8. Menerima nasib

1093 Kata
Rafa memberikan syarat pada Sabrina. Jika Sabrina ingin mendapat kebebasan selama mereka bersama, maka Sabrina harus bersikap baik pada Rafa. Dia harus jadi gadis penurut dan tidak berusaha kabur dari Rafa. Dan jika Sabrina sampai melanggar, Rafa mengancam akan membuat wanita itu menyesal seumur hidupnya. Kali ini, Sabrina diperintahkan untuk membuatkan kopi Rafa. Wanita itu menurut. Lalu, ia mengantarkan secangkir kopi panas itu ke ruang kerja Rafa. Saat memasuki ruang kerja pria itu, tampak Rafa yang baru saja mengakhiri panggilan suara dengan seseorang. Wajah pria itu tampak frustrasi, seolah apa yang baru saja ia bicarakan di telepon adalah sesuatu yang membuat ia kesal. “Letakkan di sana!” Bahkan, bicara pada Sabrina saja Rafa menggunakan nada yang ketus, tidak seperti biasanya. Sabrina hanya menurut. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja, dengan jarak aman dari berkas-berkas Rafa. Saat Sabrina akan pergi, tiba-tiba saja Rafa memanggilnya. “Kamu mau ke mana? Kabur?” Sabrina terperanjat. Padahal, ia hanya akan ke kamarnya. Lagi pula, bagaimana bisa Sabrina berani kabur setelah ancaman yang dilayangkan pria itu beberapa waktu yang lalu? “Aku cuma mau kembali ke kamar. Kan kopi yang Kakak minta udah aku bikinin.” “Aku nggak minta kamu pergi, Sabrina. Duduk di sana!” Sabrina menurut, lalu duduk di single sofa yang ada di ruangan berukuran dua puluh meter persegi itu. Sabrina duduk di ruang kerja Rafa hingga larut malam. Ia tidak berani bersuara, karena ia lihat kakak angkatnya itu sedang berada dalam suasana hati yang kurang baik. Sabrina tidak ingin memancing amarah Rafa yang akhirnya akan berdampak buruk juga pada dirinya. Perlahan, rasa kantuk mulai mendera. Setelah itu, Sabrina pun tanpa sengaja tertidur di ruang kerja Rafa dengan menyandarkan punggungnya pada sofa. *** Saat Sabrina membuka matanya, ia terkejut menyadari dirinya berada di kamar - terbaring nyaman dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Namun, ranjang di sisinya sudah kosong meski matahari belum muncul sepenuhnya dari tempat persembunyiannya. Sabrina tersentak saat mengingat jika semalam Rafa tampak begitu kesal setelah menelepon seseorang. Dia pun mengecek pria itu di ruang kerjanya. Siapa tahu, Rafa tidak tidur semalam karena lembur masalah kerjaan. Namun, ruangan itu kosong dan rapi. Sabrina berlari menuruni tangga mencari keberadaan penghuni lain di rumah ini. Rasanya tidak mungkin Rafa sudah berangkat kerja sepagi ini. “Non Sabrina cari siapa?” “Kak Rafa mana ya, Bi? Kok di kamar sama ruang kerjanya nggak ada?” tanya Sabrina. Meski Rafa jahat padanya, tetapi Sabrina tidak ingin kakak angkat yang sangat ia sayangi itu terkena masalah. Pergi dari rumah dengan suasana hati kurang baik seperti semalam adalah sesuatu yang cukup berbahaya bagi orang yang agresif seperti Rafa. “Tuan Rafa ada kerjaan di luar kota, Non. Tadi harus berangkat pagi-pagi sekali. Katanya bakal nginep dua atau tiga hari. Tapi, Tuan titipin Non Sabrina ke Bibi. Jadi, Bibi mohon jangan pergi tanpa sepengetahuan Bibi sama Tuan ya, Non!” Sabrina mengernyitkan alisnya. Tidak hanya sebatas berbicara ketus padanya. Bahkan, sekarang Rafa pergi untuk beberapa hari tanpa berpamitan padanya. Sabrina merasa ada yang aneh dengan sikap kakaknya. Ia merasa, seolah lelaki itu menyimpan sebuah rahasia besar darinya. “Kok Kak Rafa nggak bilang aku? Minimal, tunggu sampai aku bangun, gitu?” “Kayaknya sih tadi buru-buru, Non. Mungkin dadakan, disuruh sama ayahnya.” Bahu Sabrina merosot. Ia memang tidak suka dengan cara Rafa memandang dan memperlakukannya beberapa waktu terakhir. Namun, ia lebih tidak suka saat sang kakak mengabaikannya seperti ini, saat ia sudah mengalah dan mau tinggal di sini bersamanya - menjadi wanitanya. *** “Bibi bilang Kak Rafa cuma pergi dua sampai tiga hari. Tapi kok sampai sekarang belum pulang juga ya, Bi? Bahkan nomornya susah sekali dihubungi,” tanya Sabrina. Hari ini, genap pria itu menghilang selama lima hari. Dan selama itu, Rafa tidak pernah sekali pun mengangkat panggilan masuk dari Sabrina. Bahkan membalas pesan pun hampir tidak pernah. “Saya juga kurang tahu, Non. Tuan kemarin bilangnya memang cuma dua sampai tiga hari. Saya nggak tahu kalau bakalan selama ini.” Sabrina merasa hampa dalam hatinya. Selama ini, ia selalu merasa kesepian dan tidak berharga karena hanya tinggal bersama sosok ibu yang tidak menyayanginya bahkan bisa berbuat jahat padanya. Namun, setelah kembali pada Rafa, perlahan perasaan Sabrina menghangat. Meski ia marah dengan perasaan terlarang Rafa, tapi harus ia akui jika Rafa selalu berhasil membuat dirinya merasa lebih berharga. Namun kini, pria itu seolah menghindar dari Sabrina. Dia pergi tanpa berpamitan. Dan bahkan setelah berhari-hari, dia tidak bisa dihubungi sama sekali. Hari ke sepuluh setelah kepergian Rafa … Sabrina duduk temenung di halaman belakang. Selama lima hari terakhir, hanya dua kali Rafa mengirimkan pesan singkat padanya. [Jangan berpikiran untuk kabur! Aku pasti akan segera kembali] [Kamu cukup percaya padaku kalau semua pasti akan baik-baik saja! Jaga diri di sana, dan jaga kepercayaanku.] Sabrina menghela napas panjang. Ia mulai ragu jika Rafa akan kembali. “Kalau dia memang tidak mau kembali lagi, kenapa nggak dia pertegas aja buat usir aku dari sini? Kenapa harus menghindar dengan cara seperti ini? Rasanya aku seperti akan mati bosan terkurung di sini tanpa kabar dari pemiliknya,” kesal Sabrina. Hari ke dua belas setelah kepergian Rafa … Sabrina akan pergi tidur saat HP nya tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan dari orang yang ia tunggu selama dua belas hari terakhir, berhasil membuat detak jantungnya meningkat. Ia menampar wajahnya sendiri, memastikan jika itu bukan mimpi belaka. Namun, rasa sakit itu ada, yang menegaskan jika ini adalah nyata. Sabrina akan menggeser ikon bergambar telepon berwarna hijau. Namun, sedetik sebelumnya, ia berubah pikiran. “Dia saja bisa mengabaikanku selama ini. Terus, kenapa sekarang aku harus mengangkatnya?” Panggilan akhirnya terputus, membuat sedikit rasa sesal muncul di hati Sabrina. Namun, notifikasi pesan dari orang yang sama, membuat antusiasnya kembali. [Kamu di mana? Kenapa nggak angkat teleponku?] [Aku akan pulang besok pagi. Buatkan aku makanan yang enak, kalau kamu mau oleh-oleh dariku!] Sabrina menahan napasnya. Detik berikutnya, ia bersorak senang karena mengetahui jika kakaknya akan segera kembali. Memori manis yang dulu ia lalui bersama Rafa kembali terbayang dalam benaknya. Lelaki itu masih sama. Selalu menyiapkan oleh-oleh setiap kali habis bepergian tanpa dirinya. Saking antusiasnya, Sabrina tidak sabar untuk bicara dengan Rafa. Ia pun berusaha menelepon pria itu. Tapi, panggilannya ditolak. Dipercobaan kedua, nomor Rafa sudah tidak aktif lagi. Sabrina mendengus kesal. Ia semakin menyesal karena tidak sempat bicara dengan pria itu dan malah menolak panggilannya. “Sudahlah. Lebih baik sekarang aku tidur aja, biar besok bisa bangun pagi buat masakin makanan yang enak buat Kakak.” Di mata Rafa, Sabrina adalah wanita dewasa yang ia cintai. Tapi di mata Sabrina, Rafa tetaplah kakak yang sangat ia sayangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN