Chapter 21

1172 Kata
Kalila dan Matteo ditinggalkan berdua oleh wali kelas Kalila sendiri. Sang wali kelas mengatakan bahwa mereka bisa mengobrol berdua dan tidak perlu khawatir soal privasi mereka. Namun hal itu tetap saja tidak bisa membuat Kalila tenang. Dia takut jika ada salah satu warga sekolahnya yang mendengar—apapun—yang akan dibicarakan oleh Matteo. “Apa perlu Pak Matteo menemui saya di sini?” tanya Kalila dengan nada pelan. Sesekali dia melirik sekeliling ruangan, takut jika ada seseorang yang tiba-tiba datang dan mendengar percakapan mereka. “Saya kebetulan ada di sini, Kalila. Jadi, kenapa tidak sekalian saja saya bertemu dengan kamu, bukan?” Kalila menahan decakan yang akan keluar dari bibirnya. Jika dia tidak ingat bahwa dia masih di sekolah—tepatnya, di ruang guru—mungkin dia sudah protes pada Matteo. Bagaimana mungkin pria itu dengan mudahnya menemuinya tanpa rasa bersalah ataupun memikirkan tanggapan orang lain? Apa pria itu juga tidak sadar bahwa dirinya menjadi sorotan siswa-siswa di sini semenjak dia datang dengan pakaian rapi dan wajah tampannya itu? Yap, Kalila tidak ingin mengelak bahwa pria itu sangat tampan. Namun, bukan berarti Kalila menyukainya juga. “Pak Matteo, bagaimana jika ada orang yang berpikir macam-macam soal kita?” Matteo mengeryitkan dahinya. “Contohnya?” Kalila gugup menjawabnya. Dia sendiri belum menemukan kata-kata yang pas untuk ia katakan pada Matteo. “Kalila?” “Ya … bagaimana jika mereka berpikir saya memiliki hubungan dengan Bapak?” Matteo tersenyum geli. Dia menutup mulutnya dengan tangannya yang terkepal. “Jadi, kamu berharap memiliki hubungan dengan saya?” godanya sambil menatap jahil ke arah Kalila. “Bukan begitu!” Kalila kelepasan. Lalu, dia langsung membungkam bibirnya karena sudah menaikkan nada suaranya. Matteo kembali tertawa kecil. “Jadi, apa mau Bapak?” tanya Kalila kini dengan nada yang serius. Matteo mungkin sudah menyelamatkannya kemarin, namun tetap saja pria itu juga menyebalkan. “Saya ingin membantu kamu.” Matteo balas dengan wajah yang juga sama seriusnya. “Saya tahu apa masalah kamu dan saya ingin membantu kamu dalam mengatasinya.” Ucapan Matteo sontak membuat Kalila mengeryitkan dahinya. “Saya bukan siapa-siapa Bapak yang harus Bapak bantu.” Kalila tidak suka dianggap lemah walaupun dia sendiri tidak yakin dia bisa kuat. Namun, Matteo yang mengetahui rahasianya saja sudah melebihi batasan mereka. Kalila tidak mau membiarkan pria itu semakin masuk ke dalam kehidupannya. “Tapi, kamu membutuhkan bantuan saya. Dan saya juga … membutuhkan kamu.” Kalila kembali tidak paham. “Bisakah Bapak mengatakan semuanya dengan jelas? Saya sama sekali tidak paham.” Matteo menarik napasnya dalam-dalam. Dia menatap gadis itu dengan intens. “Saya butuh bantuan kamu, Kalila.” “Apa ini seperti simbiosis mutualisme? Bapak ingin saya membantu Bapak and in return, Bapak akan membantu saya dalam menyelesaikan masalah saya dengan Ayah saya?” Pertanyaan Kalila dijawab oleh anggukan yakin oleh Matteo. “Saya tidak mau.” Kalila langsung menjawab tanpa pikir panjang. Gila saja. Jika dia menyanggupinya, maka itu sama saja dengan dia yang membiarkan Matteo dan dirinya semakin dekat. Tidak, Kalila tidak menginginkan itu. “Kenapa? Kamu bahkan belum tahu apa yang saya minta dari kamu.” Kalila menggeleng tegas. “Saya tidak perlu tahu karena saya tidak akan membantu Bapak.” Kalila melipat kedua tangannya di depan tubuhnya. Dia menatap Matteo seolah tatapannya mengatakan; aku tidak takut. “Kal, kamu sangat keras kepala.” Kalila tersenyum miring. “Memang. Saya tahu saya sangat keras kepala. Jadi, apa yang Bapak harapkan?” Matteo menghembuskan napasnya perlahan. “Kalila, kini kita menghadapi masalah yang sama—” “Saya bahkan tidak tahu masalah Bapak.” Kalila mengendikkan bahunya. “Dan saya bermaksud untuk memberitahu kamu.” “Dan saya tidak mau untuk diberitahu.” Jalan buntu. Tidak bisa Matteo kembali memaksa Kalila untuk sekadar mendengarkannya. Kalila sangat susah untuk diajak berbicara dan bernegosiasi. “Kal, saya tidak akan menyerah.” “Oh silakan saja. Ayah saya juga tidak menyerah untuk membuat saya menjual diri saya sendiri kepada temannya, dan sampai sekarang saya masih belum goyah dengan permintaannya. Jadi, silakan mencoba, Pak Matteo. Kita lihat sampai berapa lama Bapak bertahan untuk membujuk saya.” Kalila sudah akan bangkit dari duduknya, namun kali ini Matteo menahan pergelangan tangannya. “Kenapa kamu seolah sangat membenci saya?” Tidak. Kalila tidak membenci Matteo. Dia hanya tidak suka ketika dia menyadari fakta bahwa Matteo benar-benar mengetahui rahasianya. Dan kini Matteo meminta bantuannya. Kalila tidak suka itu. “Karena Bapak sangat menyebalkan.” Kalila meninggalkan Matteo begitu saja karena tidak ingin kembali terlibat dalam percakapan dengan pria itu. *** Ketika Kalila sampai di kelasnya, dia tidak tahu bahwa kedatangan Matteo dan pria itu yang meminta untuk bertemu dengannya sangat membuat seisi kelas heboh. Zoe sebagai sahabatnya, merasa memiliki priviledge untuk menanyakan hal itu terlebih dahulu pada Kalila. “Kal, tell me everything!” Zoe menarik tangan Kalila demi menghindari sahabatnya itu dari sekian banyak pertanyaan yang akan dilontarkan oleh teman-teman kelas mereka. Kalila berdecak. “Tidak ada apa-apa, Zoe.” “Tapi kamu baru saja bertatap muka berdua dengan Pak Matteo, Kal! Memangnya apa yang kalian bicarakan berdua?” Hal buruk jika Zoe tahu bahwa Matteo menawarkan bantuannya untuk mengatasi permasalahan ayahnya. Tidak mungkin Kalila memberitahu sahabatnya itu, jadi dia harus berhati-hati ketika mengatakannya sekarang. “Tidak ada. Hanya beberapa hal soal beasiswa yang selama ini aku terima dan juga beasiswa kuliah.” Bagus! Kalila bangga pada dirinya sendiri dan kepintarannya dalam mengelak. “Apa?” “Iya, beasiswa kuliah. Kalau tidak salah, tadi dia menyebutkan beberapa lembaga yang sekiranya akan membantu menyediakan beasiswa untukku.” Zoe mengeryitkan dahinya. Kalila terlihat gugup dan perkataannya menjadi lebih cepat dari sebelumnya. “Kal, ada banyak murid yang menerima beasiswa itu. Bukan kamu saja. Tapi, kenapa hanya kamu yang ditawarkan bantuan?” Kalila melengos sambil mengendikkan bahunya. “Aku tidak tahu. Mungkin dia tahu kalau aku membutuhkan beasiswa itu nanti.” Zoe memincingkan matanya curiga dan itu membuat Kalila menjadi lebih gugup. “Zoe?” tanyanya ketika menyadari sahabatnya itu hanya menatapnya dan tidak memberikan tanggapan apapun. Zoe berdecak. “Tidak asyik.” “Apa?!” “Aku mengira kamu akan membicarakan hal lebih personal dengannya.” Kalila memukul lengan sahabatnya itu. “Jangan berpikir macam-macam.” Zoe hanya tertawa dan dia menoleh ke arah lain. Menerawang ke arah depanya sambil berkata, “Aku penasaran apakah aku masih bisa mengucapkan kata-kataku dengan benar ketika dia berada di hadapanku nanti.” Kalila berdecak. Entah apakah sahabatnya yang terlalu berlebihan atau memang dia sendiri yang tidak sadar bahwa pesona Matteo memang se-memikat itu. “Kamu berlebihan.” “Kamu tidak gugup ketika bertemu dengannya nanti?” Kalila menggeleng. “Dia sangat tampan, Kal. Kamu buta, ya?” Kalila sebal bukan main karena ini bukan kali pertama dia mendengar seseorang memuji Matteo secara berlebihan. Lama-lama dia muak. “Iya.” Kalila menjawab singkat. Wajahnya langsung cemberut. Namun, melihat wajah kesal dari temannya, Zoe hanya tertawa meledek. “Jangan terlalu dingin padanya, Kal. Siapa tahu, nanti dia-lah yang menjadi jodoh kamu.” Tanpa menahan diri lagi, Kalila memukul kepala Zoe dengan buku yang ada di hadapannya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN