Chapter 23

1132 Kata
Baru saja Anna dan dirinya menyinggung soal Zee dan Regan, sesaat setelah Anna memilih untuk kembali bekerja, Matteo tidak sengaja bertemu dengan Zee di perjalanan dia menuju kantor. “Matteo?” Tidak bisa ia sangkal bahwa wanita itu semakin cantik setelah sekian lama dia tidak melihatnya. Zee sepertinya terkejut saat melihat Matteo berada di dekatnya. Anne yang berada di gendongannya juga sepertinya masih mengenal Matteo—terbukti dengan bocah itu yang melambai-lambaikan tangannya kepada Matteo sambil mengoceh tidak jelas. “Kamu di sini,” ujar Matteo dengan senyuman hangat di wajah manisnya. Dia mempersilakan Zee untuk duduk di bangku taman di pinggir jalan raya. Untungnya, suasana di sekitar mereka tidak terlalu ramai dan cuaca pun tidak terlalu panas. “Aku menunggu Regan.” Tiba-tiba saja Zee berucap. Dia menoleh pada Matteo dan membalas senyumannya. Matteo tidak tahu apa arti ucapan Zee yang tiba-tiba, namun sepertinya Zee takut jika Regan melihat mereka berdua, maka pria itu akan berpikir yang macam-macam. “Oh, baiklah.” Matteo mengangguk mengerti. “Kamu dengan dia apa sudah …” Matteo ragu untuk menanyakan lebih lanjut. Namun, dia sangat penasaran. Ingin sekali dia bertanya apakah Zee dan Regan sudah kembali menikah. Mengingat bahwa sekarang mereka tidak memiliki halangan apapun untuk bersatu lagi. Apalagi ketika tahu bahwa Anne sudah tumbuh lebih besar dan pasti segera dia harus mendapatkan sosok ayah yang sebenarnya. Yang selalu ada untuknya. “Belum, Matteo. Kami belum merencanakan itu.” Matteo tidak kuasa untuk tidak menggendong Anne yang terlalu menggemaskan. Dia akhirnya mengambil Anne dari gendongan ibunya. Kedua mata Matteo menatap Anne sambil mencubit-cubit kecil pipi gembul anak itu. Lalu, Matteo bertanya pada Zee. “Apa yang membuat kamu menundanya, Zee?” Zee terlihat gugup. Mungkin dia tidak enak hati jika harus menceritakan hubungannya dengan Regan ketika Matteo sendiri adalah mantan kekasihnya juga. “Tidak ada. Kami hanya berpikir bahwa dulu kami juga mengambil keputusannya terlalu teburu-buru. Kami tidak ingin gagal kembali karena terburu-buru, Matt. Kami sudah punya Anne sekarang, aku tidak mau membiarkan dia tumbuh dalam keluarga yang tidak sempurna.” Well, Matteo memang sudah merelakan Zee dengan pria pilihannya, namun dia tidak bisa menyangkal bahwa dia juga sakit hati mendengarnya. Dulu, dia sangat mencintai Zee. Dia terlalu mencintai wanita itu hingga dia akan melakukan apapun untuk wanita tersebut. Sekaligus, melepaskannya demi kebahagiaan Zee sendiri. “Oh, begitu. Baiklah, aku berharap yang terbaik untuk kalian.” Matteo mencubit ujung hidung Anne yang membuat bayi itu berteriak tidak suka. Tingkah laku Anne yang menggemaskan, membuat kedua orang dewasa itu tertawa. “Aku juga, Matt. Aku berharap yang terbaik untuk kamu.” Karena tangan usil dari Matteo, Anne menjadi memberontak dalam gendongannya. Dia meminta untuk dikembalikan ke gendongan ibunya. Zee tertawa melihat tingkah anaknya itu. “Aku tidak tahu kalau kamu settled down di sini.” Zee mulai berbasa-basi karena mungkin Regan masih lama menjemput dia dengan Anne dan otomatis Zee akan mengabiskan waktu dengan Matteo di sini. “Hm. Sudah lama sebenarnya, aku ingin mengurus bisnisku di sini.” Matteo mengalihkan tatapannya dari Zee dan memilih untuk menatap jalanan di depannya. Zee menggigit sedikit bibir bawahnya karena canggung. Sial. Kenapa juga dia harus menemui mantan kekasihnya di sini? Masih ada rasa bersalah dalam hati Zee mengingat dia sudah meninggalkan Matteo untuk Regan. “Kamu bahagia sekarang, Zee?” Matteo adalah saksi hidup bagaimana Zee terpuruk setelah bercerai dengan Regan dulu. Matteo tidak bisa membiarkan wanita itu menghadapi semuanya sendirian, apalagi saat itu Zee sedang hamil. Dia menemani Zee dan semakin hari, cintanya tumbuh. Matteo pernah berpikir bahwa Zee mungkin adalah yang terakhir untuknya, tapi sepertinya dia salah. Zee tersenyum kecil. “Terima kasih, Matt.” Matteo mengeryitkan dahinya samar mendengar ucapan terima kasih dari Zee. “Kenapa, Zee?” Dia terkekeh. “Aku tidak melakukan apapun.” “Kamu yang sudah membawakan kebahagiaan buat aku, Matteo.” Zee menggenggam tangan Matteo walaupun ragu. “Terima kasih, jika tanpa kamu, aku tidak tahu bagaimana nasibku sekarang. Kamu pria yang baik, aku harap, kamu juga mendapatkan pasangan yang baik, Matt.” Matteo mengangguk. “Terima kasih, Zee. Tapi, aku tidak ingin kamu menyimpan rasa bersalah ini. Kamu sudah bahagia dengan Regan dan itu yang terpenting.” “Zee?” Mereka berdua langsung menoleh pada seorang pria yang baru saja datang dan berdiri di samping Zee. Itu Regan Wijaya, mantan suami Zee yang mungkin akan melangsungkan pernikahan dengan wanita itu lagi untuk kedua kalinya. “Hai, Regan.” Untung saja, Matteo sudah melepaskan genggaman tangannya dari Zee sebelum pria itu datang, karena jika tidak, mungkin Matteo akan kembali mendapatkan masalah karena Regan menganggap dia kurang ajar. “Matt,” sapa Regan dengan canggung. Pasalnya, mereka belum pernah bertemu kembali setelah Zee memutuskan kembali dengan Regan. Matteo membalas sapaan Regan dengan senyumannya. “Ayo,” ajak Regan pada Zee tanpa berbasa-basi lagi dengan Matteo. Pria yang lebih tua darinya beberapa tahun itu sepertinya tidak mau berbicara apapun padanya, dan Matteo mengerti. “Sampai jumpa, Matt.” Matteo mengangguk. “Sampai jumpa.” *** Matteo merasa suasana hatinya menjadi kacau setelah bertemu dengan Zee. Dia kembali mengingat masa-masa mereka bersama di Jerman. Matteo mengendarai mobilnya, memecah jalanan di kota itu yang cukup ramai. Matanya melirik ke trotoar dan dia melihat seorang gadis dengan seragam SMA di pinggir jalan itu dengan seorang pria. Dari perawakan gadis tersebut, Matteo seperti mengenalnya. Matteo hapal dengan postur tubuh sang gadis. Maka dari itu, Matteo memelankan laju mobilnya dan berhenti tidak jauh dari tempat gadis itu berdiri. Matteo memincingkan kedua matanya demi melihat lebih jelas siapa gadis itu. “Kalila?” gumanya. Bagaimana mungkin takdir membawanya kembali bertemu dengan gadis itu? Bukankah ini pertanda bahwa Matteo bisa membujuk gadis itu agar mau membantunya? Karena rasa penasaran, akhirnya Matteo turun dari mobilnya. Dia melangkahkan kakinya perlahan menuju tempat Kalila dan seorang pria sepantaran ayahnya yang tidak dikenal oleh Matteo. “Lepaskan!” Matteo mengeryitkan dahinya. Sejak melihat mereka tadi, dia seolah tahu bahwa ada yang tidak beres di sana, dan dugaannya seolah diperkuat saat dia mendengar Kalila berteriak. Apalagi Matteo sadar bahwa pria itu sengaja mencengkram erat pergelangan tangan Kalila. “Lepaskan tangan Anda.” Matteo berada di belakang tubuh Kalila dan dia bisa tahu bahwa gadis itu ketakutan sekarang. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. “Pak Matteo?” “Sebagai pria dewasa, seharusnya Anda mengerti kalau tindakan Anda ini bisa terjerat hukum, bukan?” Matteo tidak dulu menggubris panggilan dari Kalila yang terheran karena melihatnya tiba-tiba di sini. Matteo sendiri tidak tahu bagaimana mereka bisa selalu secara tidak sengaja bertemu. Pria itu menatap Matteo tidak suka. Mungkin dalam pikirannya, dia menganggap Matteo terlalu ikut campur. “Dan apa Anda juga tidak tahu kalau saya bisa menuntut Anda kembali karena ikut campur?” Matteo balik menatapnya dengan tatapan menantang. “Oh, Anda ingin berdebat sekarang? Bagaimana jika kita membawa ini ke jalur hukum langsung?” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN