Chapter 4

1178 Kata
Matteo sampai ke rumah orangtuanya dan melihat Anna berada di ruang tamu. Pria itu awalnya tidak menggubris eksistensi Kakaknya yang sedang membaca majalahnya. “Matty.” Matteo menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh ke arah Anna. “Apa?” tanyanya. “Aku ingin bicara.” Matteo terlalu lelah hari ini karena jadwalnya yang sangat padat. Dengan berat hati dia menuruti perintah kakaknya dan duduk di sampingnya. “Ada apa?” tanya Matteo dengan malas. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan melepas dasi juga kedua kancing teratas dari kemejanya. “Apa ini?” Anna menoleh padanya sambil menunjukkan satu foto yang disembunyikan oleh Matteo selama ini. Foto Zee dan Anne—putri wanita itu dengan Regan. Foto yang dia ambil di tempat tinggalnya waktu di Jerman. Zee sangat cantik di foto itu seraya menggendong Anne. Matteo mengabadikannya diam-diam dan bahkan wanita itu tidak pernah mengetahuinya sampai sekarang. Matteo mengambil foto kecil itu dengan tenang, walaupun hatinya kini panik. Sial, jika kakaknya sudah mengetahui hal ini, bisa jadi kedua orangtuanya juga akan mengetahuinya. “Jangan lancang, Anna. Bagaimana kamu bisa tahu soal foto ini?” Anna mendengus. “Tunggu, apa itu Tjahaya Zeera? Jadi, selama ini kamu berhubungan dengannya di Jerman? Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak memberitahu siapapun?” Matteo berdecak kesal. Cepat-cepat dia memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. “Apa penting?” Jawabannya yang sangat singkat mampu membuat Anna kesal bukan main. “Matty! Kamu berpacaran dengan Zee dan melepaskannya begitu saja?” “Iya, karena dia tidak mencintaiku. Yang dia cintai selama ini—dan mungkin selamanya—adalah Regan Wijaya, mantan suami kamu. Apa yang bisa aku lakukan dengan itu? Perasaan orang lain tidak bisa kita atur sekehendak kita.” Matteo mengalihkan pandangannya dari Anna. Memang menyebalkan saat hubungan sementaranya dengan Zee diketahui oleh Anna, tapi mengakui bahwa dia melepaskan wanita itu dan terlihat lemah di depan kakak perempuannya ini, ternyata lebih menyebalkan. “Well, memang. Aku hanya tidak menyangka dunia kita sempit sekali—apalagi kita sama-sama melepaskan mereka dan membuat mereka bersatu.” “Zee sudah menikah dengan Regan?” Matteo tidak tahu apa yang terjadi dengan Zee juga pria itu setelah dia memutuskan untuk melepaskan wanita itu. Jika benar Zee menikah lagi dengan Regan, maka sial—Matteo akan sangat sakit hati. Anna mengendikkan kedua bahunya. “Tapi, ayolah, apa lagi yang menahan mereka sekarang?” Matteo juga dapat melihat luka di kedua bola mata kakaknya, seberapa kuat pun Anna menyembunyikannya, Matteo dapat mengetahui hal itu. Matteo menundukkan kepalanya. Mengingat kembali Zee mampu membuat suasana hatinya kembali tidak menetu. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. “Kenapa kamu tidak memberitahuku, Matty?” Rasa penasaran Anna sama sekali belum terpuaskan. “Tidak ada. Aku hanya merasa hubungan kami dulu tidak perlu diberitakan. Apalagi hanya aku yang mencintainya dulu, dia hanya menganggapku tidak lebih dari teman.” Jika suasananya tidak sedang serius seperti ini, mungkin Anna sudah tertawa terbahak-bahak karena adiknya terdengar menyedihkan sekarang. “Aya... dia akan menikah, bukan?” Matteo berdecak. Kakaknya sangat menyebalkan hari ini karena mengingatkannya pada dua wanita di masa lalunya. “Iya, dari mana kamu tahu? Kamu tidak berteman dengannya, bukan?” Anna berdecak. “Mama diundang, dan dia meminta aku untuk menemaninya.” Matteo hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Apa kamu mau datang juga?” “Maybe.” Matteo menjawabnya asal. Anna berdecak melihat wajah lesu adiknya. “Ayolah, berhenti berlagak menyedihkan begitu. Jika kamu ingin balas dendam, kamu bisa memperkenalkan aku sebagai pacar kamu padanya.” Matteo langsung menjaga jarak dari Anna dan mengeryitkan dahinya tidak suka. “Iwh. No, thanks.” Itu ide yang buruk! “Tidak apa, lagipula, kita memang tidak memiliki hubungan darah, bukan?” Anna tersenyum mencoba menggoda adiknya itu dan menaik-turunkan alisnya. Memang, Anna bukanlah anak kandung dari Irish dan Aarav—kedua orangtua Matteo. Anna adalah anak dari Daren—mantan suami Irish—dan wanita selingkuhannya yang bahkan tidak pernah Anna kenal seumur hidupnya. Begitu bercerai, Irish mengadopsinya dan mengambil hak asuh Anna seluruhnya. Jadi, secara teknis, Anna dan Matteo tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Matteo berjengit ngeri dan mendorong tubuh Anna sedikit kasar. “What the hell, Anna?!” Sepertinya perceraiannya dengan Regan membuat otaknya sedikit eror. “Matty!” Anna tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang langsung menjauh darinya dan pergi ke kamarnya dengan terburu-buru. *** Kalila berdiam diri di tengah pesta pernikahan sepupunya itu. Merasa asing dengan orang-orang di sekitarnya walaupun mereka masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Tatapan orang-orang yang mengenal siapa Kalila terasa begitu tajam dan menghakimi. “...bukankah itu anak...” “....dia sama tidak bergunanya seperti ibunya. Hidupnya sungguh tidak berarti...” “....kenapa dia masih memiliki muka untuk hadir di sini...” Kalila jengah dengan bisikan-bisikan itu yang sangat mengganggunya. Namun tentu saja, dia tidak berani untuk angkat suara—bahkan untuk mendongakkan kepalanya saja, Kalila tidak berani. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan semua orang di sekitarnya. “Kal.” Kalila baru berani mengangkat pandangannya ketika Atlas berada di sampingnya setelah tadi izin ke toilet. “Iya?” “Ayo kita makan bersama dengan keluarga Aya.” Atlas menggenggam jemarinya dan akan membawanya mendekat ke kerumunan keluarganya. Astaga, itu sama saja menenggelamkan dirinya ke kubangan lumpur! Kalila akan diperlakukan buruk jika berada di tengah-tengah mereka. Sekalipun Ayah dan Atlas berada di sana, itu tidak akan menahan mereka untuk mempermalukan Kalila. Sebagai anak yang tidak diinginkan, Ayahnya juga tidak akan begitu peduli padanya. “Tidak, Atlas.” Atlas menoleh padanya dengan tatapan bingung. “Kenapa?” “Aku...tidak lapar. Kamu saja.” “Kalila.” “Tidak, sungguh. Aku akan menunggu di tempat lain.” Pulang diam-diam sendirian ke rumahnya terdengar jauh lebih baik daripada berada di antara sekumpulan orang yang hanya akan memandangnya sebelah mata. Atlas tidak menahan adiknya ketika Kalila sudah berjalan menjauh. Dia menghampiri Ayah dan keluarga sepupunya itu. “Sial, bisakah aku pulang saja?” rengek Kalila dengan suara yang rendah. Dia tidak ingin berada di tempat yang sama sekali tidak mengundangnya dan menerimanya. Kalila dapat merasakan dengan jelas tatapan tidak suka ketika dia melewati sepupu-sepupunya dan itu sangat menyebalkan! “Kalila.” Kalila yang sedari tadi menunduk. Akhirnya, mendongak ketika mendengar namanya dipanggil. Salah satu sepupunya menghampirinya dengan senyuman yang sangat menyebalkan dan palsu. Alice, namanya. “Oh, hai.” Kalila hanya menyapa seadanya, bahkan dia bisa dibilang tidak berniat untuk menyapa sepupunya itu. “Kamu kemari? Aku mengira, kamu tidak memiliki muka untuk menunjukkan diri kamu di hadapan kami.” Alice memang gemar memojokkannya. Usia mereka yang hampir sama membuat gadis itu merasa dirinya bisa menindas Kalila dan Kalila hanya bisa diam. Melawan Alice sama saja seperti melawan keluarga besarnya. “Aku diundang.” Kalila masih saja menjawab. “Kalau tidak salah, Atlas yang diundang. Bukan kamu.” Alice tersenyum miring. Satu lagi yang sialnya diketahui oleh Alice adalah; gadis itu tahu perasaan terlarang Kalila untuk kakak tirinya. Alice mendekatkan dirinya pada Kalila dan berbisik. “Kamu sama jalangnya seperti ibu kamu, ya. Rakus untuk mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Kalau aku jadi kamu, Kalila, aku memilih untuk menenggelamkan diriku ke lautan saja.” ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN