Chapter 51

1164 Kata
Irish mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Kalila dengan lembut. “Maaf sebelumnya, tapi … Matteo sudah menceritakan apa yang menjadi masalah kamu. Tante tahu apa yang selama ini kamu alami.” Hal itu mampu membuat Kalila tertegun. “Kalila, percayalah, Tante juga pernah mengalami apa yang sedang kamu lalui sekarang. Tante dulu juga bukan berasal dari keluarga yang sempurna.” Irish menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan seolah apa yang akan diceritakannya adalah hal yang pahit dan sulit. “Tante tahu dan sangat paham apa yang kamu rasakan. Kamu merasa hancur dan kehilangan pegangan kamu sendiri, bukan?” Dengan refleks, Kalila mengangguk. Irish tidak mengatakannya dengan penuh perhatian, tapi semua kata yang dilontarkannya mampu membuat Kalila merasa ada seseorang yang mengerti perasaan yang selama ini ia tahan. Pada Matteo, Kalila bisa berkeluh kesah dan bisa menemukan tempat paling aman—yang dulu dimiliki oleh Atlas. Namun, di sisi Irish, Kalila seolah menemukan sosok ibu yang sempat hilang dari hidupnya. “Tante tidak ingin hidup kamu berakhir seperti Tante dulu. Itu adalah mimpi buruk dan karena itu juga, Tante ingin kamu menganggap kami semua di sini sebagai keluarga kamu.” Mata Kalila berkaca-kaca. Dia menahan isak tangisnya yang entah sampai kapan bisa ia tahan agar tidak keluar. “Tante …” “Hm?” “Terima kasih.” Kalila tidak tahu bagaimana bisa Irish memperlakukannya dengan sangat baik seolah dia adalah anaknya sendiri. Irish hanya mendengus. “Aku tidak suka ketika ada orang yang menangis di hadapanku.” Dengan kata lain, Irish tidak tahu bagaimana menenangkan Kalila ketika gadis itu menangis di hadapannya. Dia buruk dalam menenangkan orang lain sekalipun dia peduli. Kalila tertawa kecil dan mengusap ujung matanya yang mulai berair. “Tante, sekali lagi terima kasih.” Irish mengangguk. Dia menepuk pelan bahu Kalila sebelum akhirnya membalikkan badannya untuk meninggalkan Kalila. “Tante.” Langkahnya terhenti. “Apa … Tante tidak mempermasalahkan dengan aku yang menganggap Tante Ibu sendiri?” Irish tersenyum, tanpa membalikkan badannya, sehingga Kalila tidak tahu bahwa dia sedang tersenyum sekarang. “Well, aku tidak masalah dengan menambah satu anak lagi tanpa perlu melahirkannya.” Hati Kalila sangat tenang sekarang. Akhirnya, dia merasakan apa yang disebut perhatian seorang Ibu. *** Kalila baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan guru Sejarahnya dan dia juga sudah mengisi soal-soal try-out. Kini, dirinya pergi keluar dari kamarnya untuk mengambil minum. Langkahnya terhenti ketika melihat Matteo menghampirinya. “Matty?” tanyanya. “Kamu sudah selesai belajar?” Dari makan malam tadi, Matteo sebenarnya ingin mengajak Kalila pergi keluar. Tapi dia ingat bahwa Kalila sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir mengingat kelulusannya juga sudah dekat. “Sudah.” Matteo tersenyum. “Kamu sudah mengantuk?” Kalila menggeleng. “Belum.” Senyuman pria itu semakin merekah. Dan seperti biasa, wajah Matteo menjadi berkali-kali lebih tampan ketika pria itu tersenyum. “Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Kamu ingin ikut?” tawar Matteo sambil memperlihatkan kunci mobil yang sudah ia genggam. Kalila tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat familiar di telinga Matteo. Dia menganggukkan kepalanya. Selain karena dia jenuh sudah belajar dan mengerjakan banyak soal, Kalila juga ingin menghabiskan waktu dengan pria itu. Iya, kali ini Kalila tidak akan menolak, bahwa dia mencintai pria di hadapannya ini. “Ayo,” ajak Matteo. Seperti yang dikatakan Matteo pada Irish, pria itu mengajak Kalila untuk pergi membeli beberapa baju baru untuk gadis itu. Bukan tanpa sebab, Matteo juga mempertimbangkan ucapan ibunya yang mengatakan bahwa tidak akan aman jika Kalila mengambil baju-bajunya sendiri di rumahnya. Ada banyak kemungkinan bahwa Atlas juga berada di sana dan mereka mungkin akan kembali berdebat. Sungguh, Matteo tidak mencoba untuk bersikap pengecut dengan tidak menghadapi Atlas secara langsung. Tapi, dia juga tidak mungkin diam-diam menghabisi Atlas, bukan? Dia bukan CEO yang merangkap menjadi mafia—seperti novel-novel romansa pada umumnya. Matteo hanya pria biasa yang jatuh cinta pada gadis sederhana pula. Matteo melirik Kalila yang sedari tadi diam saja. “Kalila.” Kalila langsung menoleh padanya. “Hm?” Lalu, pandangannya menatap tangan Matteo yang lagi-lagi terulur untuk menggenggam tangannya. Kalila terdiam ketika Matteo membawa tangannya untuk ia kecup punggung tangannya. “Kamu baik-baik saja?” Untuk pertama kalinya, Kalila bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja tanpa perlu berbohong. Kalimat itu sungguh menggambarkan keadaannya sekarang, bukan hanya sebagai alasan untuk tidak membuat orang di sekitarnya khawatir padanya. “Iya.” Matteo meliriknya dengan tangan mereka yang masih tertaut. “Kamu diam saja dari tadi dan itu membuat aku sedikit khawatir.” Kalila menggeleng. “Aku sungguh baik-baik saja.” Matteo mengangguk sebagai jawaban. Mereka menikmati keheningan di antara mereka. “Oh iya, apa yang dikatakan ibuku tadi? Dia tidak mengatakan hal yang membuat kamu takut, bukan?” Matteo tahu ibunya itu tidak mungkin melakukan sesuatu yang membuat Kalila tidak nyaman. Dia juga tahu bahwa ibunya sebenarnya sangat peduli pada Kalila. Tapi tetap saja, aura yang diperlihatkan ibunya setiap berbicara dengan orang lain selalu menyeramkan hingga membuat lawan bicaranya kadang mematung saja kelewat gugup. Kalila hanya terkekeh. “Tidak. Ibu kamu sangat baik, Matty.” Matteo menghembuskan napasnya lega. “Aku tahu kamu takut pada Ibu aku.” “Memang,” ujar Kalila dengan polos dan membuat keduanya kembali tertawa. Mereka menghabiskan perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang masih buka di malam hari itu dengan candaan. *** “Segini cukup?” Kalila mungkin akan menjatuhkan dagunya ke lantai saking terkejutnya ia melihat banyak belanjaan yang dipilihkan Matteo untuknya. Bukan hanya baju, Matteo membelikan Kalila hampir satu lemari penuh dan itu sungguh membuat Kalila tidak enak sendiri. “Matty, ini berlebihan,” bisik Kalila dan menahan trolley yang sedang didorong oleh Matteo. “Kenapa?” “Lho? Bukankah aku yang harusnya bertanya? Kenapa kamu membeli barang sebanyak ini?” Kalila tahu bahwa mereka menjadi pusat perhatian sekarang karena orang-orang di sekitar mereka, mulai penasaran kenapa mereka berdebat soal belanjaan. Sialnya, Kalila tidak yakin bahwa orang-orang tidak akan berpikir dia adalah sugarbaby dari Matteo, apalagi ditambah belanjaan mereka yang banyak ini, pasti membuat dugaan itu semakin kuat. Matteo hanya tertawa kecil melihat Kalila yang panik sendiri. Dia mengacak-acak rambut gadis di hadapannya itu. “Tidak apa, ayo.” “Matty, kamu yakin?” tanya Kalila ketika Matteo melewatinya sambil mendorong trolley itu. “Memangnya apa yang membuat aku tidak yakin?” Sial. Matteo dan sikapnya yang serba santai adalah tugas Kalila untuk lebih terbiasa menghadapinya. “Bagaimana jika Ibu kamu marah karena membelikan aku pakaian sebanyak ini?” Matteo mengendikkan bahunya tidak peduli. “Aku membelinya dengan uangku sendiri, Kalila. Kenapa ibuku harus tidak suka dengan itu?” Kalila menarik napas dalam-dalam. Tolong, Kalila tidak boleh memukul Matteo di tempat umum atau mereka akan menjadi pusat perhatian lagi. “Baiklah, tapi tolong beritahu Ibu kamu kalau bukan aku yang meminta untuk dibelikan sebanyak ini.” Matteo hanya tertawa. “Ibuku tidak akan peduli dengan itu, mungkin dia akan senang ketika tau putranya memperlakukan pacarnya dengan baik.” “Pacar?” “Kamu pacar aku, bukan?” Tidak pernah terpikirkan dalam hidup mereka berdua, bahwa mereka akan berakhir bersama. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN