Kalila membiarkan Matteo untuk mengirim nomor ponsel ayahnya. Dia sendiri sudah lelah dengan sikap Tony yang semakin hari semakin menyebalkan. Untuk kali ini saja, Kalila tidak akan peduli.
Isak tangis Kalila sudah mereda dan dia hanya menatap Matteo dengan tatapan sendunya. “Kamu masih ingin pergi ke sekolah?”
Keryitan di dahinya langsung muncul ketika mendengar hal itu. “Maksud kamu?”
“Aku bisa membawa kamu ke suatu tempat. Siapa tahu kamu ingin menyegarkan pikiran kamu.” Oh, mungkin jika gadis lain yang berada di posisinya, mereka akan kegirangan karena dibawa melarikan diri oleh Matteo Aarav. Namun sayangnya, Kalila tidak bisa merasa seperti itu. Baginya, pergi ke sekolah adalah pilihan terbaik dari pada nanti dia bersama Matteo yang hanya akan menimbulkan kecanggungan.
“Tidak, terima kasih.” Kalila menyandarkan punggungnya. “Tugasku adalah belajar, bukan bolos.”
Sontak ucapan Kalila yang sangat sinis itu membuat Matteo tertawa renyah. Ada apresiasi bagi Kalila karena gadis itu mementingkan pendidikannya dari pada apapun. “Kalau kamu ingin bolos, datang saja ke kantorku, Kalila. Aku punya banyak tempat yang menarik untuk kita kunjungi.” Matteo mulai menjalankan kembali mobilnya. Sebenarnya, saran yang dia berikan itu hanyalah sebagai alasan agar dia bisa memastikan Kalila baik-baik saja. Dia takut apa yang sudah diucapkan oleh Ayah gadis itu mengganggu harinya dan membuatnya semakin buruk.
Matteo merasa bahwa dia memiliki tanggung jawab atas gadis ini dan dia tidak ingin dirinya tidak ada ketika Kalila membutuhkannya.
“Kal.”
“Hm?”
“Kamu baik-baik saja?” Kalila yang mendapatkan masalah, namun Matteo yang hatinya semakin tidak tenang.
Kalila hanya diam saja. Dia harus berusaha agar dirinya baik-baik saja walaupun dia ragu. “Semuanya akan berjalan dengan semestinya. Aku tidak akan kenapa-napa.”
Matteo melirik gadis itu. Hidup dan pengalaman pahit seolah sudah merenggut senyumnya dan selalu memaksanya untuk mengatakan; aku baik-baik saja. Walaupun dia sudah terlihat dengan jelas tidak merasa seperti itu. Karena itu pula, Matteo ingin hadir dalam hidup Kalila. Entah dianggap apa oleh Kalila, namun dia ingin wanita itu tahu bahwa ada dirinya yang bisa diandalkan.
Kalila tidak lagi sendiri.
“Tolong segera telepon aku jika ada sesuatu, ya.”
Kalila mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Matteo.
***
Setelah sampai di ruangannya, Matteo langsung mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya dan membuka ponselnya. Dia mencari nomor yang baru saja ia simpan. Matteo men-dial nomor tersebut.
Butuh beberapa nada dering sebelum akhirnya diangkat oleh sang pemilik nomor.
“Halo, maaf, siapa ini?”
Matteo tersenyum miring. Pria yang tidak tahu malu dan memaksa untuk menjerumuskan anaknya sendiri itu akan mendapatkan apa yang harusnya ia dapatkan. Matteo akan menjaminnya. “Apa ini benar Ayah dari Kalila?”
Matteo mengeryitkan dahinya samar ketika tidak ada jawaban apapun dari seberang sana. Bibirnya terbuka untuk kembali bersuara, namun ia urungkan ketika mendengar pria itu mulai menjawabnya lagi. “Si-siapa ini?” Suaranya sedikit bergetar dan Matteo tahu pria itu ketakutan sekarang.
Bagus.
Dia memang ingin membuat pria itu takut.
“Saya Matteo Aarav dan saya ingin bertemu dengan Anda di jam makan siang ini. Apa bisa?”
Kembali hening. Matteo gemas sendiri karena pria itu sangat lama menjawabnya. Padahal, setelah ini dia masih ada rapat yang harus dihadiri dan dia tidak ingin membuang waktunya. “Bagaimana?” Nada suara Matteo kental dengan intimidasi. Tidak heran kenapa lawan bicaranya sangat gugup.
“Bagaimana … jika saya tidak mau? Saya tidak mengenal Anda sama sekali.”
Matteo tersenyum miring. “Anda akan mendapatkan bayaran yang setimpal. Tenang saja, saya tidak akan mencelakai Anda jika Anda mau bertemu dengan saya sekarang. Jika Anda menolak …” Matteo menghela napasnya. “… saya tetap bisa mengetahui posisi Anda.”
“Ba-baiklah! Saya akan … bertemu dengan Anda.”
“Fine. Saya akan mengirimkan alamatnya segera.”
Matteo mematikan panggilan itu secara sepihak. Dia langsung mengirim lokasi tempat mereka akan bertemu. Setelah ini, dia akan memastikan bahwa Kalila akan hidup dengan tenang. Tidak ada lagi ketakutan atau kekhawatiran gadis itu karena ayahnya yang sangat berengsek.
“Pak Matteo, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda.”
Matteo mendongakkan kepalanya ketika sekretarisnya masuk ke ruangannya. “Siapa?” tanyanya kebingungan karena dia tidak ingat bahwa dia memiliki janji seseorang di pagi hari ini, karena dari awal pagi sampai jam makan siang nanti, dia harus menghadiri rapat.
“Pak Nino.”
Mendengar nama itu kembali disebut, Matteo menghela napas kasar. Dia tidak ingin bertemu dengan pria yang sudah menganggapnya merebut istri pria itu dan membuat seisi kantor heboh dengan statement bahwa Matteo memang masih mencintai Aya yang sudah menjadi istri orang lain.
Tapi, Matteo bukanlah pria pengecut. Bagaimana pun juga, dia rasa menghadapi Nino sekarang adalah pilihan yang benar.
“Suruh dia masuk,” ujarnya.
Sekretarisnya mengangguk dan mempersilakan Nino yang sedari tadi menunggu di luar, untuk masuk ke ruangan Matteo.
“Pagi, Matteo.” Nino menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk sopan santunnya pada pria itu.
Matteo bangkit dari duduknya dan mempersilakan pria itu untuk duduk di kursi yang berada di seberang meja kerjanya. “Jadi, ada apa?” Matteo melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dia akan meninggalkan Nino jika ternyata pria itu membicarakan hal yang tidak penting—dan itu berarti adalah Aya.
“Saya memohon dengan sangat pada Anda, untuk menolak kedatangan istri saya jika dia datang ke kantor ini.”
Sontak hal itu membuat Matteo mengeryitkan dahinya heran. Benar apa yang dipikirkannya sebelumnya. Nino memang datang untuk hal yang sangat tidak berguna. Kenapa pula pagi ini harus nama Aya yang ia dengar?
“Pak Nino, saya tidak memiliki kewenangan untuk menolak tamu yang datang, itu melanggar etika di kantor kami. Tapi sungguh, jika istri Anda datang sekalipun, saya sama sekali tidak ingin menemuinya.”
Nino berdecak. “Apa ini alasan Anda untuk selalu bertemu dengan Aya?”
Sungguh, Matteo tidak bisa lagi menahan tawanya untuk meledek Nino. “Di sini yang menjadi masalah adalah istri Anda. Baik saya maupun Anda, sama sekali tidak menginginkan ini terjadi, bukan? Jadi sebaiknya Anda berhenti menyalahkan saya.”
Nino menaikkan sedikit dagunya, seolah mengatakan kalau dia tidak takut pada Matteo. “Saya akan mencabut saham saya dan membatalkan kucuran dana pada proyek pembangunan itu.”
Matteo menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Sebenarnya, perusahaannya bisa dengan mudah mencari investor lain jika Nino tidak ingin membantu kelangsungan proyek itu. Bukan masalah besar untuk Matteo dan perusahaan tempat ia bekerja. Namun hal itu akan menjadi masalah jika orang-orang mengetahui apa penyebabnya. Kredibilitas Matteo dan cara kerjanya akan dipertaruhkan.
“Anda tahu bahwa mencampurkan urusan kantor dan pribadi bukanlah hal yang tepat, bukan?”
“Dan Anda sendiri tahu seberapa jengkelnya saya melihat istri saya sendiri yang menyukai Anda secara terang-terangan, bukan?”
Matteo berdecak dan memalingkan wajahnya dari Nino. Pria ini benar-benar menyebalkan.
“Saya bahkan tidak pernah peduli pada istri Anda.”
“And that’s the problem.”
***