Chapter 34

1159 Kata
Kalila dengan terpaksa melingkarkan tangannya di lengan kokoh Matteo dan hal itu ia lakukan karena tiga alasan. Pertama, dia tidak ingin disangka seperti anak hilang di pesta yang sangat ramai dan dipenuhi oleh orang-orang yang tidak ia kenal itu. Kedua, dia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan para manusia dengan strata sosial tinggi ini. Ketiga, yang paling ia tidak suka, dia harus mengatakan secara tidak langsung pada situasi di sekitarnya bahwa dia adalah pasangan Matteo Aarav malam ini. “Tenanglah. Mereka tidak akan menggigit kamu.” Matteo berbisik pada Kalila dan itu membuat Kalila mendengus tidak suka. Memang tidak akan menggigit, tapi tatapan mereka benar-benar membuat Kalila takut bukan main. “Tapi—” “Aku di samping kamu, Kal. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi.” Yap, memang tidak ada. Jika ibu dari Matteo Aarav itu tidak menghampiri mereka berdua dengan tatapan sinis dan kebingungan juga menatap Kalila dingin itu tidak dimasukkan ke dalam kategori hal buruk, maka ucapan Matteo benar adanya. Tapi sayangnya, bagi Kalila, hal itu sangatlah buruk. “Matty.” Ibu dari Matteo—iya, pria itu sudah membisikkan hal itu terlebih dahulu padanya ketika wanita paruh baya yang sangat cantik itu melangkah mendekat ke arah mereka. “Kamu datang.” “Ibu.” Matteo tersenyum dan membalas pelukan dari ibunya. Kalila berdiri kaku di tempatnya. Dia harus rela melepaskan genggaman tangannya dari Matteo karena dia tidak ingin disangka kurang ajar oleh ibu dari Matteo. “Siapa ini?” tanyanya. “Oh, ini Kalila Beatrice. Kalila, ini ibuku, Irish Peony.” Kalila tersenyum dengan sangat sopan. “Senang bertemu dengan Anda, Tante Irish.” Ingin sekali dia mengulurkan tangannya dan menjabat wanita itu. Namun, Kalila menahan dirinya sendiri karena dia takut dianggap tidak sopan. Irish hanya tersenyum kecil sebagai jawaban. “Mama tidak tahu kalau kamu akan membawa seorang gadis bersama kamu, Matty.” Matteo sudah merencanakan segalanya dengan matang-matang soal bagaimana dia harus menghadapi Aya bersama Kalila nanti. Namun, Matteo lupa bahwa ada ibunya yang pasti memiliki rasa keingintahuan tinggi soal gadis yang ia bawa. “Iya maaf, Mama. Kami asalnya tidak berencana untuk datang—” “Kamu tidak ingin datang ke acara ayah kamu sendiri?” Kalila melirik Matteo dan seolah mengatakan padanya; wrong move, Matteo. Kalila memilih untuk diam. “Bukan begitu maksud aku, Mama. Tapi, sungguh, aku tidak berencana untuk menyembunyikan Kalila. Aku memang akan mengenalkannya pada Mama.” Tanpa diketahui siapapun, mata Kalila membelalak tidak percaya. Apa? Pria ini ingin dia dikenalkan langsung dengan ibunya? Gila! “Oh, begitu?” Irish menolehkan pandangannya pada Kalila. “Kalila, apa Tante boleh membawa Matteo sebentar? Kamu bisa menunggu di sini.” Kalila bukan orang bodoh yang tidak mengetahui arti tersembunyi dari ucapan Irish. Irish mungkin akan menanyakan beberapa hal pada Matteo tentang dirinya sehingga dia tidak boleh mendengar percakapan itu. Kalila mengerti dan karena itu pula dia menganggukkan kepalanya. Irish menarik putranya pelan menuju sisi rooftop. Cukup jauh dari Kalila yang kini sudah seperti orang hilang. Dari tempatnya berdiri, Matteo sesekali melirik ke arah gadis itu yang mematung diam dan seolah ketakutan. “Mama, ada apa?” Irish menghela napas. “Jadi dia gadis yang kamu maksud?” tanya Irish. “Iya.” “Well, she’s so young.” Irish ikut-ikutan melirik ke arah Kalila. “Mama mengatakan padaku sebelumnya kalau Mama sama sekali tidak keberatan dengan usia pasanganku.” Matteo memprotes. “Memang, hanya saja … apa kamu tidak takut di-cap p*****l?” Matteo terkejut mendengar ucapan ibunya yang blak-blakan. “Mama mengira aku p*****l?” “Tidak, tapi mungkin orang lain akan menganggapnya seperti itu.” Irish tersenyum geli pada anaknya dan akhirnya meninggalkan Matteo sendiri. Dia hanya ingin memastikan bahwa gadis yang dibawa oleh Matteo adalah gadis yang sama dengan yang ia ceritakan. Irish tidak ingin anaknya memiliki banyak gadis dan menjadikannya berengsek. Matteo kembali menghampiri Kalila yang sedang membelakanginya sambil menatap langit malam. “Kal.” Matteo berdiri di sampingnya dan itu membuat Kalila terkejut. Matteo tertawa kecil melihatnya. “Oh, Ibu kamu sudah selesai berbicara dengan kamu?” tanya Kalila sambil sekilas membalikkan badannya melihat Irish yang sekarang sudah pergi. “Iya.” Matteo tidak mengalihkan tatapannya dari Kalila. “Apa kamu baik-baik saja?” Kalila membalas tatapan Matteo dan dia terkejut ketika mendapati Matteo menatapnya dengan sangat lembut. Tidak, Kalila tidak bermimpi ataupun bercanda kali ini. Matteo sungguh sangat intens ketika menatapnya dan itu bahkan bisa membuat Kalila menahan napasnya sendiri. Mulai sekarang—mengingat mungkin mereka akan menghabiskan waktu bersama lebih sering—Kalila harus mulai terbiasa dengan Matteo dan sikapnya yang terkadang absurd. Dia tidak boleh terlalu gugup. Dan paling penting, perasaannya tidak boleh ikut andil dalam hal ini. “O-oh, iya.” Kalila berdeham demi menormalkan degup jantungnya. “Maaf jika sikap ibuku tadi membuat kamu tidak nyaman. Dia hanya menanyakan apakah aku sungguh membawa kamu sebagai pasangannya atau hanya main-main saja. Dia takut aku disangka pedofil.” Matteo mengatakannya dengan wajah yang sangat polos dan datar membuat Kalila yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil. “Kamu pedofil.” Kalila ikut menggoda Matteo yang membuatnya berdecak tidak suka. “Bukan.” “Iya, memang bukan.” Mereka kembali diam di tengah keramaian pesta. Kalila tidak tahu harus melakukan apa di sini, Matteo sendiri belum mengatakan aba-aba apapun padanya. Tapi, dia tahu dia tidak boleh mengulur waktu. Jika Matteo belum juga memberikannya perintah, maka ia akan berinisiatif sendiri untuk menawarkan bantuan. “Jadi, di mana wanita itu? Lalu, apa yang harus aku lakukan?” Matteo teringat soal Aya. Sedari tadi, pikirannya melayang kemana-mana, termasuk pada Kalila yang terlihat sangat cantik malam ini. Dress panjang dan tertutupnya membuat dia berbeda dengan wanita-wanita lain ke acara ini yang mengenakan dress sedikit terbuka. Jujur, Matteo terpesona. “Oh, benar.” Matteo mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mengedarkan pandangnanya. “Aku belum melihatnya. Tapi, ketika dia datang, kamu tidak perlu melakukan apapun selain diam di sampingku.” Kalila tidak mengerti. Ia mengira dia harus mengatakan sesuatu pada wanita yang katanya mengganggu Matteo itu. Dia tidak tahu siapa wanita itu hingga akhirnya seseorang mendatangi mereka berdua. “Matt!” Tunggu. Kalila mengenal siapa pemilik suara itu. Oh, tidak. Kebetulan apa lagi ini? “There she is. Kita tidak perlu mencarinya karena dia akan menunjukkan dirinya sendiri.” Bodoh! Apa itu Aya?! Dengan sedikit ragu, Kalila membalikkan badannya untuk mengobati rasa penasarannya. Benar saja! Itu aya! Aya sepupunya yang ternyata adalah wanita yang mengganggu Matteo. Sial! “Lho? Kalila Beatrice?” Nice. Kini Kalila tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kalila hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. “Matteo, kenapa sepupuku ada bersama kamu?” Raut wajah Aya mulai terlihat tidak mengenakkan. Aya terlihat takut dan cemas. “Matt?” tanyanya sekali lagi ketika tidak ada satupun antara dua orang itu yang menjawab pertanyaannya. “Dia kekasihku, Aya.” “Apa?” Sial. Kalila seharusnya menanyakan terlebih dahulu siapa wanita-nya. Jika sudah seperti ini, Kalila hanya akan menambah-nambah masalah. Matteo sialan. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN