Chapter 6

1132 Kata
Tony Mathias sadar bahwa dia bukanlah ayah yang baik. Dia bahkan tidak pantas untuk dipanggil ‘Ayah’. Menelantarkan dua anaknya yang masih membutuhkan bimbingannya secaara penuh adalah hal paling hina yang pernah ia lakukan. Namun, semua itu tentu saja dia lakukan dengan sebab yang jelas—walaupun tetap saja tindakannya sama sekali tidak dibenerkan sama sekali. Tony hancur semenjak istrinya meninggalkannya. Perceraian empat tahun yang lalu, sangat membekas di hatinya dan entah kapan bisa ia lupakan dengan lapang d**a. Dia tidak bisa merawat kedua anaknya dengan baik—setidaknya, dia yang merasa seperti itu. Akhirnya, Tony berpikir, jika kedua anaknya itu bisa menyambung hidup mereka sendiri sementara Tony berbenah dirinya sendiri. Namun ternyata, hal itu malah membuat hubungannya dan kedua anaknya mengendur seiring berjalannya waktu. “Apa yang Ayah inginkan?” tanya Kalila dengan tatapan heran. Dia sedikit skeptis dengan ayahnya. “Ayah ingin mengenalkan kamu pada teman Ayah.” Kalila mencium hal aneh dalam pembicaraannya dengan ayahnya. Dia tahu bantuan yang dimaksud ayahnya mungkin bukan bantuan biasa. “Ayah, apa Ayah tahu kalau sekarang Ayah bersikap aneh? Bagaimana jika memberitahuku secara langsung dan gamblang agar aku tidak menerka-nerka?” Kalila benci pikirannya yang negatif. Dia lebih baik langsung tahu dari ayahnya apa yang sedang terjadi. Tony menghela napas. Dia malu untuk mengakuinya, namun jika dia tidak mengatakan yang sejujurnya pada ankanya, mungkin Kalila tidak akan mau membantunya. Tony terpaksa mengatakan maksudnya secara langsung. “Ayah terjerat hutang.” Yap, berbenah diri yang dimaksud Tony adalah keluar masuk klub malam setiap hari demi melupakan mantan istrinya. Yang mana, Tony sendiri tidak tahu bahwa putrinya juga bekerja di klub lain. Sebuah kenyataan yang sangat miris. Pekerjaannya di kantor tidak terurus dengan benar dan dia bahkan nyaris dipecat. Tony masih beruntung bosnya masih mau menampungnya walaupun sudah mendapatkan surat peringatan beberapa kali. “Apa?” Kalila tidak percaya. “Bagaimana bisa?” Selama ini, Kalila bekerja keras agar bisa membiayai kehidupannya sendiri dan tidak membutuhkan bantuan ayahnya. Dia berpikir, ayahnya juga punya kebutuhannya sendiri dan Kalila juga tahu ayahnya masih sama hancurnya seperti empat tahun yang lalu. Kalila tidak percaya jika prediksinya sangat salah. Karena bahkan ketika dia tidak menjadi beban untuk ayahnya, sang ayah tetap memiliki utang yang entah digunakan untuk apa, pikirnya. “Ayah … melakukan kesalahan—” “Berulang kali?” Sialnya, Tony merasa dipojokkan oleh anaknya sendiri. Dia tahu kali ini dia seolah tidak punya malu karena meminta anaknya untuk membantunya untuk melunasi hutangnya, tapi Tony juga tidak punya pilihan lain, bukan? “Teman Ayah ada yang menawarkan diri untuk membantu Ayah, namun dengan syarat…” Ketika Tony menggantungkan bicaranya, Kalila mulai curiga. Pasti ayahnya akan melibatkannya. “… kamu ingin berkenalan dengannya.” Cih. Kalila bukan gadis yang polos, dan dia hapal betul apa yang dimaksud oleh pria itu. “Tidak.” Gila saja, walaupun usianya sudah delapan belas tahun, dia tidak mau masuk ke perangkap ayahnya itu. “Tidak akan. Ayah, aku tidak pernah meminta apapun dari Ayah dan aku rasa aku bisa menolak hal itu. Aku tidak mau. Aku tahu Ayah mungkin akan marah dan menganggap aku tidak tahu diri, well, I don’t care.” Tony menghela napas. “Dia tidak akan mencelakai kamu.” “Tapi dia akan menggunakan aku! Tidak, jawabanku tetap tidak.” Kalila menggeleng. Ayahnya memiliki utang dan teman ayahnya itu tidak mungkin mau sukarela membantunya untuk melunasi utang-utang itu. Pasti ada imbalannya, dan imbalan tersebut adalah dia. Gila saja, ayahnya sama saja seperti sedang menjual dirinya. Itu adalah hal paling buruk yang pernah diterima oleh Kalila seumur hidupnya. “Ayah, aku bisa melaporkan tindakan Ayah ini ke polisi jika aku mau.” Kalila berdesis dengan penuh kebencian. Dia tidak mau melakukan apapun yang diminta ayahnya, sampai kapanpun. “Apa Ayah tahu kalau saat ini Ayah bertindak memalukan? Maksudku, bagaimana bisa Ayah meminta bantuan kepada anak yang sudah Ayah terlantarkan selama ini?” Tony mendengus. “Jika kamu tidak mau membantu, tidak perlu memojokkan Ayah.” “Ada Atlas yang bisa membantu Ayah untuk melunasi utang-utang itu, bukan?” Sayangnya, utang Tony terlalu banyak hingga dia sendiri tidak tahu cara melunasinya. Dia hanya ingin terbebas dengan cepat dan tidak ingin memikirkan soal itu lagi. Namun, dia tahu hal itu sedikit tidak mungkin jika Kalila tidak mau membantunya. Satu-satunya jalan instan untuk mendapatkan apa yang Tony mau adalah Kalila. “Dia tidak bisa.” “Kenapa?! Apa karena dia anak dari istri yang sangat Ayah cintai sementara aku bukan?” Mata Kalila memincing untuk mengintimidasi ayahnya. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Kalila merasakan sakit bukan main saat mengatakannya. “Kalila, hentikan drama kamu. Semua orang akan melihat kamu dan semakin memandang kamu sebelah mata.” Tony terlampau tenang untuk seseorang yang sedang memohon pada anaknya untuk mmbayarkan utang miliknya sendiri. Namun, sepertinya Tony juga bukan pria yang memiliki rasa malu. Kalila hanya mengendikkaan bahunya dan memilih untuk berlalu dari sana. Dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan yang hanya akan membuatnya emosi. “Kal, mau kemana?” Atlas yang entah baru dari mana, menghampirinya dengan keryitan di dahinya. Dia terkejut melihat wajah tidak bersahabat dari Kalila dan gadis itu melangkahkan kakinya penuh emosi. “Pulang,” ujarnya ketus. Ini pertama kalinya Kalila mencuekkan Atlas dan itu mampu membuat kakak tirinya kebingungan. Adiknya tidak pernah bersikap ketus padanya bahkan ketika dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja. “Kalila, kita akan pulang bersama.” Sikut Kalila dicekal oleh Atlas namun Kalila langsung menepisnya. Kalila berdecak dan menatap Atlas dengan kesal. “Bisakah kamu membiarkan aku sendiri?” desisnya menahan emosi. Atlas bergeming, membiarkan gadis itu untuk pergi. *** Kalila benar-benar tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini semua dalam satu waktu. Pertama, Matteo yang tiba-tiba saja bertemu dengannya dan datang dari antah-berantah yang membuat Atlas terliat tidak menyukainya. Kedua, ayahnya yang tidak tahu malu meminta bantuannya untuk melunasi utang ayahnya sendiri—dengan kata lain, pria itu mencoba untuk menjual anaknya demi melunasi utangnya. Ketiga, Alice yang menemuinya, mencegahnya untuk pulang dan mencoba membuat dirinya kehilangan kesabarannya. Ini-lah yang paling parah. “Bukankah tidak sopan meninggalkan pesta pernikahan ketika kamu sendiri bahkan belum memberikan selamat kepada pengantinnya?” Alice bersidekap di depan d**a sambil menaikkan dagunya angkuh. Kalila sudah akan pulang sekarang, dan entah apa yang mendorong sepupu jalangnya ini untuk membuatnya emosi. “Aku harus pulang sekarang, Alice. Aku tidak bisa melayani sikap kurang ajar kamu ini.” “Siapa yang kamu katakan kurang ajar?” Alice berdecih sambil tersenyum miring. “Tentu saja kamu, do I make myself clear?” Dari dulu, Kalila selalu bersikap sebagai gadis baik, penakut, dan penurut. Itu juga yang membuat Alice mau menindasnya dengan kurang ajar. Namun sekarang, Kalila tidak akan membiarkan itu terjadi. “Bisa kamu minggir dan tidak menghalangi jalanku, Alice?” ujar Kalila sinis. “Kamu akan mendapatkan balasannya, Dasar Gadis Tidak Tahu Diri.” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN