu tubuhnya. Hingga beberapa menit kemudian, ia bisa merasakan goa yang menyelubungi miliknya seolah merematnya, membuat ia merasa semakin dekat dengan ledakan dahsyatnya. Ditambah lagi, tubuh di bawahnya kembali menegang untuk ke sekian kalinya malam ini. “Ah! Fadli! Ah, aku sam.pai …” Si wanita keluar lebih dulu, disertai erangan nikmat atas puncak yang baru saja ia capai bersama kekasihnya. Tunggu! Kekasih? “Ahh … kau nikmat. Yah … aku keluar! Ah, Sabrina!” Si pria menyusul. Ia membasahi bagian dalam wanita itu dengan cairannya. Mereka bermain tanpa pengaman, dan ini sudah menjadi pengalaman ke sekian mereka melakukan hal ini, meski tanpa ikatan yang resmi. Si pia yang dipanggil Fadli itu mendiamkan miliknya masih tetanam di sarangnya. Tubuhnya melemah, tetapi seolah belum benar-benar puas dengan permainannya. “Sabrina … Sabrina … “ racaunya. “Uh!” Si wanita mendorong tubuh Fadli kasar, membuat penyatuan mereka terlepas. Ia menatap nyalang prianya. “Aku bukan gadis i***t itu, Fadli!” sentaknya. Fadli membulatkan matanya. Lalu, tatapannya kembali sayu saat melihat sorot luka di mata wanitanya. “Maaf. Aku nggak bermaksud. Aku-” “Sudahlah! Aku malas mendengar alibimu. Aku mau istirahat sebentar,” kata si wanita. “Raya, tunggu! Aku belum puas,” rengek Fadli. Ia menahan wanitanya untuk tetap berada di bawahnya. “Minta saja sama gadis bocohmu itu! Kau bahkan belum mencicipi tubuhnya, kan? Cepat cicipi dia! Aku mau lihat responmu setelah itu. Apakah dia bisa memberimu kepuasan lebih dariku, sampai-sampai kamu mau menerima perjodohan itu dan mengabaikanku,” kata Raya. “Aku nggak pernah mengabaikanmu. Dia cuma hiburan. Orang tuaku suka sama dia. Dan aku rasa dia cukup menarik buat ditiduri. Aku janji bakal menceraikan dia kalau aku udah bosan. Aku-” “Kamu nggak perlu susah payah menceraikan aku. Karena kita nggak akan pernah menikah!” Seruan yang berasal dari luar ruangan itu, berhasil membuat tubuh polos pasangan yang baru saja bercinta itu menegang. Si pria bergerak lebih dulu, menjauh dari tubuh wanita yang baru saja ia tiduri. Matanya terbelalak setelah ia menyadari jika aksi panasnya tadi, disaksikan oleh calon istrinya. Raya berusaha menggapai lengan Fadli, tak rela dirinya dicampakkan begitu saja setelah kenikmatan yang ia berikan pada sang kekasih. Namun, Fadli dengan satu sentakan langsung melepaskan diri. Ia bangkit, mengenakan pakaiannya secara serampangan, membuat gadis yang mengintip mereka di pintu itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Usai mengenakan pakaiannya, Fadli menghampiri gadis bersurai panjang itu. Ia hendak menyentuh lengannya, tetapi gadis itu dengan tegas menepisnya. “Nggak usah sentuh! Kamu nggak sadar betapa menjijikkannya kamu?” “Sabrina, aku bisa jelasin,” ujar Fadli. Sabrina - nama wanita manis itu - hanya tersenyum remeh. Ia melepas cincin pertunangan yang ada di jari manisnya, dan langsung melemparnya ke wajah Fadli. “Nggak perlu kamu jelasin, semua udah jelas di mata aku,” kata Sabrina. “Ini semua nggak kayak yang kamu pikir. Aku sama Raya cuma … anggap aja ini jatah mantan. Seminggu lagi kita akan menikah dan-” “DAN SEMUANYA BATAL KARENA AKU NGGAK SUDI NIKAH SAMA COWOK BERENGSEK KAYAK KAMU! Jangan kamu pikir, aku buta dan tuli, Fad! Aku lihat dan dengar semuanya! Harusnya aku tahu, apapun yang jadi pilihan Ibu, bukanlah sesuatu yang baik buat aku,” potong Sabrina. Matanya memerah, tetapi ia masih menahan diri untuk tidak menangis. “Sab, nggak bisa gini. Kita akan menikah seminggu lagi. Aku nggak mau pisah sama kamu,” ujar Fadli. “FADLI!” teriak Raya tidak terima. Apa pria itu baru saja mengalami gegar otak? Lupa dengan apa yang baru saja lelaki itu katakan pada Raya saat keduanya bergumul mesra? “Diam, dasar jalang!” sentak Fadli. “Sudah, nggak perlu akting lagi! Lebih baik kamu kembali sama dia. Karena aku udah jijik sama kamu. Wajah kalian, aroma ini, bagaimana mungkin aku bisa tahan buat meneruskan perjodohan kita kalau selamanya aku akan terus terbayang dengan suasana ini?” teriak Sabrina. “Kamu harus ingat, pernikahan kita tinggal satu minggu lagi. Nggak mungkin gagal gitu aja, Sab. Ayolah, di sini aku sedang berusaha menyelamatkan kamu juga. Kalau pernikahan ini sampai gagal, kamu yang paling rugi! Bagaimana tatapan orang-orang terhadap kamu kalau kamu sampai gagal menikah dua kali? Sebaiknya kita lanjutkan rencana kita. Plis, lupain kejadian malam ini. Aku janji nggak akan-” Plak Sebuah tamparan menjadi final dari kesabaran Sabrina. “Lupain? Satu-satunya cara biar aku bisa lupa sama apa yang baru saja aku lihat, adalah dengan nggak berurusan lagi sama kalian!” tegas Sabrina. Fadli mengerang marah. Ia memang lelaki berengsek. Ia punya lebih dari satu wanita. Bahkan, di luar Sabrina dan Raya, ia juga sering tidur dengan para wanita bayaran di luaran sana. Hanya saja, bukankah setiap pria tetap ingin memiliki istri yang baik? Istri yang bisa menjaga kesuciannya, pekerja keras, dan lembut? Dan semua itu ada pada Sabrina. Fadli mencekal lengan Sabrina. “Nggak. Aku nggak akan lepasin kamu. Kalau kamu masih ngeyel mau lepas dariku, lebih baik aku bikin kamu nggak bisa pergi dariku selamanya.” Fadli menyeret tubuh Sabrina memasuki kamar. Sabrina melawan, hanya saja tenaganya kalah telak dibanding pria itu. “Fadli, kamu mau apain dia? Apa aku aja nggak cukup? Fad, kamu-” “Minggir, dasar jalang!” Fadli menghempas Raya yang masih membungkus tubuhnya dengan selimut hingga gadis itu jatuh dari ranjang. Lalu, Fadli mendorong Sabrina untuk berbaring di sana. “Fadli, enggak!” ronta Sabrina. Ia tidak bodoh untuk membaca apa yang ingin Fadli lakukan padanya. Pria itu berusaha melecehkannya. Ia mengkungkung tubuh Sabrina, dan menciumi lehernya dengan buas. "Lepas! Tolong lepaskan aku! Berengsek! Lepas!” Sabrina terus meronta. Namun, apalah daya, pria di atasnya sudah terlanjur dikuasai oleh nafsu birahi, yang membuatnya lebih kuat dan bisa dengan mudah menahan setiap rontaan yang Sabrina lakukan. “Tuhan, tolong aku! Aku nggak mau b******n ini menodaiku. Aku nggak mau terikat dengan pria semenjijikkan dia.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.8K
bc

Too Late for Regret

read
342.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.7K
bc

The Lost Pack

read
453.6K
bc

Revenge, served in a black dress

read
156.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook