Chapter 19

1161 Kata
Kalila melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya, dengan Matteo yang berjalan perlahan di belakangnya. Yap, Kalila lagi-lagi mengingkari janjinya sendiri; bahwa dia tidak akan membiarkan Matteo mengetahui alamat rumahnya secara pasti. Kenyataannya, ketika Kalila mengatakan bahwa dia ingin pulang, Matteo memaksanya agar dia bisa ikut mengantarnya pulang. Kalila sudah menolak, tentu saja. Matteo yang mengetahui masalahnya dengan ayahnya saja sudah kelewat batas. Dia tidak ingin pria itu semakin masuk ke dalam kehidupan pribadinya. Namun, Matteo bersikeras untuk tidak menurunkan Kalila sampai gadis itu memberitahu alamat rumahnya, yang sebenarnya. Kalila tidak memiliki pilihan lain. Dia terlalu lelah untuk berdebat dengan pria itu. “Pak Matteo ingin minum?” tanya Kalila menoleh pada pria itu. Dini hari begini, Kalila tidak mau repot-repot menawarkan makanan pada Matteo. Jadi, sebagai formalitas, Kalila hanya akan menawarkannya minum. “Tidak perlu,” ujar Matteo. Pria itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut dan memerhatikan interior rumah Kalila yang sangat sederhana, namun minimalis. Matteo sangat menyukainya. Sementara itu, dalam hatinya Kalila berteriak putus asa; bisakah kamu pulang saja?! Dia tidak tega jika harus mengusir Matteo, tapi dia juga tidak ingin Matteo berada di rumahnya dalam waktu yang lama. “Baiklah.” Kalila ikut duduk di hadapan Matteo dan menatap pria itu. “Kenapa?” tanya Kalila ketika Matteo tetap memerhatikannya. Oke, Kalila gugup ditatap sedemikian rupa oleh Matteo. Matteo hanya menggeleng. Lalu, memutuskan kontak matanya dengan Kalila. “Kamu tinggal sendiri?” tanyanya. Kalila menggeleng. “Tidak, aku bersama kakak aku.” Bibir Matteo membentuk ‘o’ kecil dan menganggukkan kepalanya. “Lelaki yang waktu itu bertemu denganku?” Kalila mengeryitkan dahinya. Dia sedikit lupa dan tidak yakin jika Atlas pernah menemui Matteo. Lalu, ingatannya kembali pada momen di pernikahan Aya dan kembali ia ingat bahwa Matteo memang pernah bertemu dengan Kakaknya. “Iya. Dia kakakku.” “Lalu, Ayah kamu tidak tinggal di sini?” Kalila menggeleng. “Ibu kamu?” “Pergi.” Matteo ingin sekali bertanya ke mana perginya Sang Ibu, namun dia melihat tatapan sayu dari gadis di hadapannya—jelas sekali terlihat bahwa dia lelah dan Matteo tidak tega untuk membuatnya terjaga dengan menanyakan hal-hal privasi itu. Matteo memang penasaran, namun dia tidak mau melewati batas privasi gadis itu. “Baiklah. Istirahat, Kalila. Kamu lelah.” “Pak Matteo akan pulang?” Hati Kalila bersorak senang. Dia ikut bangkit dari duduknya ketika melihat Matteo akan melangkahkan kakinya keluar. “Hm. Sampai jumpa di sekolah.” Kalila tidak mengerti. “Sekolah?” Matteo mengangguk. “Besok aku ada rapat dengan guru-guru kamu, mengenai pembangunan—” “Ah iya.” Kalila memotong ucapan dari Matteo. Dia capek dan mendengarkan apapun itu tentang sekolahnya, hanya akan membuatnya semakin lelah. “Terima kasih, Pak Matteo.” Matteo mengangguk. Dia mendekat ke arah Kalila. Mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut gadis itu dengan jenaka. “Jika ada apa-apa, tolong beritahu aku.” Matteo meninggalkan Kalila dengan kebingungan yang mendera. Apa itu tadi? *** Kalila terkejut ketika dia membalikkan badannya dan melihat Atlas sudah berada di belakangnya tiba-tiba. “Atlas?” tanyanya terkejut. “Kenapa?” tanyanya bingung ketika melihat Atlas terus saja menatapnya dengan mata memincing. Apa Kalila berbuat kesalahan? Dia baru saja sampai di rumah ini, tidak mungkin dia melakukan salah, bukan? “Siapa tadi?” tanyanya dengan nada yang tidak enak didengar oleh Kalila. Kalila menggigit bibir bawahnya gugup. Entah kenapa nada yang diutarakan oleh Atlas membuatnya ragu untuk menjawab. “Kalila, aku bertanya pada kamu.” Atlas mendekat ke arah Kalila yang kini semakin melangkah mundur mendekati pintu. “Kamu tidak ingin menjawab?” tanya Atlas masih dengan nada interogasinya yang sangat menyeramkan. Kalila masih gugup bukan main. “Atlas,” ujarnya pelan. “Tadi … Matteo.” “Matteo?” Kalila mengangguk ragu. “Kamu sudah bertemu dengannya dulu. Di pernikahan Aya, ingat?” tanya Kalila. Dia bisa melihat kemarahan dalam tatapan Atlas. “Kenapa dia mengantar kamu pulang?” Atlas semakin mendekat ke arah Kalila dan itu membuat Kalila semakin awas. Lama kelamaan, tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh Atlas. “Dia … menawarkan. Tidak sengaja, Atlas—” Kalila terkejut ketika Atlas mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. “At—Atlas?” Mata Kalila membola. Tidak pernah sekalipun Atlas berperilaku kasar padanya. Lalu, kenapa pria itu tiba-tiba seperti ini? Apa karena Kalila diantar oleh pria lain dan lelaki itu marah? Bukankah itu berlebihan? “Kenapa harus Matteo, Kalila? Apa tidak ada pelanggan lain yang bisa kamu layani selain pria itu?” Kalila membeku. Tatapannya menghunus tajam pada Atlas. Jadi, pria itu menganggap dia sudah melayani Matteo? “Apa yang kamu pikirkan, Atlas?” tanya Kalila dengan lirih. “Aku tidak suka kalau kamu dekat dengan dia, Kalila, apa kamu mengerti?” Kalila mengangguk dengan cepat. Kemarahan Atlas adalah sesuatu yang tidak ia sukai dan harus ia hindari. Atlas benar-benar menyeramkan sekarang. Atlas melepaskan cengkraman tangannya dari Kalila dengan cepat. Napas mereka memburu. Atlas karena menahan amarahnya agar tidak semakin melukai Kalila. Sementara Kalila berusaha menenangkan dirinya agar tidak semakin panik di hadapan lelaki itu. “Aku tidak suka dia, Kal. Mungkin, aku memiliki firasat kalau dia tidak baik untuk kamu.” Kalila membeku. “Tunggu, kamu tidak bisa menghakimi orang lain ketika kamu baru pertama kali bertemu dengannya.” Atlas yang sudah membalikkan badannya dan akan meninggalkan Kalila sendiri, mengurungkan niatnya dan menoleh kembali ke arah Kalila. “Apa?” “Kamu terlihat tidak menyukai Matteo, padahal kamu baru pertama kali bertemu.” Tidak tahu apa yang membuat Kalila ingin membela pria itu. Namun, mendengar Atlas yang menjelek-jelekkan pria itu tanpa sebab membuatnya tidak terima. “Kamu suka dia, Kal?” tanya Atlas dengan nada yang mulai meninggi. “Kamu suka pria yang tadi mengantar kamu, Kalila?!” Kalila menggeleng dengan cepat. Dia berandai-andai apa yang membuat Atlas mudah sekali tersulut emosinya. “Tidak, aku hanya—” “Jangan menyukai dia.” Atlas menunjuk Kalila di depan wajahnya. Kalila kembali terdiam. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Dari ayahnya yang kembali memaksanya untuk menjual dirinya, Matteo yang mengetahui rahasianya, dan Atlas yang tiba-tiba saja mudah sekali emosi. Kalila sampai di kamarnya dan menutup pintunya perlahan. Dia meluruh di balik pintu sambil memeluk lututnya sendiri. Kalila ingin menangis, namun ia kembali ingat, bahwa ini bukanlah hari terburuk dalam hidupnya. Dia sudah pernah melewati banyak hari-hari buruk. “It’s fine, Kalila.” Kalila menarik napas dalam-dalam. “Semuanya akan baik-baik saja.” *** Keadaan menjadi canggung ketika Kalila bertemu dengan Atlas di pagi harinya. “Pagi.” Atlas menyapanya. Kalila hanya mengangguk canggung. “Makan,” ujarnya sambil menyodorkan piring berisi makanan untuk Kalila. Kalila memilih duduk di hadapan Atlas. Dia tidak ingin menimpali ucapan Atlas. Perilaku Atlas yang kasar padanya membuat dia malas menanggapi lelaki itu. “Marah?” tanyanya polos. Kalila masih terdiam. Dia memilih untuk menundukkan pandangannya, “Kalila, aku bertanya pada kamu.” Kalila menarik napas dalam-dalam. Oke, tidak baik juga mendiamkan lelaki itu atau dia akan kembali bertindak lebih kasar dari sebelumnya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN