Pagi itu, suasana hati Kalila tidak begitu buruk. Atlas yang tidak ada di rumah dan membuatnya tidak perlu lagi ketakutan ataupun canggung setengah mati adalah hal baik yang ia terima hari ini. Walaupun hanya sementara.
Kalila bersenandung kecil sambil mengikat rambutnya dalam satu ikatan. Dia mematut tampilannya dari cermin dan tersenyum puas. Tidak terlihat buruk, pikirnya. Kalila tidak perlu takut ada orang yang curiga bahwa dia sedang tidak baik-baik saja atas apa yang terjadi semalam. Kecuali, ada orang yang mempertanyakan bekas luka samar di ujung bibirnya.
Kalila sudah berada di luar rumah sambil mengunci pintu rumahnya. Ketika dia berbalik, dia terkejut melihat sebuah mobil terparkir di depan rumhnya. Masalahnya, dia memang tahu siapa pemilik mobil itu dan Kalila tidak berharap untuk bertemu pria itu di pagi ini. Ayolah, Kalila baru saja memiliki firasat yang kuat bahwa hari ini dia akan baik-baik saja dan kedatangan pria itu sepertinya akan menghancurkan firasatnya.
Kalila menghela napas dan mencoba menghampiri mobil itu. Sebenarnya, dia ingin tidak mengacuhkan pria yang ada di mobil tersebut, namun sepertinya itu bukan hal yang baik di awal hari seperti ini.
“Hai.” Pria itu tersenyum ketika Kalila sudah berada di samping pintu mobilnya dan dia menurunkan kaca mobil tersebut. “Ayo, aku akan mengantar kamu ke sekolah.”
Tunggu.
Apa?
Kalila mengeryitkan dahinya. “Kamu jauh-jauh ke sini hanya untuk mengantar aku ke sekolah?” Untuk diketahui saja, letak kantor Matteo sudah terlewat dan itu berarti pria itu akan putar balik. Hal itu akan sangat memakan waktu.
“Iya. Ayo.” Matteo berujar santai. “Kal,” tegurnya sekali lagi ketika Kalila tidak juga mengatakan apapun.
“Kamu yakin? Kantor kamu akan—”
“Ayo.”
Melihat bagaimana pria itu memaksanya untuk segera masuk ke mobil, membuat Kalila tidak lagi protes. Dia mengikuti keinginan Matteo. “Kalau kamu kesiangan saat nanti ke kantor, jangan salahkan aku.”
“Tidak akan.” Matteo berujar santai dan mulai mengemudikan mobilnya kembali.
Mereka terdiam hampir di setengah perjalanan menuju sekolah Kalila. “Apa kamu ada acara di sekolah itu?”
Matteo melirik Kalila dengan tatapan heran. “Maksud kamu?”
“Aku awalnya mengira kalau kamu ada acara lain di sana dan karena itu kamu menjemput aku.” Kalila tahu tidak ada gunanya juga jika dia menanyakan hal itu, tapi dia hanya penasaran. Sekaligus membunuh kecanggungan di antara mereka.
“Tidak. Aku hanya ingin mengantar kamu saja.” Tanpa Kalila tahu, Matteo khawatir bukan main setelah meninggalkannya malam itu. Matteo takut jika kakak dari Kalila itu kembali menemuinya dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan kembali.
“Weird,” nyinyir Kalila.
Matteo hanya tertawa kecil. “Oh, kamu baik-baik saja, bukan?”
Kalila mengeryitkan dahinya dan melirik Matteo. “Maksud kamu?”
Matteo menarik napasnya sebelum melanjutkan pertanyaannya. “Iya, setelah apa yang terjadi semalam—”
“Aku baik-baik saja.” Kalila langsung memotong ucapan Matteo dengan cepat. Akhirnya, Matteo mengerti bahwa Kalila tidak ingin hal itu kembali dibahas. Dia sangat mengerti.
Tiba-tiba, getar ponsel Kalila membuat perhatian keduanya teralihkan. Kalila langsung melihat layar ponselnya dan sedikit terkejut ketika ternyata ayahnya yang menghubunginya. Diam-diam Kalila melirik ke arah Matteo yang sepertinya juga penasaran siapa yang menelepon Kalila dan kenapa tidak dijawab oleh gadis itu.
Kalila memilih untuk tidak menggubris panggilan itu. Dia diam saja dan membiarkan kecanggungan mulai menghiasi kembali atmosfer di sekitar mereka. Namun, selang beberapa menit, ayah Kalila kembali meneleponnya dan kali ini Kalila berdecak kesal.
“Halo?” Yap, dia akhirnya mengangkat panggilan itu karena dirasanya sangat mengganggu.
“Di mana kamu?”
“Sekolah.” Kalila melirik Matteo. Benar saja dugaannya, pria itu menolehkan kepalanya sesekali pada Kalila.
“Bisa bertemu sepulang sekolah?” Ayahnya berbicara seolah mereka adalah orang asing. Well, mereka memang orang asing, tapi mendengar nada dingin dari ayahnya, membuatnya sakit hati.
“Tidak. Aku tidak mau.”
“Kalila, tolong mengertilah. Teman Ayah sudah berbaik hati untuk memberikan Ayah kesempatan. Dia ingin kamu menyetujui penawaran dia. Ayolah, Kalila, untuk Ayah kamu. Selama ini, Ayah selalu berusaha agar kamu tetap bsia bersekolah—”
“Hentikan omong kosong itu. Ayah tidak pernah melakukan apapun padaku selain menuntut aku untuk menyetujui permintaan Ayah yang sangat aneh itu. Aku masih ingin hidup normal dan jika aku menuruti perintah Ayah, maka kebebasan aku akan diambil. Ayah, apa Ayah sadar dengan yang Ayah minta padaku?” Kalila menarik napasnya perlahan. Dia tersulut emosi hingga tidak sadar bahwa Matteo ada di sampingnya dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi. “Aku bisa mengambil jalur hukum jika Ayah terus seperti ini. Aku lelah Ayah dan aku muak. Ayah memang ayahku tapi selama ini Ayah tidak pernah hadir dalam hidupku.”
“Kalila…”
Kalila tidak ingin isakannya terdengar oleh sang ayah dan dia memilih untuk mematikan panggilannya. Dia menundukkan kepalanya dan menangis. Dia tidak peduli lagi jika Matteo kesal karena dia selalu saja menangis. Hati Kalila sakit bukan main dan dia tidak bisa menahannya lagi.
“Kal.”
Mobil yang sedang dikendarai oleh Matteo tiba-tiba saja berhenti di samping jalan. Matteo kini menghadapkan badannya pada Kalila. “Kal, tenang dulu.” Matteo sempat ragu ketika dia akan menepuk-nepuk pelan punggung Kalila. Dia takut tindakannya itu malah tidak sopan. Namun, melihat Kalila yang sepertinya tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, alhasil Matteo memberanikan dirinya.
“Kalila.”
Kalila mengusap air matanya walaupun itu sia-sia karena air matanya kembali turun. Dia menarik napas dalam-dalam agar isakannya mereda. Dia baru sadar jika Matteo menatapnya dengan intens dan bahkan hampir memeluknya. “Kal, kamu akan baik-baik saja. Aku di sini.”
Matteo tahu ucapannya itu memang tidak banyak membantu, tapi setidaknya dia bisa menunjukkan pada Kalila bahwa ada orang yang peduli padanya. Bahwa Kalila tidak sendirian di sini.
“Maaf,” lirih Kalila setelah dirinya mulai tenang. Isakannya masih terdengar walaupun kecil. “Aku memang memalukan.” Kalila tertawa miris. “Kamu pasti menyesal sudah mau meminta tolong padaku. Karena nyatanya, aku hanya akan membuat kamu semakin kesulitan.”
Matteo menggeleng tegas. “Siapa yang mengatakan itu? Aku sama sekali tidak menyesal dan kamu tidak memalukan, Kalila. Berhenti merendahkan diri kamu sendiri.” Matteo tidak suka dengan apa yang diucapkan Kalila. Dia tidak mau gadis itu merasa dirinya tidak berharga.
Kalila memilih diam. Dia harus menenangkan dirinya ketika bayang-bayang wajah ketus ayahnya dan tingkah laku ayahnya yang tidak masuk akal menghiasi memori di otaknya.
“Kal, itu tadi ayah kamu?”
Kalila mengangguk.
“Apa yang dia mau? Apa dia masih memaksa kamu untuk—”
“Iya.” Kalila tidak ingin mendengar lebih lanjut apa yang diminta ayahnya padanya. Kalila sudah tahu hal itu dan dia tidak butuh seseorang untuk menjelaskannnya.
Matteo menghela napas. Dia sendiri heran bagaimana ada orang tua yang tega melakukan itu pada anaknya. “Kemarikan ponsel kamu.” Matteo mengambil pelan ponsel Kalila.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Meminta nomor ponsel ayah kamu. Sore ini, dia tidak akan memiliki alasan untuk menghubungi kamu lagi.”
***