“Aku akan menyuruh orang lain untuk membawakan barang-barang kamu.” Matteo mendorong pelan Kalila untuk masuk ke kamarnya ketika melihat ekspresi gadis itu yang sudah terlihat sedih sekali dan ingin menangis kembali. Kalila hanya mengangguk tanpa menolaknya. “Terima kasih,” ujarnya lirih. Matteo mengangguk dan mengusap rambut Kalila pelan. “Kamu ingin istirahat?” Kalila diam saja, namun dia melangkahkan kakinya untuk pergi ke sisi ranjangnya dan duduk di sana. Dia menatap Matteo, seolah menyuruh pria itu secara tidak langsung untuk duduk di sampingnya. Matteo mengerti, dan dia akhirnya menuruti permintaan gadis itu. Duduk di sisinya sambil digenggamnya tangan Kalila dengan erat. Mereka berdua menatap tangan mereka yang saling tertaut, dengan ibu jari Matteo yang mengusap-usap punggung

