Matteo memarkirkan mobilnya asal-asalan di pekarangan rumah Kalila. Dia segera turun dari kendaraannya dan berlari ke arah pintu rumah tersebut. “Kalila Beatrice!” Matteo berseru sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah di hadapannya itu. “Kalila!” Tidak ada jawaban apapun dan Matteo mulai kembali panik.
Matteo tidak menunggu Kalila membukakan pintu untuknya, tapi dia langsung membukanya sendiri. Mata Matteo membelalak ketika melihat Kalila tersungkur di lantai. “Kal.” Matteo segera mengangkat tubuh wanita itu. “Kalila.” Dia menepuk-nepuk pipi Kalila.
Perlahan, Kalila mengerjapkan matanya dan melihat Matteo ada di hadapannya dengan raut wajah yang khawatir. “Matt.” Kalila berucap sangat lirih. “Aku takut …”
Matteo tanpa sungkan, langsung memeluk Kalila dengan erat. “Kalila, aku di sini. Aku ada di samping kamu dan kamu tidak perlu takut.” Matteo merasa sedikit bersalah karena dia telat menemui Kalila.
Kalila mencoba untuk duduk dengan pusing yang mendera. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tubuhnya gemetar. “Aku tidak tahu apa yang aku lakukan hingga dia memperlakukan aku seperti itu, Matteo. Aku tidak mengerti.”
Matteo mengusap keringat di dahi Kalila dan menatap gadis itu dengan tatapan iba, “Kalila, apa ini karena kakak kamu itu?”
Kalila tidak ragu untuk mengangguk. “Iya. Dia yang melakukannya.”
Matteo mengepalkan tangannya menahan amarah. “Apa dia selalu memperlakukan kamu seperti ini, Kal?”
Kalila menggeleng. Atlas dulu menjadi pribadi yang sangat lembut dan perhatian padanya, sebagai adiknya sendiri. Kalila juga tidak mengerti kenapa Atlas tiba-tiba berubah menjadi monster.
“Ayo kemari. Aku akan membantu kamu mengobati luka kamu.” Kalila bahkan tidak sadar jika sudut bibirnya berdarah sekarang.
Mereka duduk bersampingan di sofa yang ada di ruang keluarga. Matteo dengan telaten, mengusapkan kapas basah ke sudut bibir Kalila. Matteo sesekali menatap wajah Kalila dan dia sadar bahwa Kalila sama sekali tidak merasakan sakit. Antara gadis itu yang memang tidak gampang meringis atau memang pikirannya dipenuhi hal lain sehingga melupakan rasa sakit itu. Matteo mengusapkan kapasnya untuk terakhir kali dan dengan sengaja dia menyentuh ringan bibir gadis itu.
Gerakan ringannya itu membuat Kalila tersentak dan menatap Matteo. Tatapan mereka terkunci untuk beberapa detik. Kalila tidak tahu jika dengan jarak sedekat ini, dia akan menyadari bahwa Matteo sangat tampan. Benar-benar tampan hingga Kalila tidak sadar bahwa dia menahan napasnya sendiri.
“Kalila.”
“I-iya?” jawabnya gugup.
“Apa yang membuat kakak kamu begitu marah?” Matteo memutuskan kontak mata mereka terlebih dahulu dan membuat Kalila tersentak. Dia menghembuskan napasnya perlahan. Bersyukur karena Matteo tidak sadar bahwa sedari tadi Kalila memuji ketampanan yang dimiliki oleh pria itu.
“Aku tidak tahu.” Yap. Kalila memilih untuk berbohong. Dia memang setuju untuk bekerja sama dengan Matteo. Dia juga tahu bahwa Matteo sudah mengetahui ada yang salah pada keluarganya. Namun itu bukan berarti, Kalila akan terus mengatakan apa yang terjadi padanya. Masalah Atlas hanya akan membuatnya semakin terikat pada pria itu dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika Matteo tahu bahwa alasan kenapa Atlas bersikap kasar padanya adalah karena pria itu sendiri.
Matteo mengeryitkan dahinya. “Kamu tidak tahu?”
Kalila mengangguk.
“Tidak mungkin kamu tidak tahu, Kalila. Aku yakin kakak kamu memiliki alasan untuk marah walaupun sebenarnya dia tidak bisa berlaku kasar seperti ini pada kamu.”
Kalila memilih untuk diam. Tidak, dia harus menahan dirinya untuk tidak menceritakan masalah ini pada Matteo.
“Kalila, kamu tahu aku tidak akan menyakiti kamu, bukan? Apapun yang akan kamu ceritakan, aku tidak akan melukai kamu.”
Masalahnya, bukan itu. Tapi, Kalila menolak untuk semakin terikat pada Matteo. “Aku akan baik-baik saja.”
“Dan kamu mulai berbohong lagi, Kal.”
Kalila mendongak dan menatap Matteo. Pria itu menghembuskan napasnya lelah. “Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku menghargai kamu jika kamu tidak mau menceritakannya. Setidaknya, aku ingin kamu tahu kalau aku akan selalu ada. Setiap kali kamu membutuhkan aku.”
Tubuh Kalila menegang ketika Matteo merapikan anak rambutnya dan menyelipkannya ke belakang telinganya. “Kenapa … kamu bertingkah terlalu baik seperti ini?”
Matteo kini terdiam. Tangannya menggantung begitu saja. Tatapannya terkunci pada Kalila.
“Matteo …?”
“Aku hanya ingin membantu kamu. Hanya itu.” Matteo memiliki satu pertanyaan yang selama ini ia coba hindari. Satu pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
Apa ia sudah jatuh cinta pada gadis ini?
***
Aya kembali ke rumahnya yang terlihat gelap dan sepi. Dia menghembuskan napasnya lega. Baguslah. Dia sedang tidak ingin bertemu dengan Nino. Dia berharap suaminya itu sudah terlelap tidur.
Dengan langkah kaki pelan, Aya membuka pintu kamarnya dan melihat kasurnya dan Nino kosong. Ke mana pria itu? Pikirnya.
“Aya.”
Aya terlonjak terkejut ketika ternyata Nino berada di belakangnya dan menatapnya dengan kedua tangan terlipat di depan tubuhnya. “Nino … kamu belum tidur?”
“Aku menunggu kamu.” Nino melewatinya dan duduk di sisi ranjang. “Kamu habis dari mana?”
Sial. Aya tidak mengatakan apapun pada Nino ketika dia menghadiri acara perusahaan milik ayah dari Matteo Aarav. Suaminya sendiri sudah memberikan peringatan padanya untuk tidak berurusan lagi dengan Matteo. Namun tentu saja, Aya sama sekali tidak mendengarnya.
Aya tetap hadir dalam rapat rutinan yang diadakan kantor Matteo, walaupun seharusnya suaminya yang datang. Aya tetap berhubungan dengan Matteo—walaupun Matteo tidak menggubrisnya dan suaminya tidak setuju dengan sikapny itu.
“Matteo, ya?” tebak Nino dengan tenang namun Aya dapat melihat senyuman miris di wajahnya. Aya hanya diam saja, karena dia tahu suaminya juga sudah mendapatkan jawabannya.
Terdengar helaan napas dari Nino. “Aya, kamu masih mencintainya?” Nino sadar betul bahwa pernikahannya dengan Aya hanyalah sebuah perjanjian di atas kertas. Namun selama ini, Nino selalu menghargai Aya sebagai istrinya. Nino memberikan nafkah lahir padanya. Nino tidak pernah melirik wanita lain selain Aya. Nino bahkan mencoba untuk belajar mencintai Aya sebagai istrinya.
Bukankah dia pantas untuk meminta istrinya agar menjauhi pria yang menjadi mantan kekasihnya itu?
Aya masih bergeming. Pandangannya ia fokuskan pada kakinya dan tangannya saling tertaut gugup. Nino dan ketenangannya adalah dua hal yang mampu membuat Aya mati kutu.
“Aku hanya meminta satu hal dan aku yakin itu tidaklah sulit.”
Aya tahu kesalahannya. Tapi yang menjadi masalahnya, dia sama sekali tidak menyukai Nino. Dia tidak mencintai pria itu dan dia tidak mau mencobanya.
“Aku tahu kamu tidak mencintai aku, Aya. Tapi setidaknya, tolong hargai pernikahan kita.”
Nino berdiri di hadapan Aya sekarang. Menatap wanita itu dengan emosi yang tertutup oleh tatapan tenangnya. “Jika tidak ada perjanjian di antara orang tua kita, aku sudah pasti tidak akan menikahi kamu. Atau bahkan ketika kita sudah terlanjur menikah, aku akan langsung menceraikan kamu. Tapi sayangnya, kita terjebak antara perjanjian itu.”
Aya memejamkan matanya. Hatinya menjadi tidak karuan. “Bisakah kita tidak peduli dengan perjanjian konyol itu dan memilih untuk bercerai saja?”
Hening.
Aya sudah mempersiapkan dirinya jika Nino sewaktu-waktu tiba-tiba marah padanya.
“Aya, kamu benar-benar keterlaluan.”
***