Kalila kembali terkejut melihat angka yang tertera yang menjadi total dari belanjaan mereka. “Matt—”
Tapi tentu saja, Matteo tidak melakukan apapun selain membayar semuanya seolah dia baru saja camilan yang tidak seberapa harganya.
“Ayo, pulang.”
Kalila hanya mendengus pasrah. Jujur saja, dibanding senang, dia lebih merasa tidak karuan karena dia takut disangka pacar yang tidak tahu diri. Padahal, ini semua bukan keinginannya. Dia bisa saja mengambil kembali bajunya di rumah dan tidak perlu merepotkan Matteo seperti ini.
Setelah mereka memasukkan semua barang-barang ke bagasi mobil, akhirnya mereka memilih untuk pulang langsung.
Kalila menyadari bahwa jalan yang diambil Matteo ketika arah pulang adalah jalanan yang dekat dengan rumahnya. “Kal, aku ingin beli soda dulu.” Matteo membelokkan stirnya untuk parkir di minimarket yang ada di samping jalan.
“Kamu mau tunggu di sini saja?” tawar Matteo. Kalila mengangguk dan akhirnya membiarkan Matteo untuk pergi ke minimarket sendiri.
Di dalam mobil, Kalila hanya melempar pandangannya ke luar jendela. Melihat beberapa orang yang berlalu-lalang. Namun, tatapannya terpaku untuk sementara ketika dia melihat seorang wanita yang sangat dia hapal, baru saja keluar dari minimarket. Kalila mengeryitkan dahinya. “Mama?” tanyanya pada diri sendiri dengan nada yang sangat lirih. Kalila menegakkan punggungnya dan menyipitkan matanya demi melihat wanita itu lebih jelas. Mungkin saja hari ini dia terlalu capek dan mulai berhalusinasi, karena tidak mungkin ibunya bisa berada di minimarket di dekat perumahannya ketika wanita itu sendiri yang meninggalkan keluarganya empat tahun lalu.
Sayangnya, semakin jeli Kalila melihat wanita itu, semakin Kalila yakin dibuatnya bahwa wanita itu adalah ibunya. Itu benar-benar ibunya. Wanita yang menghancurlan keluarganya sendiri demi mengais gengsinya yang setinggi langit. “Mama …” Mata Kalila langsung berkaca-kaca. Dengan tangan bergetar, dia keluar dari mobil Matteo.
Kalila berjalan dengan langkah lambat. Mendekati ibunya yang berada di pelataran minimarket. Tatapan mereka bertemu dan keduanya sama-sama diam. Kalila tidak tahu harus senang atau sedih ketika melihat ibunya. Tapi yang pasti, dia tahu bahwa kembalinya sang ibu hanya membuat semuanya menjadi lebih rumit. “Kalila?”
Sekonyong-konyong wanita itu berlari ke arah Kalila. Meninggalkan beberapa plastik yang ia pegang dan memeluk Kalila dengan erat. Rambut anaknya itu ia usap dengan lembut, rambut yang terlihat lebih panjang dari sebelumnya ketika dia meninggalkan putrinya sendiri. “Kalila, ini Mama …” Rianna Mathias menangis. Rasa rindu mulai tidak bisa ia bendung sendiri. Ia mempererat pelukannya pada sang putri. “Ini Mama, Kalila. Akhirnya, kita bisa bertemu kembali.” Rianna mengatakan seolah dia pergi secara terpaksa dan bukan atas kemauannya sendiri, sehingga kedatangannya seharusnya tidak ditolak oleh putrinya. Namun nyatanya, Rianna memang pergi atas dasar keinginannya. Rianna meninggalkan putrinya tanpa memikirkan apapun lagi. Dia tahu sudah sepantasnya putrinya ini membenci dirinya. Namun, dia tidak tahu apakah dia bisa menerima fakta itu dengan lapang d**a.
“Ke mana saja kamu? Atlas mengatakan kalau kamu pergi dari rumah.”
Kalila tetap membisu.
“Mama sangat mengkhawatirkan kamu, Kal. Ketika Mama pulang, Mama berharap kamu akan menyambut Mama dan kita bisa kembali bersama.”
Kalila ingin sekali tertawa sinis ketika mendengar ucapan ibunya itu. Kembali bersama? Ketika ibunya itu meninggalkannya terlebih dahulu?
Tepat di saat itu pula, Matteo sudah selesai dan kembali dengan satu kantong plastik berukuran kecil. Dia terpaku diam ketika melihat Kalila dengan mata yang berkaca-kaca, dipeluk oleh seorang wanita yang hampir seumuran dengan Irish. Awalnya, Matteo ingin melepaskan pelukan itu. Matteo takut jika Kalila merasa terancam, apalagi ketika pria itu tidak bisa melihat siapa wanita yang memeluk pacarnya. Sayangnya, gerakannya terhenti ketika wanita itu sudah melepaskan pelukannya.
“Matteo …” lirih Kalila dengan tatapan lurus ke arah Matteo. “… ini Ibuku.”
***
Kalila ingin sekali melepaskan pelukan ibunya darinya. Dia tidak mau dipeluk oleh wanita itu. Wanita yang sudah meninggalkannya dan dengan tidak tahu malunya dia kembali. Kalila terdiam ketika melihat Matteo sudah kembali. Dari tatapannya, Kalila tahu bahwa pria itu ingin penasaran sekaligus terkejut melihat Kalila yang dipeluk oleh wanita asing.
“Matteo …” Kalila berucap pelan. “… ini Ibuku.”
Kalila melirik ibunya yang sekarang menatap Matteo. Ibunya menundukkan pandangannya dan tersenyum kecil sebelum memberanikan diri menatap Matteo. “Salam kenal, saya Rianna Mathias.”
Kalila tidak peduli lagi dengan ibunya. Dia tidak peduli sekalipun dirinya merindukan ibunya, sekalipun dia ingin sekali bertemu dan menghabiskan waktu dengan wanita itu. Ibunya sudah meninggalkannya sendiri dan pada detik itu juga Kalila tidak ingin bertemu lagi dengan wanita itu. Kalila meyakinkan dirinya sendiri, jika dia memilih untuk meninggalkan ibunya, maka dia akan baik-baik saja.
Untuk detik ini saja, Kalila ingin egois pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin merasa bersalah karena sudah menyia-nyiakan waktu ketika ibunya kembali.
“Ayo, Matty.” Kalila melangkahkan kakinya mendekati Matteo dan menggenggam erat tangan pria itu. “Aku ingin pulang.”
Matteo menatap ibu dari Kalila itu untuk sementara sebelum menghela napas lelah dan menganggukkan kepalanya pada Kalila. “Iya, ayo kita pulang.”
Rianna yang awalnya sudah percaya diri bahwa Kalila akan pulang dengannya, mengeryitkan dahinya ketika sang putri memilih untuk pergi dengan pria itu. “Kalila!”
Kalila menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan badannya, dia berucap, “Kenapa Ibu kembali jika hanya ingin menghancurkan hidupku lebih parah lagi?”
Setelah itu, Kalila berjalan lebih dulu masuk ke mobil Matteo.
***
“Kal.”
Kalila menjawab panggilan dari Matteo dengan gumaman. Pandangannya tetap memandang ke depan tanpa melirik pada pria itu.
“Kamu baik-baik saja, Kalila?”
Kalila selalu ingin menangis tiap kali Matteo bertanya hal itu. “Tidak,” lirihnya sambil mengusap pipinya yang basah karena air mata.
“Kal, kamu tahu kalau kami semua adalah keluarga kamu. Sekalipun ibu kamu yang kembali dan menghancurkan hidup kamu, itu tidak akan membuat aku dan keluargaku menghakimi kamu.” Matteo tidak yakin bahwa Kalila pernah menceritakan soal ibunya padanya. Dan setelah Kalila tenang, Mattteo akan menanyakan semuanya pada gadis itu.
“Kenapa dia harus kembali, Matteo? Hidupku memang sudah berantakan ketika dia meninggalkanku, tapi setidaknya aku yakin aku bisa menghidupi aku sendiri tanpa bantuan siapapun. Lalu, kenapa dia sekarang kembali dan membuat semuanya menjadi lebih sulit?”
Matteo mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memang tidak tahu apa yang dirasakan Kalila sekarang, dia tidak pernah berada di posisi itu. Tapi, dia tahu yang bisa ia lakukan adalah menenangkan gadis itu. “Kalila, kenapa ibu kamu meninggalkan kamu?”
“Aku tidak tahu. Mereka menikah …” Kalila menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. “… karena aku hadir. Pernikahan mereka tidak berjalan lancar. Karena … ibuku tidak pernah siap untuk menjadi ibu.” Kalila terisak hebat. “Aku tidak diminta untuk dilahirkan. Bahkan jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin lahir, Matteo. Ini semua bukan salahku tapi kenapa harus aku yang menanggung kesedihan ini?”
Matteo mematikan mobilnya di pinggir jalan. Dia menatap Kalila dengan tatapan tenangnya. “There’s a reason why God wants you to be born.”
***