Chapter 44

1143 Kata
Ada satu hal yang mengganggu pikiran Atlas ketika tahu bahwa masalah ayahnya selesai; dari mana Ayahnya mendapat uang untuk membayar semua utangnya? Lalu, dia kembali ingat bahwa ayahnya sempat meminta tolong kepada Kalila untuk membayar utang-utang itu. Jadi kemungkinan, Kalila yang membayarnya. Tapi, bagaimana bisa? Dari mana adiknya itu mendapat uang sebanyak itu? Atlas tidak bisa fokus di sesi terakhir perkuliahannya dan ia ingin sekali segera pulang setelah itu. Untung saja, dia tidak memiliki janji dengan dosen atau siapapun setelah sesi kuliah berakhir, sehingga dia bisa langsung pulang ke rumahnya. Sesampainya di dekat rumahnya, Atlas memincingkan matanya ketika melihat Kalila berada di luar pagar bersama dengan seorang pria yang menyandarkan punggungnya ke mobil di belakangnya. Langkah kakinya perlahan melambat. Atlas sepertinya mengenali siapa pria itu. Itu … Matteo. Pria yang dekat dengan adiknya itu dan sudah membuatnya cemburu. Tangan Atlas mengepal kuat, menahan gejolak emosi dan cemburu yang tiba-tiba menyergapnya. Sial. Kenapa Kalila tidak juga menyadari bahwa dia sangat tidak suka ketika melihat dia bersama pria itu? Apa Atlas kurang jelas ketika dia mengatakan bahwa dia menyukai Kalila dan hanya ingin memiliki Kalila seorang? “Kalila.” Atlas kini berdiri tidak jauh dari mereka yang sayangnya kehadiran dia itu tidak disadari oleh dua orang itu sebelumnya. Kedua orang itu menoleh bersamaan dan Atlas langsung bisa melihat tatapan terkejut dari Kalila. “Atlas?” Atlas terdiam. Menatap adiknya dengan dingin dan melirik Matteo sesekali. Matteo juga menatapnya tidak kalah dingin. “Ayo masuk,” ujarnya dengan nada yang sangat datar. Kalila terdiam di tempatnya ketika Atlas sudah melangkahkan kakinya untuk membuka pagar rumahnya. “Aku … harus pergi ke suatu tempat.” Baik Matteo maupun Atlas sama-sama terkejut. “Ke mana?” tanya Atlas dengan nada yang tidak enak didengar. Karena itu berarti, Kalila akan pergi dengan Matteo dan Atlas tidak ingin itu terjadi. Sudah cukup dia melihat Kalila bersama pria itu di sore hari ini, dia tidak ingin membiarkan mereka kembali menghabiskan waktu berdua. “Ada sesuatu yang harus aku urus.” Kalila mendekat ke arah Matteo dan meremas bagian tangan dari jas yang dipakai Matteo. “Matty, kamu bisa mengantar aku, ‘kan?” bisik Kalila dengan tubuh sedikit gemetar. Dia takut. Sungguh ketakutan ketika melihat kedatangan Atlas, apalagi saat lelaki itu mengajaknya untuk masuk ke rumah mereka. Kalila tidak tahu apakah sikapnya ini sangat berlebihan, tapi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Atlas ketika mereka berdua, mampu membuatnya sedikit trauma. Matteo juga sangat kebingungan dengan perlakuan Kalila yang tiba-tiba. Namun, dia tidak mengatakan apapun selain mengikuti keinginan Kalila. “Kalila, aku bertanya pada kamu.” Atlas membuat Kalila terdiam di tempatnya. Dia sudah menarik Matteo bersamanya dan sekarang membalikkan tubuhnya membelakangi Atlas. Kalila menarik napas dalam-dalam. Alih-alih dia membalikkan badannya untuk menjawab Atlas, dia memilih untuk kembali melangkahkaan kakinya dan menggubris ucapan Atlas. *** Beberapa saat sebelumnya… Kecanggungan yang menerpa suasana di sekitar mereka ketika berada di mobil, bukanlah kecanggungan yang membuat masing-masing dari mereka muak dan ingin segera sampai tujuan. Namun, kecanggungan karena tanpa mereka ketahui, degup jantung mereka bertalu-talu seirama. Menyadari perasaan asing yang perlahan merayap tanpa izin. Sekuat apapun mereka menolak, mereka akhirnya tahu pasti bahwa perasaan itu memang nyata adanya. “Hm … jadi, apa yang harus aku lakukan setelah ini? Kak Aya masih mengganggu kamu?” tanya Kalila karena tidak ingin terus-terusan diam dengan pipi yang merah merona dan tangannya yang masih digenggam oleh Matteo. Matteo menghela napas ketika dia kembali teringat pada Aya. “Dia tidak menemuiku lagi. Tapi secara tidak langsung, dia memang mengganggu aku.” Kalila mengeryitkan dahinya. “Maksudnya?” “Suaminya datang ke kantorku pagi tadi dan mengatakan—menyuruh—padaku untuk menolak kedatangannya kalau sewaktu-waktu dia kembali datang.” Matteo menatap lurus jalanan di depannya. “Lalu, apa yang kamu katakan pada dia?” “Aku sebenarnya tidak masalah, lebih kepada tidak peduli. Aku tidak pernah menganggap ada kedatangan Aya, namun aku hanya kesal saja ketika suaminya menuduhku macam-macam. Aku tidak serendah itu untuk mengambil wanita yang jelas-jelas sudah memiliki suami.” Matteo berdecak sebal dan dia menyugar rambutnya. “Akal sehatku masih jalan dengan baik.” Kalila tertawa kecil melihat wajah frustrasi dari Matteo. Mereka masih tidak sadar juga bahwa kedua tangan mereka menggenggam satu sama lain. “Jadi, sepertinya aku sudah tidak memiliki tugas lagi, bukan? Karena sepertinya Kak Nino akan melakukan apapun untuk menghalangi Kak Aya menemui kamu.” Matteo melirik Kalila dengan tatapan kurang setuju. “Well, aku tidak tahu pasti, bagaimana jika dia masih mengganggu aku dan kamu sudah tidak ada untuk membantu aku?” Kalila baru saja akan membuka bibirnya untuk menjawab pertanyaan Matteo. Namun diurungkan ketika Matteo kembali melanjutkan ucapannya. “Kita sudah berjanji, Kalila. Dan kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak suka dengan orang yang berbohong ataupun mengingkari janji. Iya, ‘kan?” Kalila menghela napas pelan. “Iya,” ujarnya mengalah. “Bagus. Berarti perjanjian kita belum usai sebelum aku yang mengatakan kalau sudah sepatutnya kita usai.” Kalila kembali tertawa. Entah karena humornya yang terlalu anjlok atau memang melihat Matteo menggerutu dan berbicara panjang lebar ini membuatnya terhibur. “Oh iya, apa yang dikatakan ayahku ketika kamu membantunya?” Sialnya, untuk sesaat sebelumnya tadi, Kalila sempat melupakan bahwa dia memiliki satu pertanyaan di benaknya soal ayahnya. “Dia setuju dengan permintaan yang aku buat. Walaupun sebelumnya dia sempat sangat sinis padaku.” Kalila terdiam dan menundukkan pandangannya. Berarti, ayahnya memang tidak memikirkan apapun lagi selain utangnya itu. Ayahnya tidak peduli dengan nasibnya dan bagaimana Kalila tumbuh tanpa sosok kedua orang tuanya. Ayahnya tidak peduli dengan bagaimana Kalila akan bertahan hidup. Karena sejak awal, Kalila memanglah anak yang tidak diinginkan. “Maafkan aku, Kal.” Kini, Kalila merasakan tangannya kembali digenggam lebih erat oleh Matteo. *** Napas Kalila memburu ketika dia sudah berada di dalam mobil. Sesekali dia menoleh ke belakang dan melihat Atlas menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Lelaki itu seolah ingin menarik paksa Kalila karena sudah membuatnya malu di hadapan pria lain. “Aku … takut, Matteo.” Kalila berbicara lirih. “Tidak ada siapapun di rumah itu selain aku dan dia. Aku takut dia menyakiti aku lagi.” Kalila memejamkan matanya. Bayangan Atlas yang melakukan kekerasan padanya kembali terulang. Kalila tahu apa yang dilakukan Atlas memang tidak seberapa—mungkin, bagi sebagian orang—tapi baginya, tetap saja sama mencekamnya. “Hei.” Matteo mengusap bahu Kalila. “Tidak apa. Take a deep breath and you’ll be fine.” “Bagaimana, Matty?” Kalila menoleh pada Matteo dengan tatapan memohon. “Aku sangat ketakutan…” Matteo mengangguk. Dia juga tidak tega dan tidak akan membiarkan Kalila untuk pulang sendirian ke sana. “Kamu di rumahku saja.” “Apa?” Matteo tidak menjawab dan menjalankan mobilnya. “Kamu akan lebih aman di sana, Kalila. Untuk sementara, kamu di sana saja.” “Matteo—” “Kali ini, aku tidak ingin berdebat.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN