Kalila tidak mengerti kenapa Matteo harus melarangnya untuk bekerja lagi di klub itu. Maksudnya, sekalipun Matteo sudah mengatakan kalau dia akan menolong Kalila, namun bukan berarti Kalila bisa terus-menerus mengandalkan Matteo, bukan?
Dia tidak bisa seperti itu. Kalila masih memiliki kewarasan bahwa Matteo tidak akan selamanya ada di sisinya dan dia masih perlu menyambung hidupnya demi masa depan dia sendiri.
“Aku kira kamu tidak akan ikut campur dalam kehidupan pribadiku, Pak Matteo.”
Matteo mengangguk. “Memang.” Dia memasukkan ponselnya terlebih dahulu ke dalam saku jasnya. “Tapi, aku bisa menjamn kalau kehidupan kamu akan semakin lebih baik ketika kamu menjalankan rencana ini dengan aku. Kamu tidak perlu khawatir lagi soal pekerjaan.”
Kalila berdecak. Inilah yang membuatnya tidak bisa percaya langsung pada Matteo. Pria ini terlalu baik dan Kalila tidak tahu bagaimana dia harus mengandalkan Matteo. Dia hanya takut ketika dia terlalu bergantung padanya, dan Matteo akan pergi meninggalkannya.
“Tapi, bagaimana jika—”
“Aku yang mengajak kamu untuk ikut andil dalam perjanjian ini. Tidak mungkin aku tiba-tiba meninggalkan kamu dan membuat kamu kesulitan sendiri, Kal.”
Kalila terdiam. Dia bisa melihat bahwa Matteo bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Seolah ada suara yang berbisik padanya bahwa dia memang bisa memercayai pria yang lebih tua sebelas tahun darinya ini.
“Matteo.” Sepertinya, ini kali pertama Kalila memaksakan diri untuk memanggil Matteo tanpa embel-embel ‘Pak’ seperti biasanya.
“Iya?” Dan Matteo tidak terlihat keberatan dengan panggilan Kalila tadi.
“Aku tidak tahu apa yang membuat kamu begitu baik padaku kali ini, tapi aku harap kita tidak saling mengecewakan nanti.” Baiklah, Kalila akan menuruti perintah Matteo. Dia akan melihat sejauh mana Matteo akan menepati janji padanya.
***
Kalila memiliki alasan sendiri kenapa dirinya akhirnya setuju untuk mengikuti misi dari Matteo. Dia mengira, kalau dia bisa menyelesaikan masalahnya lebih dulu, maka perlahan dia bisa menghadapi Atlas dengan kepala dingin. Iya, terdengar ribet dan sedikit tidak masuk akal. Tapi jujur saja, Kalila tidak bisa menghadapi masalah ayahnya yang terus menerornya lewat pesan-pesan setiap hari, sekaligus menghadapi Atlas yang bersikap semakin aneh kian hari.
Dia harus menyelesaikannya satu per satu dan cara terbaiknya adalah bekerja sama dengan Matteo.
“Kal.”
Dan dia kembali berpikir, bahwa akan lebih mudah jika Atlas tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia rindu momen mereka bersama ketika Atlas tidak mengutarakan perasaannya yang sebenarnya pada Kalila. Karena semenjak Atlas mengatakannya, semuanya berubah menjadi lebih canggung.
Bukannya tambah dekat, Kalila justru merasa bahwa dia sudah kehilangan kakak yang ia idamkan dari dulu.
Kalila hanya menatap Atlas. Dia juga heran kenapa lelaki ini sering sekali pulang lebih cepat darinya. Kalila sengaja tidak pulang dulu ke rumah setelah bubar sekolah dan langsung pergi ke tempat kerja—hal itu sempat membuat bosnya terkejut karena klub belum dibuka ketika sore hari.
Sebegitu inginnya dia tidak bertemu dengan Atlas. Namun, semua effort yang dia berikan tadi seolah sia-sia karena pada akhirnya, dia kembali bertemu dengan Atlas.
“Aku akan menginap di rumah temanku. Ada tugas kuliah yang harus aku selesaikan bersama dia.” Atlas mendekat ke arah Kalila dan membuatnya menjadi siaga di tempatnya. Kalila selalu tidak suka ketika Atlas berdekatan dengannya setelah kejadian itu. Atlas berubah menjadi sosok yang menyeramkan bagi Kalila.
“Oke.” Kalila menjawab dengan ragu.
“Kamu akan baik-baik saja di sini?”
Bahkan Kalila akan merasa lebih baik jika dia sendiri. Dia selalu merasa was-was tiap kali Atlas berada di dekatnya.
Kalila mengangguk cepat.
Atlas tersenyum melihat respon Kalila. “Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu, ya.” Atlas menegcup pelipis Kalila dengan cepat dan berlalu begitu saja. Atlas tahu apa yang dilakukannya akan membuat Kalila protes tidak terima, karena memang keadaan mereka jauh dari kata baik-baik seja sekarang. Atlas yang membuatnya seperti itu namun dia terus saja melakukannya tanpa rasa bersalah.
“Atlas,” ujar Kalila sambil menoleh pada Atlas yang sudah akan pergi.
Atlas menahan langkahnya dan menoleh pada adiknya itu. “Iya?” tanyanya lembut.
“Bisa kamu hentikan itu?”
Dahi lelaki muda itu mengeryit heran karena tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Kalila. “Apa?”
“Yang kamu lakukan baru saja. Aku yakin kamu sadar dan paham betul kenapa aku tidak ingin seperti itu.” Kalila menghela napas. “Kamu bukan kakakku lagi, Atlas. Sayangnya, aku tidak ingin berada di dekat kamu setelah apa yang kamu utarakan tempo hari.”
Kalila berpikir bahwa kalimatnya tadi sudah cukup untuk mengancam Atlas. Mengatakan bahwa dia sudah muak dengan sikap pria itu. Namun, sepertinya Kalila salah besar. Atlas terlihat tersenyum miring padanya. “Bukankah bagus jika seperti itu? Aku justru akan lebih senang jika kamu tidak menganggap aku sebagai kakak.” Atlas kemudian pergi meninggalkan Kalila dengan perasaan jengkel setengah mati.
Kalila berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah dia menyelesaikan masalah dengan ayahnya, maka Atlas akan selesai juga.
***
Kalila beristirahat dengan cukup damai dan tenang malam ini. Entah karena Atlas yang pergi dari rumah untuk sementara atau karena dia sudah tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya. Tapi, untuk pertama kalinya, Kalila bisa merasakan bagaimana damainya tidur.
Dia menatap langit-langit kamarnya sebelum tidur. Beberapa dekorasi kamar yang ia tempelkan di langit-langit itu menyala dalam kegelapan.
Sayangnya, ketenangan itu terganggu ketika ponselnya bergetar. Menandakan ada notifikasi yang baru. Awalnya, Kalila tidak ingin menggubrisnya, mengingat dia akan tidur sebentar lagi. Namun rasa penasarannya terlalu besar dan Kalila akhirnya membuka ponsel yang ia taruh di nakas.
New e-mail notification!
Kalila mengeryitkan dahinya, karena ia mengira bahwa itu notifikasi pesan singkat. Dia membuka aplikasi e-mail-nya.
From: mattheo.aarav@che.com
To : kalilabeatrice@che.com
I need you to come to my office after school. Important.
Here’s the location.
Regards,
Mattheo
Kalila tidak bisa menahan tawanya ketika dia baru saja mengingat aksi konyolnya yang tidak mau memberikan Matteo nomor pribadinya. Sebenarnya, Kalila tidak memiliki alasan khusus untuk itu, dia hanya ingin mengerjai Matteo dan sepertinya berhasil. Dia tidak menyangka kalau Matteo sungguh akan mengirimnya e-mail.
Kalila meng-klik lokasi yang dikirim oleh Matteo dan dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu di mana lokasi kantor Matteo dan sepertinya tidak akan sulit baginya untuk mencarinya nanti.
Dia segera membalas e-mail dari Matteo dan mengatakan kalau dia akan datang, jika dia ada waktu. Kalila tertawa sendiri melihat balasannya. Sepertinya, membuat pria berhati mulia itu kesal akan menjadi hobi baru untuknya.
Ketika Kalila akan menyimpan ponselnya, kembali ada notifikasi lain yang membuatnya mengurungkan niatnya.
Kalila mengeryitkan dahinya ketika itu adalah pesan dari ayahnya.
Ayah harap kamu tidak lupa dengan apa yang Ayah minta, Kalila. Keadaan Ayah semakin mendesak.
Kalila berdecak dan hampir saja dia melempar ponselnya. Mood-nya hancur dalam satu waktu dan itu hanya karena satu pesan sederhana dari ayahnya.
“Sial,” Kalila menggerutu sebal.
***