Perjanjian yang dilakukan antara kedua orang tua dari Nino dan Aya sebenarnya sangat sederhana. Mereka berteman sejak kuliah dan mencetuskan jika anak mereka berbeda jenis kelamin, maka mereka akan menjodohkannya. Keinginan dari perjanjian aneh itu akhirnya terwujud. Entah bagaimana mereka bersikeras untuk menjodohkan Nino dan Aya, tanpa memikirkan perasaan anak mereka sendiri.
Perjanjian itu semakin kuat ketika bisnis kedua orang tua Nino dan Aya digabungkan. Nino, sebagai penerus satu-satunya dari perusahaan ayahnya, membuatnya dipaksa untuk menyetujui usulan orang tuanya agar mau menikah dengan Aya sekalipun dia terpaksa.
Sebenarnya, baik Nino maupun Aya sama sekali tidak protes ketika orang tua mereka menjodohkan mereka. Itu salah sebenarnya. Mungkin di benak orang tua mereka, mereka menganggap Aya dan Nino sudah saling mencintai. Padahal kenyataannya tidak.
“Aya.”
Keesokan harinya, sama seperti hari-hari sebelumnya, mereka bertemu di meja makan dengan suasana hati yang sama-sama tidak baik. Mereka bersikap dingin satu sama lain. Namun, Nino masih memiliki kesadaran bahwa dia tidak ingin mendiamkan istrinya begitu saja.
“Hari ini, aku yang akan pergi ke kantor Matteo Aarav untuk membicarakan proyek itu. Kamu sendiri tidak perlu ke sana lagi.” Ini adalah langkah awal yang akan Nino tempuh agar Aya sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini salah.
Aya mendongak dan menatap Nino dengan protes. “Nino, aku memiliki waktu luang yang lebih dan bukankah lebih baik jika aku memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna? Datang ke perusahaan itu juga adalah hal yang bermanfaat karena aku sudah meringankan beban kerja kamu, bukan?” Mereka memang mengelola dua perusahaan dari orang tuanya sendiri. Nino yang memegang kendali, tapi sesekali Aya juga ingin menjadi yang lebih dominan. Nino tidak masalah sebenarnya. Alih-alih marah, dia senang ketika tahu Aya ingin membantunya. Setidaknya, hingga ia tahu maksud tersembunyi dari Aya. Wanita itu hanya ingin membantunya ketika berhubungan dengan perusahaan dari Matteo Aarav. Selebihnya, Aya tidak mau tahu.
Sebagai seorang suami, Nino berpikir bahwa ia memiliki hak untuk melarang Aya.
“Tidak perlu. Karena bagiku, hal bermanfaat itu hanyalah menjadi boomerang untuk pernikahan kita.”
Nino mendengar decakan cukup keras dari Aya. Wanita itu kesal dan Nino tahu hal itu. “Apa kamu sungguh akan memaknai pernikahan kita?”
“Apa kamu berpikir kalau pernikahan ini adalah guyonan?”
Iya. Dalam pikiran dan hatinya, Aya memang tidak pernah menganggap pernikahan ini serius. Dia sudah menuruti keinginan orang tuanya, menjadi gadis penurut selama ini, dan dengan sukarela menikah dengan Nino. Dia rasa itu sudah lebih dari cukup untuk ia beri. Aya tidak mau melakukan apapun lagi yang tidak ingin dia lakukan.
“Aya, aku menikahi kamu bukan untuk mendapatkan perlakuan seperti ini dari kamu.”
Aya terdiam.
“Bisakah kita setuju untuk tidak menyakiti satu sama lain?”
Aya menggeleng tegas. “Tidak. Aku tidak pernah memaknai pernikahan ini dan kamu juga seharusnya seperti itu. Kamu boleh berhubungan dengan wanita lain dan aku tidak akan peduli, Nino.”
“Aya—”
“Aku lelah berdebat dengan kamu terus.”
***
Matteo melirik ibunya yang sedari tadi menatapnya di sela-sela mereka sedang sarapan sekeluarga. Pria berumur hampir tiga puluh tahun itu menghela napasnya. “Ada apa, Mama?”
Irish tersentak ketika anaknya bertanya tiba-tiba padanya. Sial, dia ketahuan sedari tadi memperhatikan Matteo. Irish berdehem memecah kecanggungan yang tiba-tiba merayap di antara mereka. “Tidak.”
“Oh, aku tahu ada yang Mama pikirkan dan ingin ditanyakan langsung padaku. Tanyakan saja, Mama.” Ibunya itu penuh dengan kegengsian yang terkadang membuatnya gemas sendiri. Aarav, ayah dari Matteo, melirik istrinya dengan penuh kebingungan.
“Ada apa, Irish?”
Irish menghela napas dan kembali menatap Matteo. “Mama hanya penasaran, semalam kamu pergi tiba-tiba, Anna yang mengatakannya pada Mama …” Matteo menatap tajam kakaknya yang pura-pura tidak mendengar. Anna dengan santainya memainkan ponselnya sambil terus menyantap sarapannya. “… apa kamu bertemu dengan gadis itu?”
Tiba-tiba saja Matteo merasakan pipinya memerah untuk alasan yang sangat tidak jelas. Dia dan Kalila tidak melakukan apapun semalam. Namun, kenapa Matteo merasa malu dan canggung seolah mereka sudah melakukan kesalahan?
“Matty.”
Matteo kembali tersadar dan tahu kini ibunya menatapnya heran. “Ah, iya. Aku bertemu dengannya.”
“Kenapa? Kamu tahu kalau menemui seorang gadis di larut malam itu sangatlah tidak sopan, bukan? Bagaimana jika orang tuanya tahu?”
“Orang tuanya tidak pernah ada di rumah.” Matteo mengatakannya dengan santai sambil mengendikkan sebelah bahunya.
Irish yang mendengarnya langsung melotot dan melipat kedua tangannya di depan tubuhnya. Aura mendominasi langsung bisa Matteo rasakan dan di detik itu pula dia sadar bahwa dia sudah salah ucap. “Ah, maksudku—”
“Apa yang sudah kamu lakukan, Matteo Aarav?”
Anna di sebelah Matteo sudah menahan tawanya, namun dia segera menutup bibirnya dengan punggung tangannya. Matteo jengkel. Amarah ibunya ini tidak lain dikarenakan oleh Anna. “Tidak ada, Mama.”
“Mama, biarlah. Matteo sudah besar—”
“Dan dia memacari gadis belia,” protes ibunya. “Matty, Mama tidak ingin kamu menjadi pria yang berengsek, ya. Bagaimana jika—”
“Aku tidak melakukan apapun, Mama. Sungguh!”
Irish menghela napas. “Lalu, apa yang kamu lakukan?”
Matteo terdiam. Dia tahu dan sadar betul bahwa apa yang terjadi kemarin adalah privasi dari Kalila. Dia tidak memiliki hak sama sekali untuk menceritakannya kembali termasuk kepada ibunya. “Ada sesuatu yang terjadi padanya dan aku membantunya. Bukan hal yang serius dan bukan seperti yang Mama pikirkan.”
“Dari mana kamu kenal dengannya, Matty?” Ayahnya ikut penasaran. Namun, pria itu menanyakannya dengan nada yang santai.
“Di sekolah. Sekolahnya adalah SMA Anak Mandiri, aku menjadi donatur sekaligus ketua yayasan di sana.”
Mata Irish kembali membelalak. “Sekolah?! Kamu memacari anak sekolah?!”
Anna tidak bisa lagi menahan tawanya. Sial, adiknya terlihat sangat menyedihkan sekarang. Sementara itu, Matteo menatap ibunya dengan tatapan aneh sekaligus kaget. “Memangnya, Mama menganggap dia sudah seusia aku?”
Irish menggeleng. “Tidak, tapi Mama mengira setidaknya dia sudah jadi anak kuliah.” Irish mengusap dahinya dan menghela napas lelah. “Apa karena kamu ditinggal oleh Zee dan membuat kamu memacari gadis sekolah?”
“Itu tidak ada hubungannya sama sekali, Mama.”
“Tapi, kenapa harus gadis sekolah? Setidaknya, carilah gadis yang umurnya tidak begitu jauh dari kamu.”
Matteo kembali mengendikkan sebelah bahunya. “Aku rasa perbedaan sepuluh tahun itu tidak begitu jauh.”
“Matteo!”
Matteo hanya terkekeh. Kemudian, dia tersadar bahwa dia sudah menceritakan Kalila terlalu jauh sedari tadi hingga dia bertingkah seolah dia memang berpacaran dengan gadis itu. Padahal tidak sama sekali. Apakah ini akan berakhir buruk jika orang tuanya tahu semua hal ini?
“Apapun yang terjadi di antara kalian, Mama berharap kamu tidak bersikap berengsek, okay?”
Matteo mengangguk. Dia tahu kenapa ibunya selalu mewanti-wantinya seperti itu. Pernikahan ibunya dengan mantan suaminya dulu, tidak berakhir dengan baik. Kata ibunya, mantan suaminya itu sangat berengsek dan Irish seperti memiliki trauma sendiri. Karena itulah sebisa mungkin Irish selalu memperingatkan Matteo.
***