Chapter 43

1133 Kata
Matteo memang tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan apapun dari Kalila karena dia melakukan itu semua dengan tulus. Namun, Kalila yang tiba-tiba terdiam sambil menundukkan pandangannya adalah respon terakhir yang dia inginkan. Matteo beberapa kali melirik dan sempat berpikir bahwa Kalila hanya terlalu senang karena masalah beratnya sudah selesai, tapi Matteo juga sadar bahwa Kalila sekarang jauh dari kata bahagia. Pria itu semakin kalut. Dia takut bahwa apa yang sudah ia lakukan adalah salah di mata Kalila. Apa seharusnya Matteo tidak menyelesaikan masalah gadis itu tanpa persetujuan Kalila? Apa seharusnya mereka membicarakan semua ini terlebih dahulu? “Kalila.” Matteo memanggil gadis itu guna menarik perhatiannya. Dia bahkan memelankan laju mobilnya. Sayangnya, Kalila tidak merespon apapun—entah tidak merespon atau tidak mendengar karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Matteo menghela napas lelah. “…kenapa kamu melakukan ini?” Ketika Matteo menyerah dan tidak lagi menanyakan apapun pada Kalila, akhirnya gadis ini pun membuka suara. Matteo meliriknya dan mengeryitkan dahinya samar ketika mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. “Bukankah ini persetujuan kita, Kalila? Kamu yang membantu aku untuk menjauhi Aya dan aku yang membantu kamu.” Matteo tidak mengerti kenapa Kalila menganggap tindakannya ini bukan sebagai bantuan. Kalila menggeleng kuat. “Tapi bukan seperti ini yang aku inginkan?” “Lalu apa?” Kalila meremas tas sekolah yang ada di pangkuannya kuat-kuat. Dia gugup sekalipun nada suara Matteo tidak naik barang satu oktaf pun. Pria itu sangat tenang dan itu-lah yang membuatnya semakin gugup. “Aku … aku tidak tahu kalau kamu akan menyelesaikannya sendiri,” gumam Kalila dengan kepala yang semakin menunduk dalam dan tangan yang semakin erat menggenggam tasnya. “Kamu ingin aku—” “Matteo, jika kamu melakukan hal semacam ini terus-menerus, lama-kelamaan aku tidak bisa menganggap itu sebagai bantuan.” Kalila berkata sangat lirih dan menatap Matteo dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Seumur hidupnya, ia menghabiskannya dengan mencintai satu orang; Atlas. Dia tidak pernah membiarkan dirinya untuk jatuh pada pesona orang lain. Mencintai Atlas saja sudah sulit. Menahan perasaan tidak wajar pada kakak tirinya sendiri saja sudah membuat Kalila ingin menyerah. Namun, untuk pertama kalinya … Kalila tidak yakin bisa menahan dirinya lagi. Kalila merasa bahwa … dirinya bisa membuka hatinya sekali lagi pada … Matteo Aarav. Hal itu memang terkesan sangat gila. Kalila sendiri tidak tahu bagaimana bisa dia beranggapan seperti itu. Namun, hari-hari yang ia lewati bersama Matteo, membuat dia semakin luluh. Tidak pernah ada seorang pun yang memperlakukan dia seperti Matteo. Tidak pernah ada, bahkan Ibu dan Ayahnya pun tidak pernah bersikap lembut ataupun membela Kalila. Bayangan kelam soal keluarganya yang hancur dan membuatnya harus menghidupi kebutuhannya sendiri, seolah sirna dengan kedatangan Matteo Aarav ke hidupnya. Pria itu mengayomi dan melindunginya. Di mana tidak pernah sekalipun Kalila berani berpikir seperti itu. Kalila tidak ingin berharap pada manusia. Namun, Matteo membuatnya ingin menaruh harapan pada mereka. “Kalila?” Matteo, tanpa perlu dijelaskan lagi, mengerti apa yang dimaksud Kalila. Dia sudah berumur hampir tiga puluh tahun. Tidak heran jika dia dengan mudah mengerti maksud gadis yang sebelas tahun lebih muda darinya itu. “Aku tidak ingin jatuh cinta pada kebaikan kamu. Karena … mungkin kamu hanya berlandaskan rasa kasihan, bukan cinta.” Matteo pernah gagal dalam hubungannya sebanyak dua kali. Dia gagal memiliki wanita yang ia kira adalah satu-satunya dan terakhir dalam hidupnya. Dari sana, Matteo seolah berhenti berharap. Dia tidak ingin mengharapkan ada satu wanita lagi yang akan membuatnya merasakan hal yang sama seperti dua wanita sebelumnya. Tapi, Kalila … gadis itu menumbuhkan secercah harapan. Bagi mereka. “Bagaimana jika aku juga tidak melakukan itu atas dasar belas kasihan.” Pandangan mereka bertemu untuk sesaat dan Matteo memutuskan kontak mata mereka karena dia masih harus menyetir dengan benar. “Apa?” lirih Kalila. “Bagaimana jika … aku juga menaruh secercah harapan, Kalila?” Perlahan, Matteo mendekatkan tangannya dan mengulurkannya untuk menyentuh ujung jari Kalila. Sentuhan ringan yang membuat jantung keduanya bertalu-talu. Matteo hanya menyentuh tangan Kalila, namun hal itu membawa Kalila terbang ke awang-awang. Senyuman yang terpatri di wajah Matteo dan pipi Kalila yang merona adalah bukti bahwa rencana mereka dua-duanya akan gagal. *** Tony menatap putra satu-satunya itu dengan tatapan memincing. “Kamu berjanji akan menjaga adik kamu, bukan?” Dia meminta anaknya untuk bertemu dengannya setelah dia pulang dari restoran tersebut. Seharusnya, dia bisa melangkahkan kakinya dengan ringan karena beban yang dulu ada di pundaknya kini sudah hilang. Namun sayangnya, Tony sama sekali tidak merasakan hal itu. Pundaknya justru terasa semakin berat. Pikirannya tidak ada hentinya tertuju pada Kalila. Akhirnya, dia memutuskan untuk bertemu dengan Atlas di sela-sela perkuliahan lelaki itu. Dia ingin menitipkan Kalila pada Atlas. Hanya anaknya itu yang ia percayai untuk menjaga Kalila. “Ayah tidak bisa lagi bertemu dengannya atau Ayah akan mendapat masalah, Atlas. Jadi, di sini hanya kamu yang bisa Ayah percaya untuk menjaga dia.” Tidak pernah sekalipun Tony berharap apapun pada anaknya itu. Tidak pernah pula dia meminta tolong ataupun memohon seperti ini. Tapi, untuk kali ini saja, dia akan melakukan apapun untuk memastikan bahwa putrinya aman. “Kenapa Ayah baru bertingkah seperti ini ketika Ayah tidak bisa lagi bertemu dengannya? Ke mana saja Ayah selama ini?” Atlas tidak lebih seperti anak yang menghakimi orang tuanya sendiri. Tony ingin marah, namun dia juga tahu kalau dia tidak bisa menghakimi sebelah mata. Atlas juga kehilangan sosok kedua orang tuanya dan lelaki itu sama tidak stabilnya dengan Kalila. Tapi, Tony berpikir bahwa Atlas lebih tua dari Kalila dan itu bisa dijadikan alasan untuk membuatnya menjaga adiknya dengan benar. “Keadaan yang memaksa Ayah untuk seperti ini.” Tony memohon. Nada suaranya meminta iba dari putranya sendiri. “Keadaan bahwa Ayah hancur sendiri dan meninggalkan kami berdua dengan segudang masalah? Lalu Ayah kembali seolah Ayah tidak memiliki dosa dan ingin kami menyelesaikan masalah Ayah?” tebak Atlas yang membungkam habis Tony. Atlas berdecih dan mengalihkan pandangannya dari wajah ayahnya. Muak bukan main. “Selama ini aku memang tidak pernah peduli dengan Ayah. Aku memang tidak pernah mau ikut campur dan memilih untuk bersikap dingin. Tapi percayalah, jauh dari lubuk hatiku, aku sangat membenci Ayah.” Tony terdiam. Iya, ini memang konsekuensi yang ia dapatkan karena pilihannya sendiri. Sungguh dia tidak akan menyalahkan Atlas ataupun Kalila dengan sikap mereka yang seperti itu. Tapi, jujur saja, hatinya sakit. Mereka sama-sama terluka. “Tidak apa-apa. Ayah akan sangat mengerti. Ayah tidak akan melarang kamu untuk membenci Ayah. Tapi, Ayah hanya minta satu; tolong jaga adik kamu. Pastikan dia baik-baik saja dan jangan pernah melukai dia.” Tony Mathias bangkit dari duduknya. Dia menatap anak lelakinya untuk terakhir kali. “Ayah …” Atlas menggantungkan ucapannya dan membuat Tony sempat menghentikan langkahnya untuk berbalik. “… kamu sangat pengecut.” Tony mengira bahwa dia sudah menyelesaikan masalahnya. Namun, dia tidak tahu bahwa dia sudah menciptakan masalah lain. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN