Chapter 41

1139 Kata
Oke. Matteo sudah cukup meladeni percakapan yang tidak ada artinya ini. Nino hanya membuang-buang waktunya dan pembicaraan mereka tidak akan selesai dengan mudah. “Hentikan omong kosong ini. Anda bisa melakukan apapun yang Anda mau, bahkan mengundurkan diri sebagai investor di perusahaan ini. Saya tidak akan peduli.” Matteo tidak akan menahan orang yang sangat menyebalkan ini. Dia berubah pikiran. Dia tidak akan peduli jika orang lain menganggap kinerjanya macam-macam. Karena faktanya, kenyamanannya dalam bekerja sama dengan investor lebih penting. “Saya hanya minta agar Anda menolak kedatangan istri saya di sini. Ini langkah pertama saya agar Anda juga merasa tidak diganggu, apa itu sulit untuk Anda?” Nino menatap Matteo dengan tatapan tidak percaya. “Bukankah Anda sendiri yang mengatakan kalau Anda juga tidak nyaman ketika istri saya selalu mengunjungi Anda?” lanjut Nino. Dia menghela napasnya lelah. “Jika Anda bertingkah seperti ini, maka saya juga wajar jika menganggap Anda memiliki perasaan yang sama dengan istri saya.” Matteo mendengus. Dia kembali menegakkan punggungnya dan menatap Nino dengan tajam. “Baiklah, Pak Nino. Istri Anda tidak akan diizinkan untuk kemari dan saya tidak akan menerima kerja samanya lagi—jika atas namanya pribadi.” Matteo harus mengalah. Karena jika tidak, bukan hanya proyek itu saja yang terancam, tapi nama baiknya juga. Nino adalah tipikal pria yang tidak sungkan untuk mengambil risiko. Itu berarti, pria tersebut juga bisa melakukan apapun yang belum pernah dipikirkan Matteo jika dia tidak melakukan apa yang diinginkan Nino. “Everybody wins.” *** Setelah bertemu dengan Nino dan menghadiri rapat, Matteo menepati janjinya pada ayah dari Kalila. Di jam makan siang itu, Matteo sudah berada di salah satu ruangan privat di restoran tempat mereka akan bertemu. Dia melirik ponselnya beberapa kali dan berdecak ketika tahu pria itu tidak datang sesuai dengan yang mereka sepakati. Matteo baru saja akan menelepon pria itu ketika pintu ruangan tersebut diketuk dari luar. Matteo menolehkan kepalanya. Sebelah alisnya terangkat ketika melihat ayah Kalila masuk ke ruangan itu. “Silakan duduk.” Matteo bisa melihat wajah terkejut dari pria paruh baya itu, karena memang sebelumnya mereka sudah pernah bertemu. “Kamu …?” “Terkejut?” tanya Matteo dengan senyuman miring menghiasi wajahnya. Dia melipat kedua tangannya di depan tubuhnya. Satu kebanggaan karena dia bisa membuat pria itu merasa terintimidasi. “Jadi, kamu yang menyuruh aku ke sini dan mengancam aku?” Tidak ada lagi rasa takut dalam diri Tony. “Iya.” Matteo menyilangkan kakinya ke atas pahanya. “Saya ingin memberikan penawaran pada Anda.” Tony berdecih. Dia memalingkan wajahnya dari Matteo. “Jika kamu ingin tahu apa yang terjadi antara aku dan anakku sendiri, saya tidak akan memberitahu kamu. Itu bukan urusan kamu sama sekali dan saya adalah ayah Kalila. Saya berhak untuk menyuruhnya.” Sungguh, jika Matteo tidak sadar bahwa sekarang dia berada di tempat umum dan bahwa pria itu jauh lebih tua darinya, mungkin Matteo sudah akan menghajarnya habis-habisan. “Tolong dengarkan apa yang ingin saya tawarkan lebih dulu, Pak Tony.” Tony berdecak. “Baiklah.” “Saya akan menawarkan untuk membayar semua utang yang Anda punya.” Tony mengeryitkan dahinya. Dia sempat lupa bahwa pria yang pernah bertemu dengannya ini menguping pembicaraannya dengan Kalila di klub waktu itu. Pria itu juga memarahinya dan mengatakan kalau Tony tidak pantas untuk menjadi ayah darii Kalila. “Kamu akan membayar semuanya? Oh, apa anak itu akhirnya menjual diri pada kamu?” Tony menggelengkan kepalanya sambil tersenyum meledek. “What a shame.” Matteo mengepalkan tangannya. Menahan emosinya yang mulai tersulut. Jika tidak pandai-pandai mengendalikan emosinya, Matteo yang justru akan disalahkan karena dia melakukan kekerasan pada pria ini. “Saya tidak pernah melakukan hal sehina itu. Anda tidak perlu tahu apa yang membuat saya ingin membantu anak Anda, tapi yang jelas … saya tidak akan membiarkan Kalila Beatrice tersiksa seumur hidupnya karena memiliki Ayah seperti Anda.” Tony terdiam. Jika memang apa yang dikatakan pria itu benar, maka adalah satu keuntungan baginya. Tony tidak perlu memaksa Kalila lagi dan masalahnya akan selesai begitu saja. “Apa syaratnya?” tanya Tony yang membuat Matteo tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil menggaet atensi Tony Mathias. “Jangan temui Kalila. Sekalipun. Berhenti berhubungan dengannya dan biarkan dia hidup tenang. Hidup gadis itu lebih tentram ketika Anda tidak ada di sisinya. Anda bukan ayahnya. Anda hanya seorang pria yang menjadi benalu di hidupnya.” Tony mengeryitkan dahinya. “Kamu tidak tahu apa yang sudah aku lakukan untuknya!” “Apa? Memaksanya untuk menjual dirinya pada pria asing?” Ucapan Matteo kembali membuat Tony membisu. “Asal Anda tahu saja, pria itu mengganggu Kalila dan bahkan nekat menahannya ketika Kalila akan pulang sekolah. Dia berniat memaksa Kalila! Anda mungkin merasa bahwa hidup Anda cukup menderita, tapi apa Anda sendiri pernah berpikir soal hidup putri Anda?” Posisi Tony terpojokkan. Dia tidak memiliki alasan untuk membela dirinya. Dia memilih untuk diam saja dan memalingkan pandangannya dari wajah pria yang lebih muda darinya itu. “Saya akan membayar semuanya. Utang-utang Anda, atau kalau perlu, saya akan memberikan Anda cukup uang untuk menghidupi diri Anda sendiri tanpa mengganggu Kalila.” Tony malu. Untuk pertama kalinya, dia merasa kalah. Pria di hadapannya itu lebih muda darinya namun mampu membuatnya membisu karena setiap kata yang dia ucapkan adalah fakta. “Deal?” Jantung Tony bertalu-talu lebih cepat dari biasanya. “Deal,” ujarnya pelan. Matteo mengangguk. Dia segera mengeluarkan ponselnya. “Sebutkan siapa nama pria itu dan berapa nominal yang dia inginkan.” Tony mendongak dan menatap Matteo dengan terkejut. “Kamu sungguh akan membayarnya sekarang?” “Apa Anda berpikir saya berbohong ketika mengatakan akan membayar semuanya?” Tony tidak tahu latar belakang pria di hadapannya, tapi dia yakin bahwa pria itu pasti sangat kaya. Benar-benar kaya hingga mau membayar utangnya detik itu juga. Tony menengguk ludahnya gugup ketika dia akan mengatakan siapa pria yang sempat ia kenalkan pada Kalila untuk mennjadikannya simpanannya. “Oh, jadi dia pria yang mengganggu Kalila juga. Interesting,” ujar Matteo sambil tersenyum miring. “Berapa yang dia mau?” Tony menyebutkan nominalnya—yang menurut Matteo sungguh kecil. Dia tidak menyangka bahwa seorang ayah tega menjual anaknya sendiri untuk jumlah uang sekecil itu. “Saya akan menyuruh asisten saya mencari informasinya dan langsung menghubunginya.” Matteo bangkit dari duduknya dan membetulkan jas yang ia pakai. “Setelah ini, hubungi saya jika Anda butuh sejumlah uang untuk … entahlah, berfoya-foya? Karena saya tidak yakin Anda memiliki tujuan hidup yang jelas,” cemooh Matteo. “Jika saya tahu Anda menemui Kalila lagi, Anda akan tahu akibatnya.” Matteo meninggalkan Tony dengan kegundahan yang melanda. Jadi, setelah ini, dia tidak bisa bertemu dengan putrinya lagi. Itu berarti dia sudah tidak punya keluarga lagi; istrinya meninggalkannya dan kini dia juga meninggalkan putrinya. Apa ini keputusan yang tepat? Seharusnya Tony senang karena masalahnya sudah selesai. Tapi, kenapa hatinya malah sakit? ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN