Chapter 22

1121 Kata
Matteo tahu dan sadar sepenuhnya bahwa ide yang dicanangkannya pada Kalila memang sedikit gila. Mereka tidak saling kenal dekat, interaksi mereka minim, dan Kalila tidak menyukainya. Entah apa yang membuat Matteo merasa bahwa Kalila adalah solusi atas masalahnya dan Aya. Iya, Aya—mantan kekasihnya itu, terus saja memburunya dengan selalu ingin bertemu dengannya. Proyek mereka yang sudah berlangsung sekarang, membuat wanita itu melihat adanya celah untuk selalu bertemu dengan Matteo. Matteo tidak besar kepala, dia sadar betul bahwa Aya memang hanya ingin bertemu dengannya. Puncaknya, di hari ketika Matteo memutuskan untuk pergi ke klub malam setelah dia pulang dari kantor. Sebelum itu, Aya dan tim-nya mengadakan meeting demi kelancaran proyek mereka. Matteo tetap menghargai Aya sekalipun wanita itu sangat kurang ajar dalam menyampaikan pendapatnya. Aya tidak mengerti apapun soal bisnis. Dia sangat awam dan yang membuat Matteo kesal, dia selalu menghambat jalannya rapat mereka seolah dia memang sudah tahu segalanya—persis seperti rapat pertama yang mereka adakan. Beberapa kali Aya menyela ucapan Matteo dan membuat Matteo kesal. Namun untungnya, rapat tetap berjalan seperti biasa walaupun Matteo kesal bukan main. Selepas rapat, Matteo undur diri terlebih dahulu karena dia memiliki pertemuan lain, tak disangka ketika Matteo berjalan melewati Aya, wanita itu tiba-tiba pingsan di hadapannya. Matteo tidak memiliki pilihan lain selain membawanya ke dalam pelukannya—walaupun ia enggan. “Panggil ambulance dan tolong telepon suaminya.” Matteo tidak ingin dianggap kurang ajar karena sudah menyentuh istri orang sembarangan. Lagipula, dia tidak mau membawa Aya lama-lama dalam pelukannya. Beberapa staff-nya menuruti perintah dari Matteo. Ambulance datang tidak lama kemudian, namun sayangnya Aya sadar sesaat sebelum ambulance sampai ke kantor mereka. “Menyusahkan sekali,” gumam Matteo sambil berlalu meninggalkan Aya yang sedang diperiksa langsung oleh beberapa orang. Matteo menjalani sisa harinya seperti biasa. Ketika di sore hari sebelum dia pulang bekerja, suami Aya mendatanginya langsung di kantornya. Matteo awalnya mengira bahwa ada hasil rapat yang tidak sesuai dengan keinginan Nino. Namun ternyata, perkiraannya salah. Nino marah-marah padanya karena menganggap Matteo sudah kurang ajar pada Aya. “Get over yourself, Pak Matteo. Jangan coba-coba mengusik istri saya sendiri dengan dalih kerja sama ini.” Nino berada di hadapannya dengan tatapan penuh amarah dan cemburu walaupun sebenarnya dia sangat salah paham. Matteo tetap duduk di tempatnya dan menatap Nino dengan wajah tenangnya. Air mukanya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan sedikitpun. Dia tidak salah, itu yang ia camkan di pikirannya. “Saya tidak mencoba untuk membuat Aya pingsan, saya juga membawanya karena dia pingsan di hadapan saya sendiri—yang mana tidak mungkin saya membiarkannya tergeletak begitu saja. Lalu, kenapa Anda marah-marah pada saya ketika Anda seharusnya tahu kalau istri Anda saja yang ingin merayu saya?” Matteo sadar bahwa ucapannya sedikit kurang ajar saat itu. Namun, dia juga tidak bisa menerima dirinya yang dipojokkan oleh Nino. “Apa?! Anda mengatakan kalau istri saya masih mencintai Anda, Pak Matteo?” Nino melipat kedua tangannya di depan tubuhnya. Dia menatap Matteo dengan tatapan merendahkan. Berani sekali pria itu besar kepala, pikirnya dalam hati. Sejak awal, Nino sadar betul bahwa Matteo memiliki beberapa hal yang lebih menonjol dari pada dirinya. Soal kekayaan dan status sosial, jangan diragukan lagi. Matteo jauh lebih baik darinya, walaupun Nino juga termasuk ke dalam salah satu orang yang dipandang oleh masyarakat. “Saya tidak bermaksud menyinggung, tapi sepertinya itulah kenyataannya. Tapi, satu yang perlu Anda tahu, saya tidak peduli akan hal itu. Saya tidak pernah lagi mencintai istri Anda sendiri, entah apa yang membuat Anda berpikir hal itu, Pak Nino. Saya bukan pria yang gemar menggoda istri orang lain.” Matteo geli sendiri mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan. Namun, Nino perlu disadarkan. Dia sudah membuat malu Matteo sendiri karena tiba-tiba datang ke ruangannya dengan penuh amarah. “Jika Anda kembali mendekati Aya, maka Anda akan segera menyesal, Pak Matteo.” Nino meninggalkan ruangan itu, masih dengan emosi yang membuncah di dadanya. Matteo hanya mengendikkan kedua bahunya tidak peduli. Walaupun begitu, tetap saja suasana hatinya rusak bukan main. Gila, ini pertama kalinya seorang Matteo Aarav disangka sudah merebut istri orang lain! Matteo berpikir bagaimana caranya agar Aya kapok dengan perbuatannya sendiri. Namun, hal pertama yang harus dilakukan oleh Matteo adalah menenangkan dirinya sendiri. Malam itu, dia pergi ke klub—tempat di mana kali pertama ia bertemu dengan Kalila. Matteo tidak menyangka dia akan mengetahui satu rahasia tentang Kalila dan entah apa yang membuatnya berpikir bahwa itu adalah solusi. “Hahaha … apa karena Tjahaya Zeera dan seorang Matteo Aarav menjadi orang bodoh?” ledek Anna ketika kakaknya itu mendengar apa yang dikatakannya sebagai solusi. Anna mengajaknya untuk makan siang selepas Matteo pulang dari SMA di mana dia menjadi ketua yayasan dan pemegang donatur. Matteo memilih untuk bercerita pada Anna soal Aya dan Kalila, tapi ternyata Anna malah menjadikannya sebagai bahan ledekan. “Tidak lucu,” ujar Matteo sambil cemberut. Dia sedang pusing memikirkan bagaimana caranya agar Aya menjauh darinya dan tidak lagi mengganggunya, namun Anna malah meledeknya. “Kamu salah, Matty. Bagaimana mungkin seorang gadis SMA mau dijadikan simpanan—” “Aku tidak menjadikan dia simpanan, Anna. Aku hanya ingin dia berpura-pura menjadi pacarku agar Aya tidak lagi mengganggu aku.” Matteo masih mencoba untuk membela dirinya sendiri. Dia sudah tahu apa yang menjadi masalah Kalila, tidak mungkin dia meminta hal yang sama. “Kamu saja belum dekat dengannya, bagaimana dia bisa percaya dengan kamu?” Anna mengambil kue red velvet yang ada di hadapannya dan memakannya santai walaupun Matteo menatapnya kesal karena itu adalah kue miliknya. “Jadi, aku harus dekat dulu dengannya?” Anna hampir tersedak ketika memakan kue tersebut karena pertanyaan polos dari Matteo. “Matty! Apa kamu ingin memiliki hubungan dengan orang asing?” Matteo menggeleng. Dia menatap Anna dengan tatapannya yang tidak berdosa. “Dan gadis itu masih menganggap kamu orang asing, Matty! Dia tidak mau menjalankan rencana kamu karena itu.” Anna kembali tertawa. Tidak bisa ia sangka bahwa adiknya akan menjadi sangat bodoh dalam masalah percintaan. “Tapi lagipula, aku rasa tidak perlu memiliki hubungan dengan gadis itu jika kamu hanya ingin mengusir Aya. Aku tidak yakin jika dia masih mau mengganggu kamu setelah tahu bahwa suaminya marah-marah pada kamu.” Matteo menghela napas. “Semoga saja. Aku juga tidak ingin diganggu lagi dengan wanita itu.” “Sepertinya mantan kekasih kamu gila.” “Tidak semua,” bela Matteo. Mengingat dia juga pernah berhubungan dengan satu wanita yang ia relakan. “Aku hanya merujuk pada Aya. Memangnya, siapa lagi yang kamu pikirkan?” Matteo terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu sudah berpikir yang tidak-tidak. Sementara itu, Anne hanya tertawa geli melihatnya. “Kamu memikirkan Zee, ya?” “Tidak.” “Ayolah. Akui saja. Tapi sayangnya, dia mungkin sudah berbahagia dengan mantan suamiku.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN