Chapter 33

1162 Kata
Kalila menepati janjinya pada Matteo untuk datang ke kantor pria itu selepas pulang sekolah. Dia sedikit terlambat dari waktu yang mereka sepakati karena tiba-tiba saja guru Geografi-nya mengadakan kuis mendadak dan itu cukup memakan waktu. Belum lagi keadaan jalanan yang sangat ramai di sore hari. Kalila sudah tidak peduli dengan penampilannya yang acak-acakan selepas pulang sekolah dan masuk ke gedung besar dan mewah tempat di mana Matteo Aarav bekerja. Terlebih dahulu, dia melangkahkan kakinya ke meja resepsionis yang ada di lantai dasar. “Permisi.” Dia berkata sopan dan sedikit menjinjitkan kakinya di hadapan wanita dewasa itu. “Ada perlu apa?” “Saya ingin bertemu Matteo Aarav.” Kalila sedikit gugup. Dia takut resepsionis itu menganggapnya macam-macam. Apalagi melihat tampilan Kalila yang masih belia dan memakai seragam sekolah. Namun, segala pikiran negatif itu buyar ketika wanita tersebut tersenyum ke arahnya. “Baiklah. Mari saya antar.” Wanita itu keluar dari meja resepsionis dan melangkahkan kakinya lebih dulu. “Kamu keponakannya?” tanya wanita itu berbasa-basi ketika mereka di lift. Kalila menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Dia kebingungan harus menjawab apa karena dia memang bukan keponakan Matteo. Dia memilih untuk tersenyum saja. Melihat itu, sang wanita hanya tertawa kecil. “Pak Matteo sering sekali lembur dan pulang larut malam di hari-hari tertentu.” Kalila tidak membutuhkan informasi itu, tapi dia sedikit heran—karena faktanya, Matteo sering sekali mampir ke klub tempat ia bekerja dan itu bukan larut malam. Biasanya Matteo datang di jam delapan atau sembilan malam. Ah sudahlah. Kalila menggelengkan kepalanya, bermaksud mengusir semua pikirannya. “Ruangannya di tengah itu. Pintu paling besar.” Kalila menolehkan kepalanya ketika dia sudah keluar dari lift. “Terima kasih.” Dia membungkukkan sedikit badannya ketika mengatakan itu dan tersenyum sopan. Kalila menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Di depan ruangan itu, kembali Kalila bertemu dengan asisten Matteo. “Saya Kalila, dan saya ingin bertemu dengan Pak Matteo,” ujarnya dengan penuh sopan santun. Asisten Matteo mengangguk. “Pak Matteo sudah menunggu kamu.” Kalila terkejut mendengarnya. Dia melangkahkan kakinya perlahan di belakang asisten Matteo ketika asistennya itu membukakan pintu ruangan Matteo. “Pak Matteo, Kalila sudah di sini.” “Suruh dia masuk.” Entah kenapa degup jantung Kalila bertambah cepat ketika mendengar suara Matteo Aarav. Kalila menundukkan kepalanya seiring dengan langkah kakinya yang mendekat ke meja Matteo. “Kamu telat, Kal.” Itu-lah kata sambutan yang diucapkan Matteo padanya. Kalila mengangguk. Tidak mencoba untuk mendebat ataupun membela diri, walaupun dia juga sedikit kesal ketika mendengarnya. “Ada kuis mendadak di sekolah dan jalanan tadi macet.” Matteo bergumam mengerti. Dia bangkit dari duduknya, mengitari meja kerjanya untuk lebih dekat dengan Kalila dan bersandar ke meja tersebut sambil menatap gadis itu. “Dan kamu terus saja menundukkan pandangan kamu.” Kalila langsung mendongak ketika mendengarnya. “A-aku…” Sial. Harusnya dia tidak gugup. Jika dia gugup, hal itu hanya akan membuatnya semakin terlihat bodoh di hadapan Matteo. Matteo tertawa kecil. Tanpa pria itu sadari, sebenarnya auranya yang tenang itu-lah yang membuat Kalila gugup. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan?” Kalila mendesak Matteo. Matteo menghela napas. “Duduklah dulu.” Matteo menunjuk kursi kosong di samping Kalila dengan mengendikkan dagunya. Kalila mengangguk dan menuruti permintaan Matteo. “Jadi?” tanyanya lagi ketika Matteo hanya menatapnya tanpa mulai berbicara. “Malam ini, ada acara yang diadakan perusahaan ayahku. Aku ingin kamu hadir di sana, menemaniku. Berpura-puralah menjadi pacarku, karena wanita yang ingin aku hindari ada di sana.” Kalila mengeryitkan dahinya. “Memangnya wanita itu selalu menggganggu kamu hingga kamu terpaksa melakukan ini?” Kalila benar-benar tidak mengerti kenapa Matteo ingin sekali menghindari wanita yang katanya sangat menyebalkan itu. Maksudnya, untuk apa bekerja sama dengan Kalila yang belum tentu bisa mengusir wanita tersebut? Bisa jadi Kalila-lah yang terlebih dulu terusir. “Kamu tidak tahu bagaimana konyolnya dia.” Matteo menarik napas dan menghembuskannya kasar. Kalila tidak tahu bagaimana Aya menggodanya setiap mereka ada kesempatan, bagaimana wanita itu dengan tidak tahu dirinya mengatakan kalau dia masih mencintai Matteo ketika wanita itu sudah memiliki suami. Kalila mengendikkan sebelah bahunya, sedikit tidak peduli. “Fine. Aku akan membantu kamu.” “Bagus, karena memang itulah perjanjian kita.” Matteo mengambil kunci mobil yang ia letakkan di atas meja dan melangkahkan kakinya lebih dulu, meninggalkan Kalila dengan kebingungannya sendiri. “Kamu akan ke mana, Pak Matteo?” tanyanya heran. “Ayo, kita harus bersiap-siap ke pesta itu.” *** Kalila mengira bersiap-siap maksud Matteo adalah membicarakan rencana mereka ketika bertemu dengan wanita yang ingin Matteo hindari. Namun dirinya salah total, pria itu ternyata mengajaknya ke salah satu butik mewah di pusat kota dan membuatnya memakai dress yang Matteo pilih sendiri. “Aku tidak perlu ini,” bisik Kalila protes, walaupun dalam hati dia sangat suka dress yang dipilihkan Matteo. Tidak terbuka dan simpel. Kalila suka. Namun tetap saja, dia merasa tindakan Matteo ini sangat berlebihan. Matteo dengan santai mengetikkan balasan pesan untuk asistennya sambil mengatakan, “Tidak mungkin kamu pergi dengan mengenakan pakaian sekolah, bukan? Aku bermaksud untuk mengusir wanita yang aku tidak suka itu, bukan untuk membuat kamu menjadi bahan tertawaan orang-orang di sana.” Ah, benar juga. Kalila akhirnya memilih untuk diam. Ketika Kalila merasa bahwa apa yang diberikan Matteo sudah sangat berlebihan. Matteo malah membuatnya semakin ingin protes ketika dia ingin dirinya mengenakan make-up simpel. “Pak Matteo, aku tidak ingin—” “Ini rencanaku, Kalila.” Kalila kembali diam. Matteo seolah mengatakan kalau dirinya tidak boleh protes karena ini adalah rencananya. Baiklah. “Memangnya, acara apa yang diadakan perusahaan ayah kamu?” “Acara biasa.” Biasa menurut Kalila dan biasa menurut Matteo Aarav sepetinya sangat berbeda. Karena Kalila kembali dibuat terkejut saat melihat bagaimana pesta yang diadakan perusahaan itu di salah satu rooftop dari hotel bintang lima di pusat kota sangat mewah. “Pak Matteo, sebelum aku membuat kamu malu, biar aku beritahu kamu dulu bahwa ini kali pertama aku datang ke pesta seperti ini. Jadi, tolong maklumi.” Matteo tertawa kecil sebelum dia keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Kalila. “Kamu tidak akan mempermalukan aku, Kalila.” Kalila hanya mencebikkan bibirnya karena dia sendiri tidak yakin. *** “Mama!” Irish sedang berbicara dengan suaminya ketika anak pertamanya, menepuk pundaknya dengan terburu-buru tanpa menatap ke arahnya. Irish mengeryitkan dahinya. “Ada apa, Anna?” tanyanya heran. “Itu lihat! Matteo membawa wanita baru!” Anna berujar heboh walaupun sudah berusaha mengecilkan suaranya. Irish mengikuti pandangan anaknya dan benar saja, terlihat putranya menggandeng seorang … gadis. Gadis belia. Itu bukan wanita. “Siapa dia, Anna?” tanya Irish dengan nada dingin yang membuat Anna menjadi kebingungan. Apa ibunya ini marah karena Matteo membawa pasangan yang jarak umurnya terpaut cukup jauh darinya? “Sepertinya dia yang bernama Kalila Beatrice. Matteo pernah menyebutnya kalau tidak salah.” Anna yang sebelumnya heboh menjadi lebih tenang. “Oh.” “Mama?” Anna membelalakkan matanya melihat ibunya melangkahkan kakinya mendekati dua orang itu. “Mama!” ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN