Kediaman Aarav dan Irish sore itu sedikit heboh dengan kedatangan seorang gadis yang dibawa Matteo untuk menginap di sana. Sebenarnya, hanya Anna dan Aarav yang heboh karena mereka tidak mengira anak kedua dari keluarga itu akan berani membawa kekasihnya ke rumahnya dan bahkan mengajaknya menginap. Sementara Irish hanya terdiam dan mengangguk singkat, menyetujui permintaan Matteo ketika pria itu meminta izin padanya.
“Kamarnya sudah disiapkan.” Irish mendatangi mereka di ruang tamu setelah dia membantu pembantu rumah tangga di sana untuk menyiapkan kamar tambahan untuk Kalila.
Kalila duduk di samping Matteo dengan canggung dan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Tante.” Irish hanya bergumam sebagai jawaban. Melihat respon yang dingin dari Irish, membuat kegugupan Kalila menjadi-jadi. Namun, kembali ia ingatkan pada dirinya sendiri bahwa Irish memang seperti itu.
Matteo bahkan sudah mengatakan padanya di perjalanan tadi untuk bersikap biasa saja dan tidak perlu memikirkan yang tidak-tidak saat melihat respon ibunya. “Mama memang seperti itu. Dia bersikap dingin pada anak-anaknya, namun bukan berarti dia tidak sayang.”
“Kalila,” panggil Anna yang juga sudah pulang dari pekerjaannya sore itu.
“Iya, Kak?” Kalila menjawabnya dengan nada yang lembut dan sopan. Raut wajahnya terlihat tenang walaupun dia gugup setengah mati.
“Kamu bawa baju ke sini?”
Sial. Kalila melupakan hal itu. Matteo mengajaknya tiba-tiba dan satu-satunya hal yang diinginkan Kalila adalah menjauh dari rumah itu. Bagaimana mungkin dia masih sempat memikirkan pakaian ganti?
Kalila melirik Matteo di sampingnya dengan tatapan gugup. Seolah meminta tolong. “Ti-tidak.”
Anna tersenyum. “Ayo ke kamarku. Aku akan meminjamkan baju-bajuku.” Anna mengulurkan tangannya, bermaksud untuk menarik lengan Kalila. Ketika Anna sudah bangkit dari duduknya, Kalila masih terdiam di tempatnya dan menatap Anna ragu.
“Apa tidak apa-apa?”
“Memangnya kenapa?” tanya Anna heran.
“Kakak yang meminjamkan baju padaku.” Kalila selalu takut bertemu orang asing, apalagi dengan orang yang status sosialnya lebih tinggi darinya. Walaupun dulu dia bekerja di bar dan bertemu banyak orang asing dari banyak kalangan, tetap saja hal itu tidak membuat dirinya sedikit tenang ketika bertemu keluarga Matteo. Apalagi sekarang Anna ingin meminjamkan baju padanya. Apa boleh?
Anna tersenyum lembut pada gadis di hadapannya. “Tidak apa. Ayo.” Kalila akhirnya menuruti.
Sebelum mereka pergi ke kamar Anna, Kalila lebih dulu pamit dengan sopan pada Aarav dan Matteo yang ada di sana. “Aku pinjam pacar kamu sebentar, ya,” goda Anna pada Matteo.
Kalila mengira bahwa Matteo tidak akan merespon apapun pada candaan itu. Namun dirinya salah besar ketika Matteo justru menjawab, “Jangan kamu apa-apakan dia.” Dia berujar dengan nada mengancam.
Hal itu tak ayal membuat d**a Kalila bergemuruh.
***
Kalila terpukau dengan kamar Anna yang sangat mewah tapi nyaman. Dia tidak bisa menghentikan sikap tidak sopannya untuk menjelajahi kamar itu dengan matanya yang menyusurinya perlahan.
Anna terlihat tidak terganggu dengan sikap Kalila dan dia hanya tersenyum kecil melihat ekspresi gadis itu. “Jadi, berapa hari kamu akan tinggal di sini?” tanya Anna sambil menggeser pintu lemari kaca di kamarnya, sehingga Kalila bisa melihat banyak baju miliknya.
“Hm … aku tidak tahu. Tapi, aku janji tidak akan merepotkan di sini, Kak, dan akan segera pindah setelah aku menyelesaikan urusanku.” Kalila tahu tidak mungkin dia selamanya mengandalkan Matteo. Walaupun pria itu menyuruhnya untuk tidak memikirkan hal itu dan bisa tinggal di kediamannya selama yang ia inginkan.
Anna tertawa kecil. “Kamu tidak perlu sungkan. Sebenarnya, kami sendiri tidak keberatan sama sekali jika kamu di sini cukup lama juga.”
Kalila terdiam. Dalam hatinya, ingin sekali dia menjawab bahwa sikap Ibu dari keluarga inilah yang membuatnya sangat sungkan setengah mati.
“Oh, soal Mama, tidak perlu khawatir. Dia juga sering bersikap seperti itu padaku.” Kalila mendongakkan kepalanya dan menatap kaget ke arah Anna yang seolah bisa membaca pikirannya.
Anna tertawa kecil. “Mama tidak bisa berbasa-basi dan dia juga tidak suka berbicara yang tidak penting. Jadi, wajar saja jika dia tidak berbicara banyak pada kamu.” Anna membawa beberapa bajunya dan diberikannya pada Kalila. “Apa ini cukup?”
Kalila menatap tumpukan baju yang diberikan Anna. “Kak Anna, apa tidak terlalu berlebihan? Sepertinya, aku tidak akan lama juga di sini.”
Anna tersenyum memaklumi kegugupan dan ketakutan Kalila. “Tidak apa. Baju-baju ini adalah baju ketika aku seumuran kamu. Semoga saja tidak terlalu old fashion untuk kamu pakai sekarang.”
Kalila tertawa mendengar guyonan dari Anna. “Terima kasih, Kak.” Astaga, bahkan keluarganya sendiri meninggalkannya saat dia butuh mereka. Sementara keluarga Matteo menerimanya dengan mudah.
Kalila tidak terbiasa dengan kebaikan yang diberikan oleh orang lain padanya karena sangat jarang orang yang mau berbaik hati membantunya. Jadi, Kalila sedikit was-was.
“Jadi, ceritakan padaku bagaimana bisa kalian berpacaran?” tanya Anna dan duduk dengan santai di sisi ranjangnya. Menarik tangan Kalila agar duduk di sampingnya juga. Kalila menurutinya walaupun gerakannya sangat sungkan.
“Hm … di sekolah.” Kalila tidak mungkin menceritakan soal perjanjian mereka.
Anna memutar bola matanya malas. “Jawaban kamu sama seperti Matteo. Aku mengira kalau kalian bertemu di tempat lain dan selama ini Matteo berbohong padaku.”
Kalila tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Sungguh, Kal, adikku itu sudah tua dan kamu masih sangat muda. Aku tidak melarang hubungan kalian, serius, tapi masih banyak pria muda yang lebih tampan darinya.” Anna menggoda Kalila, dan sepertinya berhasil karena kini pipi Kalila memerah bukan main. “Look at those cheeks.” Anna kembali tertawa. “Kalila, apa kamu tidak ingin menikmati cinta dengan remaja lain? Selain dengan adikku yang sebentar lagi keriput.” Sebenarnya Matteo tidak setua itu. Hanya saja Anne berusaha menggodanya dan membuatnya berlebihan.
“Dia baik,” gumam Kalila sambil menundukkan kepalanya.
“Apa, Kal?” Anna mendekatkan dirinya pada Kalila dan kembali menggodanya dengan berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Padahal Anna mendengarnya dengan sangat jelas.
“Matteo Aarav, adik Kak Anna, dia sangat baik.”
Anna tertawa puas. “Astaga, kamu sangat polos.” Dia meredakan tawanya. “Adikku itu adalah orang yang paling menyebalkan, Kalila. Semoga saja dia tidak berlaku sama di hadapan kamu.”
Anna menarik napas dalam-dalam. “Jadi, bagi kamu … ini cinta masa remaja, ya.” Anna menatap ke depannya dengan tatapan menerawang.
“Dulu, ketika aku seumuran kamu, aku sibuk mencintai satu pria yang sama hingga menganggap dia sebagai yang terakhir dan satu-satunya.”
Anna tersenyum miris. “Nyatanya tidak.” Wanita itu menundukkan pandangannya, sama seperti Kalila.
“Kenapa, Kak Anna?” tanya Kalila sebagai respon pada Anna. Dia tidak mengerti kenapa Anna menjadi galau ketika dirinya menceritakan masa SMA-nya.
“Karena nyatanya, aku dan dia tidak bersatu. Aku memaksakan diri bahwa dia memang harus menjadi milikku dan sekali saja di hidupku, aku bisa memanggilnya sebagai kepunyaanku. Tapi obsesi itu tumbuh secara tidak sehat. Sehingga akhirnya aku hanya menyakiti orang-orang di sekitarku,” ujar Anna dengan nada yang sangat pelan. “… termasuk Matteo.”
Kalila seharusnya tidak masuk ke dalam kehidupan Matteo lebih dalam lagi. Namun, jujur saja, dia penasaran.
***