Matteo menyesali keputusannya yang memilih untuk menghadiri pernikahan Aya—mantan kekasihnya. Sebagian orang yang mengetahui bahwa Matteo Aarav pernah berhubungan dengan sang pengantin, menatapnya iba dan itu sangat menyebalkan. Sementara itu, Ibunya yang sengaja tidak menghadiri dan meminta kedua anaknya untuk mewakilkannya membuat keadaan Matteo semakin sengsara sekarang. Setidaknya jika Ibunya berada di sini sekarang, Matteo akan terus berada di sisinya seperti anak kecil.
“Matty!”
Anna, wanita itu mudah sekali berbaur dengan orang-orang di sekitarnya. Berbeda dengan Matteo yang seperti orang linglung di pesta ini. Bahkan dia sama sekali tidak ada niatan untuk menyapa Aya—wanita yang mengadakan pesta ini.
Matteo menggelengkan kepalanya saat Anna melambaikan tangannya—secara tidak langsung mengajaknya untuk bergabung. Gila saja. Bergabung dengan Anna yang berbincang dengan gerombolan wanita itu adalah hal buruk. Matteo memilih untuk mundur. Dia melangkahkan kakinya ke belakang secara perlahan.
“Matty, mau kemana?!” Anne terlihat kesal karena adiknya melarikan diri. Padahal, Anna ingin mengenalkan Matteo pada salah satu wanita di sana yang sepertinya sangat menyukai adiknya itu sejak awal.
Matteo bergeming. Dia membalikkan badannya dan segera berjalan cepat untuk menghindari kakaknya. Memang keputusan untuk datang ke pernikahan ini adalah hal yang paling salah. Matteo terlalu terburu-buru hingga dia tidak sadar ada seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Tanpa sengaja, bahu mereka saling bertabrakan. “F**k.” Matteo memejamkan matanya dan berdesis kasar. Kini bahunya sangat sakit.
Dia menoleh pada orang yang sudah membuatnya seperti itu dan membelalakkan matanya saat tahu siapa yang menabraknya. “Kamu?!” tanya dia terkejut ketika mengetahui siapa waniita itu—ah salah, gadis itu.
Yap. Kalila Beatrice. Gadis yang sudah mengibarkan bendera perang bahkan di hari pertama mereka bertemu. Entah bagaimana Tuhan kembali mempertemukan mereka sekarang. Matteo melihat wanita itu yang sepertinya kesal karena terus dipertemukan dengannya. “Kalila?” tanya Matteo sekali lagi karena gadis itu sama sekali tidak menjawabnya.
Kalila malah mendengus dan mendelik ke arah pria itu. Dia baru saja akan pergi meninggalkan Matteo karena tidak ingin bertegur sapa dengan pria itu, namun Matteo mencekal pergelangan tangannya. Hal itu membuat Kalila tertegun dan menatap Matteo heran. “Maaf, Tuan, tolong lepaskan tanganku.” Kalila berkata sopan seolah mereka tidak pernah saling kenal.
Matteo tertawa geli mendengarnya. “Ini benar Kalila, bukan? Aku Matteo. Tidak mungkin kamu melupakan aku secepat itu, bukan? Lagipula, aku bukan seseorang yang mudah dilupakan begitu saja.”
Terjebak dalam pesta pernikahan yang sama sekali tidak mengasyikkan untuk Matteo adalah bencana. Namun, melihat kedatangan gadis ini di tempat yang sama dengannya, maka Matteo memilih untuk membuat gadis ini kesal dari pada mati kebosanan.
“Apa yang membuat kamu memegang tanganku, Pak Matteo?” Untung saja Kalila masih memiliki kesadaran penuh bahwa manusia di hadapannya ini, yang sangat menyebalkan bukan main, adalah ketua yayasan dari sekolahnya yang mana secara tidak langsung, pria ini yang membantunya untuk tetap bersekolah. Jika Kalila tidak memperlakukannya dengan sopan, maka beasiswanya terancam diambil dan dia tidak akan bisa lagi untuk sekolah.
“Tidak. Kamu terlihat kesal bertemu denganku. Ada apa?” tanya Matteo dengan senyuman miring. Sementara di hadapannya, Kalila terlihat panik karena Matteo terus saja menggengegmnya. Dia tidak ingin menjadi perhatian keluarga besar dari Aya karena dia tahu apa yang akan terjadi. Kalila menoleh ke sekelilingnya dan dia bisa melihat kalau beberapa orang memerhatikannya dengan sinis.
“Karena kamu menyebalkan. Sekarang, lepaskan aku.” Kalila memaksa. Namun, pria itu tidak mau melepaskannya juga.
“Pak Matteo!” Kalila berseru.
Tepat saat itu juga, Atlas mendatangi mereka dan menepuk pundak Kalila pelan. Lalu, dia terdiam cukup lama hanya untuk melihat pergelangan adik tirinya digenggam oleh pria yang ada di hadapannya. Sial, Atlas tidak menyukai itu. Tangannya yang awalnya berada di pundak Kalila, berpindah menjadi ke pinggang wanita itu. “Tolong lepaskan tangan kamu dari adikku.”
Matteo awalnya hanya bercanda, namun sepertinya lelaki yang baru saja mendatangi mereka, menganggapnya terlalu serius sehingga Matteo tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan tangan Kalila. “Maaf,” ujar Matteo. Dia mengulurkan tangannya. “Aku Matteo Aarav.”
Atlas hanya menatap uluran tangan itu tanpa berniat untuk membalasnya. “Ayo, Kalila.” Alih-alih menjawab sapaan Matteo, Atlas memilih untuk membawa Kalila-nya pergi dari sana. Kalila memang tidak menyukai Matteo, tapi melihat Atlas memperlakukan pria itu dengan sedikit tidak sopan, membuat Kalila sedikit merasa bersalah.
Matteo hanya mengangkat alisnya dan menatap Atlas dengan aneh. Maksudnya, kenapa pria itu terlihat tidak suka padanya, padahal dia tidak melaakukan apapun?
***
“Kalila, siapa itu?” tanya Atlas sambil tetap membawa adik tirinya menjauhi pria itu. Tatapannya sesekali mengarah ke tempat pria itu berdiri.
“Dia … donatur terbesar di sekolahku—dia ketua yayasannya.” Kalila sedikit takut ketika dia melirik Atlas dan melihat tatapan membunuh dari Atlas. Pria itu seolah ingin menelan habis Matteo Aarav.
“Ketua Yayasan? Dan dia memegang pergelangan tangan kamu seperti itu? Dia bisa dilaporkan, Kalila, karena bertindak kurang ajar pada kamu.” Atlas melepaskan genggaman tangannya dari Kalila dan menatap adiknya dengan tatapan sedikit garang.
“Tapi … aku tidak merasa dia seburuk itu.” Kalila memang tidak menyukai Matteo, tapi tuduhan Atlas tadi menurutnya terlalu berlebihan. Dia juga tidak ingin menyeret pria yang statusnya lebih tinggi darinya ke dalam masalah. Matteo mungkin akan menghabisinya jika tahu Kalila ingin melaporkannya.
Atlas hanya menghela napasnya kasar. “Jangan mendekati dia lagi, ya, Kal.” Lelaki itu menatap Kalila khawatir. Hampir saja Kalila lupa bahwa Atlas adalah kakak tirinya, bukan lelaki yang memberinya perhatian lebih karena Kalila adala seorang gadis. Atlas hanya menganggap dia sebagai adik, seperti seharusnya.
Kalila mengangguk.
“Oh iya, Ayah ingin bertemu dengan kamu.”
Kalila mengeryitkan dahinya. Sudah lama Ayahnya tidak bertemu dengannya. Bahkan Kalila lupa kapan terakhir kali mereka bertemu. “Kenapa?” tanya Kalila heran. Mereka memang masih tinggal bersama, namun beberapa minggu terakhir, ayahnya meninggalkan dia dan Atlas berdua tanpa kabar yang jelas.
Atlas mengendikkan bahunya. Ia sendiri tidak tahu kenapa ayah mereka ingin bertemu. Atlas tahu hubungan mereka dengan ayah mereka sendiri tidaklah baik. Bisa dibilang sangat buruk. “Temui saja dia jika kamu penasaran,” ujar Atlas yang dijawab anggukan oleh Kalila.
Kalila berjalan menuju meja di mana ayahnya duduk sendiri. Mungkin ayahnya memang ingin berbicara privat dengannya hingga mengharuskan dia berpisah dari anggota keluarganya yang lain.
“Ayah.”
Tony Marthias, menoleh ke arah anaknya dan mengangguk sekilas dan menyuruh anaknya untuk duduk di hadapannya. “Bagaimana sekolah kamu?” Hubungan Kalila dan Tony tidak dekat. Jadi, ketika ayahnya menanyakan soal sekolahnya, tentu saja Kalila terkejut.
“Baik-baik saja.”
“Kamu berencana kuliah?”
Kalila mengangguk. “Iya. Aku sudah mempersiapkan sedikit demi sedikit untuk dananya.”
Tony mengangguk. “Ayah ingin mengatakan sesuatu dan semoga kamu bisa menyikapinya dengan bijak.”
Kalila mengangguk.
“Ayah butuh bantuan kamu.”
Kalila mengeryitkan dahinya. Bukankah aneh sekali ketika ayahnya tidak pernah menunjukkan batang hidungnya kepadanya dan sekarang ingin meminta bantuan Kalila.
Namun, dengan penuh rasa hormat, Kalila tetap menanggapinya. “Apa itu?” tanyanya dengan penasaran.
***