Atlas tidak pernah seperti ini. Marah-marah tidak jelas hanya karena Kalila dekat dengan pria yang bahkan bukan pacarnya. Kalila hanya diantar oleh Matteo, tidak lebih. Bukankah seharusnya lelaki itu tidak perlu mengambil pusing?
“Kamu masih marah?”
Atlas kembali bertanya pada Kalila. Kali ini, Kalila menjawabnya dengan gelengan. “Lalu, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan aku?”
Kalila berdecak. Dia membantingkan sendok yang sedang ia pegang dengan sengaja hingga menimbulkan bunyi yang keras. “Kal?” Atlas meliriknya sambil mengeryitkan dahi.
“Apa kamu lupa atas apa yang sudah kamu lakukan, Atlas? Kamu mencengkram tanganku dengan erat dan marah-marah tidak jelas. Apa kamu berharap aku akan bersikap biasa saja ketika kamu bertindak seenaknya?” Kalila mungkin tidak berani untuk melawan Atlas secara langsung, tapi dia bisa mengutarakan kekesalannya kali ini, karena Atlas sudah sangat keterlaluan.
“Aku hanya menyampaikan rasa tidak sukaku karena pria itu mengantar adikku pada dini hari tanpa izin, Kal. Apa aku salah?”
Kalila tidak habis pikir. Oke, Atlas sangat menyebalkan sekarang. Benar-benar menyebalkan!
“Tentu saja! Kamu marah-marah padaku, padahal Matteo sudah membantu aku, Atlas!”
Atlas mengeryitkan dahinya. “Apa yang sudah dia lakukan?”
Kalila kini membeku. Astaga, bukankah jika Atlas tahu kalau ayah mereka kemarin menemuinya kembali, maka keadaan akan semakin buruk? Atlas mungkin tidak bisa lagi menahan emosinya. Sial sekali. Kalila tidak bisa berpikir dulu ketika akan berbicara karena sudah kelewat emosi.
“Kalila, apa yang sudah dia lakukan?”
Kalila menggeleng. Masih tetap menolak untuk memberitahu Atlas karena tidak ingin mendapatkan amarah dari lelaki itu lagi.
“Kal!”
Kalila tersentak bukan main. Alat makan mereka bergerak sedikit ketika Atlas memukul meja makan mereka tiba-tiba. “Atlas?” tanyanya bingung. Sebenarnya, apa yang merasuki kakaknya itu hingga mudah sekali emosinya berubah?
“Apa yang dilakukan Matteo hingga harus mengantar kamu pulang? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk pada kamu?”
Kalila menggeleng.
“Lalu apa, Kalila?! Beritahu aku!”
“Ayah menemuiku lagi!” Kalila menaikkan nada suaranya, sama seperti Atlas. Dia tidak ingin kalah. Kemarin malam mungkin Atlas bisa memukulnya mundur karena tingkahnya yang tiba-tiba kasar, namun sekarang, Kalila tidak ingin tinggal diam. Dia harus melawan.
“Apa?” Kini, Atlas terdiam. “Apa, Kal?” Awalnya dia sempat berpikir bahwa ayah mereka tidak akan mengganggu lagi mengingat pria paruh baya itu sudah tidak pernah menemui Kalila akhir-akhir ini. Atlas yang berniat melindungi Kalila, kini dia merasa gagal. Justru yang melindungi adiknya itu adalah pria asing yang seharusnya dijauhi oleh adiknya.
“Bagaimana bisa?”
Kalila merasakan matanya tiba-tiba memerah. Dia menahan tangis. “Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja dia muncul ketika aku sedang bekerja dan kembali bertanya apakah aku bisa menuruti keinginannya atau tidak. Ayah tidak akan berhenti sampai aku menyetujuinya dan itu sangat menyiksa, Atlas! Aku akan dijual oleh ayahku sendiri dan ketika aku pulang ke rumah ini, kamu menyiksaku dengan berkata-kata kasar dan mencengkram pergelangan tanganku!”
Atlas terdiam. Kembali terputar dalam ingatannya bagaimana dia berlaku kasar pada adiknya sendiri. Entah apa yang ada dipikirannya, namun dia hanya tidak suka ketika adiknya bersama pria itu. Atlas tidak sadar jika hal itu membuat adiknya ikut tersiksa. “Maaf,” ujarnya dengan nada yang sangat pelan hingga hampir tidak didengar oleh Kalila.
“Apa?”
“Maaf karena tingkahku kemarin. Aku hanya … tidak bisa berpikir jernih. Aku takut kamu diperlakukan dengan tidak senonoh oleh pria itu.”
Kalila berdecih dan menggelengkan kepalanya pelan. Mungkin Atlas adalah pelindungnya dan tempat paling aman untuknya, namun ternyata pria itu juga bisa menjadi sangat menyebalkan. “Tapi ternyata kamu-lah yang melukai aku.”
“Aku sudah minta maaf, Kalila.”
Atlas mengeryitkan dahinya bingung ketika melihat Kalila mengambil piringnya yang masih tersisa setengah dari makanannya. “Kal, mau kemana?”
“Sekolah.”
Fisik dan batin Kalila sangat lelah, namun dia tidak memiliki alasan untuk bolos hari ini. Dia masih harus belajar demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari ini semua.
***
Kalila lupa bahwa Matteo sempat mengatakan kalau mereka akan kembali bertemu di sekolah. Malam itu, Kalila berpikir bahwa Matteo bercanda, namun ternyata pria itu benar-benar hadir sekarang. Matteo mengadakan rapat dengan para guru yang membuat hampir seluruh kelas di sekolahnya hari itu dikosongkan dari jam pagi hingga istirahat pertama.
Kalila menggunakan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran yang belum sempat ia baca. Mengingat dia memiliki banyak masalah dalam waktu dekat ini dan terlalu banyak hal yang menyita waktunya.
“Kal.”
Kalila menoleh pada Zoe yang baru saja pulang dari kantin dengan dua bungkus roti di tangannya. “Untuk kamu.”
Kalila tersenyum. “Terima kasih.”
Zoe hanya mengangguk karena mulutnya sudah terlanjur penuh dengan roti yang mulai ia makan. “Oh, apa kamu sudah melihat ketua yayasan kita?” ujarnya tiba-tiba dengan suara yang tidak jelas karena masih mengunyah.
Kalila berdecak sebal. “Habiskan dulu makanan kamu.” Untung saja Kalila masih bisa menangkap dengan benar apa yang dikatakan oleh Zoe. “Dan, sudah. Pak Matteo Aarav, benar?” Kalila tidak tahu kenapa Zoe tiba-tiba menanyakan hal itu padanya.
Zoe langsung mengangguk semangat. “Dia tampan sekali! Banyak orang yang mengatakan kalau dia masih single. Kal, sungguh, pria sempurna dan tampan seperti Pak Matteo?! Bagaimana mungkin tidak ada wanita yang menemaninya di usianya yang matang, bukan?” Ini kali pertama Zoe melihat Matteo Aarav secara langsung, karena ketika Matteo datang ke sekolah ini beberapa waktu lalu, dia tidak masuk sekolah.
“Biasa saja,” ujar Kalila memberikan pendapat yang sudah dipastikan akan ditentang oleh banyak orang.
“Kal, kamu buta? Matteo Aarav, Kal! Pria itu sangat sempurna—”
“Memangnya kenapa kalau dia sempurna? Apakah itu akan membuat kehidupanku lebih baik? Tidak, ‘kan?” Andai jika Zoe tahu apa yang sudah dilaluinya dengan Matteo Aarav. Bagaimana mereka selalu seolah-olah kembali dipertemukan. Dan Kalila sadar, semakin lama, Matteo Aarav seolah semakin masuk ke dalam kehidupan pribadinya.
Kalila ingin protes, namun sepertinya hal itu tidak ada gunanya. Matteo sudah terlanjur mengetahui rahasia dan masalahnya.
“Cih! Kamu hanya denial. Tidak mungkin kamu tidak tertarik pada Matteo.”
Kalila hanya mengendikkan bahunya tidak peduli. Dia kembali fokus untuk membaca buku pelajarannya, namun itu hanya bertahan beberapa menit karena selang tidak lama setelahnya, seorang rekan kelasnya menghampiri dia dan menyuruhnya untuk ke ruang guru.
“Apa? Kenapa?”
Kalila mengeryitkan dahinya. Bukankah guru-guru sedang rapat?
Demi memuaskan rasa penasarannya, Kalila mengikuti perintah temannya, menyusul ke ruang guru. Ternyata, memang rapatnya sudah usai.
“Ah, Kalila Beatrice!” panggil seorang guru yang ternyata adalah wali kelasnya. “Kemari!” ujarnya yang langsung dijawab anggukan sungkan oleh Kalila.
“Pak Matteo, ini Kalila. Murid yang kemarin menjadi salah satu siswi berprestasi di sekolah ini.”
Kalila mengeryitkan dahinya. Dalam hati, dia bertanya kenapa Matteo ingin bertemu dengannya, apalagi ketika di jam sekolah seperti ini.
Namun, pria itu hanya tersenyum kecil. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kalila.
***