Chapter 36

1168 Kata
Di sisa malam itu, Kalila dan Matteo tidak melakukan apapun lagi selain berdiri di sisi rooftop dan menatap langit juga pandangan malam itu. Kalila sendiri masih tidak bisa melepaskan pikirannya dari Aya. Dia takut—karena dia tahu, apa yang Aya sendiri bisa lakukan. Jika Aya menyebarluaskan masalah ini, Kalila akan semakin terhimpit. “Kal.” Kalila menoleh pada Matteo yang tanpa ia tahu, memerhatikannya sedari tadi. “Iya?” tanyanya. “Lebih baik kita pulang.” Kalila mengeryitkan dahinya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka. “Bukankah kamu harusnya menyapa ayah dan ibumu? Atau mungkin tamu-tamu ini?” Kalila bertanya sedikit keheranan. Dia tidak mau di-cap kurang sopan. Orang-orang di sini mungkin memang tidak mengenalnya, tapi tetap saja, Kalila tidak ingin dia pulang begitu saja tanpa pamit pada orang tua Matteo. “Kamu terlihat tidak baik-baik saja.” Kalila mengangkat kedua alisnya. Oh, jadi wajahnya selalu menunjukkan setiap kali dia memikirkan masalahnya? Tidak heran kenapa Matteo mengatakan kalau dia the girl with a broken smile. Kalila mendesah lelah. “Aku hanya … kelelahan.” “Kamu yakin itu bukan karena Aya?” Kalila diam dan Matteo langsung tahu bahwa tebakannya benar. “Kal, bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu takut? Aku akan melakukan apapun agar kamu baik-baik saja.” Kalila tertawa miris. “Masalahku terlalu berat untuk kamu katakan seperti itu, Matteo. Aku … bisa mengatasinya sendiri, tidak perlu khawatir.” Matteo berdecak. Dia tidak memiliki niat lain selain membantu Kalila. Semua tindakannya ini murni karena dia tidak tega pada gadis itu. “Kal, apa aku terlihat akan percaya ketika kamu meengatakan itu?” Kalila menatap Matteo—memberanikan diri menatap mata pria itu yang tajam, namun juga terlihat teduh. Jika tidak hati-hati, maka Kalila mungkin tidak bisa menahan dirinya untuk masuk ke dalam pesona pria itu. “Whatever.” Kalila memutar bola matanya malas. Dia tidak ingin berdebat dengan pria itu sekarang. Sudah terlalu banyak beban pikiran yang ada di kepalanya sekarang, Kalila tidak perlu satu beban lagi untuk membuatnya semakin gundah. “Ayo pulang.” Kali ini, Matteo sedikit memaksa. Dia menarik pergelangan tangan Kalila pelan. Untungnya, Kalila tidak melawan dan mengikuti langkah kaki Matteo. *** “Jika ada apa-apa, tolong beritahu aku, Kal.” Ucapan Matteo terngiang-ngiang di benak Kalila yang kini sudah berada di depan pintu rumahnya. Dia kembali melihat layar ponselnya yang kini menampilkan nomor ponsel dari Matteo sendiri. Kalila mendesah pasrah. Apa yang akan terjadi nanti, biarlah terjadi. Kalila tidak ingin mengambil pusing sekarang, karena kini kepalanya menjadi pusing. Ketika Kalila membuka pintunya, dia terkejut ketika ternyata pintu tersebut sudah tidak dikunci. Dia sudah siap siaga takut jika ada maling yang datang, namun dia baru saja teringat bahwa Atlas juga mempunyai kunci cadangan. “Kalila.” Sayangnya, Kalila tidak mengharapkan kedatangan Atlas sekarang. “Atlas?” “Dari mana kamu?” Kalila menahan napasnya ketika melihat kilatan amarah dari Atlas. Ayolah, Kalila lelah bukan main dan yang dia inginkan adalah tidur, bukan bertengkar dengan Atlas. “Aku … ada pesta ulang tahun temanku.” Atlas tertawa meledek. “Nice try. Kamu pikir aku akan percaya dengan mudah, Kalila?” Sial. Kalila harusnya mempersiapkan diri juga untuk ini. Atlas makin hari makin mudah tersulut emosinya, dan jujur saja, itu membuat Kalila takut bukan main. “Kal, aku ingin kamu menjawab dengan jujur.” Atlas mendekat ke arahnya dan melipat kedua tangannya. Menunjukkan aura d******i yang benar-benar membuatnya merinding bukan main. “Atlas, aku tidak ingin membuat keributan dengan kamu sekarang.” “Aku juga tidak ingin marah pada kamu, kecuali kamu berbohong padaku.” Atlas menarik napas dalam-dalam. Seolah sedang menenangkan dirinya sendiri, padahal Kalila-lah yang panik sekarang. “Aku diajak ke pesta perusahaan Matteo Aarav.” “Matteo Aarav?” Kalila tidak memiliki pilihan lain lagi selain menceritakan yang sebenarnya pada Atlas. Dia tidak ingin masalahnya bertambah banyak, jadi dia berpikir, jujur adalah yang terbaik untuk saat ini. “Iya.” “Bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu tidak boleh bertemu dengan Matteo lagi, Kalila?” Kalila mengangguk paham. “Aku tahu.” “Dan kenapa kamu tidak mendengarkannya?” Kalila mengeratkan kepalan tangannya pada dress yang ia pakau. “Aku—” “Dengar, Kalila!” Kalila memekik tertahan ketika lagi-lagi Atlas mencengkram pergelangan tangannya dan sebelah tangan lelaki itu digunakan untuk mencengkram kedua pipinya dengan kasar. Benar-benar kasar hingga si puan terisak pelan. “Aku tidak suka jika kamu berhubungan dengan pria lain, Kalila! Kamu tahu perasaan yang aku miliki pada kamu, dan apakah ini balasan kamu?! Kamu bermaksud untuk mencelakai aku?” Kalila menggeleng heboh. Dia berusaha melepaskan cengkraman Atlas darinya. Atlas melepaskannya dengan kasar hingga Kalila tersungkur jatuh di hadapannya. “Kalila, aku mencintai kamu dan aku sama sekali tidak mengharapkan balasan seperti ini dari kamu.” Kalila menundukkan kepalanya. Menatap Atlas yang kini marah padanya hanya membuatnya merasa semakin lemah. “Atlas … hentikan.” “Aku tidak mau, sampai kamu sadar kalau kamu salah.” Kalila masih menggenggam ponsel di tangannya. Dengan gemetaran, dia men-dial nomor Matteo. “Kal, apa yang harus aku lakukan agar kamu tahu kalau aku mencintai kamu?” Atlas tiba-tiba saja sudah berjongkok di belakangnya dan membuat Kalila semakin ketakutan. Perlahan, Kalila menggeser tubuhnya menjauhi lelaki itu. Atlas bukan lagi kakaknya yang ia sanjung, Atlas juga bukan lagi tempat paling amannya. Lelaki itu sudah berubah. “Kalila …” Tangan Atlas menahan Kalila dan membuat Kalila berhenti menjauh. “… aku hanya menginginkan kamu.” Kalila menggeleng kuat. Dia ketakutan dan apapun yang akan dikatakan oleh Atlas hanya akan memperburuk semuanya. “Atlas, aku mohon …” Atlas menampar Kalila. Benar-benar menamparnya hingga Kalila terdiam. Isakannya untuk sesaat terhenti hanya untuk mempertanyakan apakah ini sungguhan atau hanya mimpi semata. Kalila berharap ini mimpi. Tapi, rasa panas yang perlahan menjalar membuatnya nyata. Atlas, untuk kedua kalinya, kembali menampar Kalila. “Ini yang terakhir, Kalila. Jika setelah ini aku mendapati kamu kembali dengan Matteo, kamu akan tahu akibatnya.” Atlas pergi meninggalkan Kalila sendirian di rumah itu. Kalila kembali terisak hebat. Kenapa semua ini harus terjadi padanya? Tanpa Kalila sadari, Matteo sudah mendengar semuanya di detik pertama Kalila meneleponnya. *** Matteo tidak menunggu apapun lagi dan segera mengambil kunci mobil. Jantungnya berdegup sangat kencang. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. “Mau ke mana, Matty?” Anna yang baru saja pulang dari pesta itu, menatap adiknya heran. “Matteo!” panggilnya sekali lagi ketika adiknya terlihat panik dan tidak mendengar ucapannya. “Aku harus pergi.” “Ke mana?” tanya Anna jengkel. “Bukan urusan kamu.” Matteo tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya pada Anna. Dia harus segera bertemu dengan Kalila dan memastikan dia baik-baik saja, walaupun hatinya sedikit ragu denga itu mengingat apa yang sudah ia dengar tadi. “Aku akan memberitahu Mama kalau kamu keluar malam-malam begini, Matty!” Anna mengerjai adiknya dan tertawa kecil. Matteo tidak peduli. Dia tidak memedulikan apapun selain Kalila. “Kal, tunggu aku.” Matteo sudah berjanji untuk selalu melindungi wanita itu, dan dia tidak boleh mengingkarinya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN