Chapter 42

1175 Kata
“Terima kasih, ya, Kalila.” Kalila tersenyum dan menganggukkan kepalanya sopan pada wali kelasnya karena dia baru saja membantu gurunya itu untuk memeriksa tugas-tugas akhir dari para siswa di kelasnya. Kalila baru saja akan pamit, namun sepertinya gurunya itu masih ingin berbasa-basi. “Kamu ada rencana untuk kuliah, bukan?” Kalila mengangguk semangat. “Iya, Bu. Tapi untuk sekarang, saya masih berusaha untuk mencari beasiswa yang cocok di kuliah nanti.” “Oh, Pak Matteo menawarkan beasiswa kuliah untuk murid-murid di sini, Kalila. Kamu sudah tahu itu, bukan?” Kalila mengeryitkan dahinya. Dia lupa apakah gurunya sudah mengatakan hal itu sebelumnya. “Saya … belum tahu.” Gurunya tersenyum kecil. “Beberapa siswa akan ditawarkan beasiswa, tapi tentu saja dengan syarat dan ketentuan sendiri. Ibu akan menghubungi kamu jika nanti sudah dibuka untuk tes dan wawancaranya.” Kalila mengangguk kembali. “Terima kasih, Bu.” Guru itu mengalihkan pandangannya ke luar kantor. “Ah, panjang umur. Pak Matteo baru saja dibicarakan dan ternyata beliau sudah ada di luar.” Gurunya mengendikkan dagunya ke arah lain, menunjuk Matteo Aarav secara tidak langsung. Kalila langsung mengeryitkan dahinya kebingungan sekaligus tidak percaya. “Apa, Bu?” tanyanya pelan. “Itu ada Pak Matteo.” Kalila mengikuti pandangan gurunya dan benar saja, Matteo sudah berada di luar kantor. Menyandarkan tubuhnya ke tembok di sampingnya seraya mengotak-atik ponselnya. Astaga! Kalila membelalakkan matanya. “Sebentar, Ibu ingin menyapanya.” Kalila panik untuk alasan yang tidak jelas. “A-aku …” Sialnya, langkah kakinya mengikuti gurunya itu. Seharusnya dia diam saja di ruang guru itu, bukan? “Pak Matteo, selamat sore.” Matteo mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke seseorang yang memanggilnya. Senyuman tipisnya terbit di wajah tampan itu. “Sore, Bu,” ujarnya dengan sopan pada wanita yang menjadi salah satu guru di SMA Anak Mandiri itu. “Ada keperluan apa di sini, Pak?” Semua orang tahu bahwa Matteo adalah pria yang sibuk dan jarang sekali memiliki waktu hanya untuk pergi ke sekolah ini tanpa tujuan. Jadi, pantas saja guru tersebut bingung melihat kehadirannya. Kalila di sampingnya hanya mengeryitkan dahinya sambil melirik Matteo bingung. Tatapannya juga ikut bertanya; sedang apa kamu di sini? “Saya ada keperluan pribadi di sini.” Matteo menjawabnya sambil membalas lirikan Kalila. Gadis itu tahu apa yang dimaksud dan dia hanya melotot garang pada Matteo. Sementara itu, wali kelas Kalila tidak mengerti urusan apa yang dimaksud Matteo. Namun, dia juga tidak memiliki keberanian yang cukup untuk menanyakan lebih lanjut. Karena itu pula, dia pamit undur diri dari hadapan Matteo. “Ayo pulang.” Kalila menundukkan kepalanya selepas kepergian wali kelasnya dan dia mendongak saat Matteo berujar padanya. Dia menatap Matteo dalam diam. “Kal, kamu pikir aku ke sini untuk apa selain untuk menjemput kamu?” Oh. Sial. Kalila sontak langsung menggeleng. Suatu kesalahan besar jika dia membiarkan Matteo menjemputnya dan membiarkan orang lain tahu hal itu. Semua murid dan mungkin guru-gurunya akan kebingungan dan mulai bertanya-tanya mengenai hubungannya dengan Matteo. “Jangan gila. Kita masih ada di sekolah,” bisik Kalila sambil melirik ke kanan dan kiri. Berjaga-jaga jika ada seseorang yang mendengar mereka. Alih-alih takut atau sepemikiran dengan Kalila, Matteo justru hanya tertawa geli melihat tingkah Kalila. Kalila bertingkah seolah mereka melakukan hal yang salah. Padahal nyatanya, Matteo sungguh hanya ingin menjemput Kalila saja. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menjem—” Kalila tidak mengatakan apapun. Dia membalikkan badannya dan berjalan cepat menghindari Matteo sebelum ada orang yang mendengar ataupun melihat mereka berdua. Matteo terperangah dan menatap punggung gadis itu dengan tatapan bingung. “Kalila?” Kalila semakin mempercepat langkahnya menjauhi Matteo. Dia menengok ke belakang dan melotot ketika Matteo malah mengejarnya. Akhirnya, terjadilah aksi lomba lari cepat di koridor sekolah itu. “Kalila.” Kalila akhirnya menyerah dan menghentikan aksi konyolnya ketika mereka sudah berada di samping gerbang sekolah. Di mana kini gerbang itu sangat ramai dan Kalila menyesali keputusannya karena sudah berlari bodoh seperti tadi. Kalila berdecak dan membalikkan badannya pada Matteo. “Apa?” tanyanya sambil berdesis sebal. “Kamu mau meninggalkan aku?” Kalila menarik napasnya dalam-dalam. Tolong ingatkan dia untuk menahan emosinya karena dia masih ada di lingkungan sekolah dan tidak akan berakhir baik jika dia tiba-tiba berteriak pada Matteo. “Apa yang kamu inginkan? “Ayo.” Dari tadi, Matteo hanya mengatakan satu kata; ayo. Namun kali ini, Matteo sedikit memaksa karena dia menarik tangan Kalila lembut. Kalila langsung terkejut bukan main dan langsung melepaskannya. “Sial,” umpatnya pelan yang masih bisa didengar oleh Matteo. Dia tidak ingin membawa masalah dan akhirnya memilih untuk mengalah. Untungnya, Matteo memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang sekolah sehingga Kalila bisa langsung pergi ke sana tanpa bertanya pada pria itu lebih dulu. Matteo mengulum senyum geli ketika melihat Kalila yang akhirnya tidak lagi melawan. *** “Jika kamu melakukan seperti tadi lagi, aku tidak akan mau membantu kamu mengusir Aya.” Kalila mengancam Matteo ketika pria itu baru saja masuk ke mobilnya sendiri. Matteo menghela napasnya lelah. “Aku hanya menjemput kamu. Sebenarnya itu bukan masalah besar jika kamu langsung mengiyakannya dan tidak perlu berlari-lari seperti tadi.” Kalila memutar bola matanya. “Kamu pikir tidak akan ada orang lain yang penasaran jika melihat kita bersama?” “Tidak ada.” Matteo menjawab santai sambil menghidupkan mobilnya. Hal itu membuat Kalila mengepalkan tangannya menahan emosi. Matteo tertawa renyah. “Kenapa kamu tiba-tiba menjemputku?” tanya Kalila sambil melirik Matteo. Matteo sempat terdiam sementara. Sebenarnya, dia menjemput Kalila hanya agar dia yakin bahwa wanita itu baik-baik saja dan ayah dari gadis itu menepati janjinya untuk tidak mengganggunya lagi. “Matteo,” panggil Kalila ketika Matteo tidak juga mengatakan apapun. Dia kini menghadap Matteo sambil mengeryitkan dahinya tidak suka. “Kenapa diam saja? Ini seperti bukan kamu.” “Kalila.” Matteo sekilas melirik Kalila dan dia mendapati tatapan marah dari gadis itu. “Apa ayah kamu menghubungi kamu seharian ini?” Kalila semakin tidak mengerti ke mana Matteo ingin membawa percakapan mereka. Dia hanya bertanya kenapa pria itu menjemputnya tiba-tiba ketika mereka bahkan tidak memiliki janji apapun. Dan sayangnya pria itu tidak menjawabnya dan justru melempar pertanyaan lain. “…tidak,” ujarnya pelan. “Baguslah.” “Kenapa?” tanya Kalila dengan perasaan was-was. Matteo tersenyum bermaksud menenangkan Kalila. “Tidak apa-apa, aku hanya—” “Aku tidak suka orang yang berbohong.” Kalila bisa menyadari dari gelagat Matteo bahwa pria itu sedang mengelak apa yang sebenarnya ingin dia katakan. “Jadi, kenapa dengan Ayahku?” Matteo menghela napas. “Aku sudah menyelesaikan masalah kamu. Aku membayar utang yang ayah kamu miliki. Jadi—” “Apa?” Kalila terkejut bukan main. Bukan ini yang dia mau. Bukan Matteo yang dengan sukarela melakukan ini. “—dan aku meminta dia untuk tidak pernah bertemu kamu lagi, atau bahkan mengganggu kamu lagi.” “Matteo …” “Kamu aman sekarang. Aku menjamin dengan seluruh hatiku, kalau kamu akan aman. Sebisa mungkin aku akan membuat kamu tidak terganggu lagi, Kal.” Kalila kehabisan kata-kata. Masalahnya, bagaimana jika dia sungguh jatuh pada pria ini? Itu sangat berbahaya … ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN