Benar saja apa yang sudah diperkirakan oleh Matteo, bahwa dengan membawa Aya, semuanya tidak akan berjalan dengan sempurna. Aya tidak membantu apa-apa di lokasi itu. Dia tidak memberikan respon apapun yang sebetulnya sangat diperlukan untuk kelancaran proses mereka. Aya hanya membisu dan sekalipun dia angkat bicara, dia hanya menyinggung soal permasalahan pribadinya dengan Matteo. Wanita itu sangat tidak profesional dan itu menyebalkan.
“Lain kali, tolong jangan biarkan wanita ini untuk bergabung dengan kita, apa kamu mengerti?” tanya Matteo kepada asistennya yang sedari tadi berada di sampingnya. Matteo tidak repot-repot untuk mengecilkan suaranya. Dia dengan sengaja membiarkan wanita itu untuk mendengarnya.
Asistennya sedikit tidak enak pada Aya, namun dia menganggukkan kepalanya karena tidak ingin mendapat amarah dari Matteo.
“Matteo.”
Matteo dan beberapa orang di sana menoleh secara bersamaan ketika Aya kembali berbicaranya. Tidak sedikit dari mereka yang berharap bahwa Aya akan memberikan respon tentang proyek mereka yang sekarang sedang dibicarakan.
“Aku akan ikut hadir di acara yang akan diadakan oleh perusahaan ayah kamu.”
Matteo menghela napas. Seharusnya dia tahu bahwa wanita itu tidak akan memberikan respon apapun soal proyek mereka. “Lalu?” tanya Matteo tidak mengerti.
“Aku harap kamu juga berada di sana, okay?” Aya tanpa tidak tahu malunya menoleh pada Matteo dan tersenyum polos.
Matteo mengalihkan pandangannya. Tidak ingin memedulikan wanita itu. Untungnya, waktu kunjungan untuk perusahaannya telah usai dan saatnya pulang.
Matteo tidak langsung pulang ke rumahnya. Namun, dia pergi ke klub tempat Kalila bekerja. Dia tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk mencari gadis itu. Terlihat gadis itu sedang melamun di balik meja bar sementara rekan kerjanya sedang melayani para pelanggan.
Senyum di bibir Matteo terbit. Dia menghampiri gadis itu. “Kal.”
Kalila terperanjat dan menatap Matteo heran. “Kamu?”
“Kamu tidak mengharapkan kehadiranku?”
Matteo terkejut ketika Kalila tiba-tiba keluar dari balik meja bar itu dan menghampiri Matteo. Duduk di sampingnya dengan tatapan yang sangat serius. “Ada sesuatu yang harus aku katakan pada kamu.” Matteo tidak mengerti. Namun, dia mengangguk. Dia juga penasaran akan apapun yang akan dikatakan oleh gadis itu.
“Kenapa?”
Kalila terlihat menarik napas terlebih dahulu dan menyiapkan dirinya untuk mengatakan sesuatu padanya. “Jika aku setuju untuk membantu kamu, apa yang aku dapatkan nanti? Maksudku, keuntungan yang akan kamu berikan.”
Matteo sadar, bahwa dia hampir bisa membujuk Kalila untuk membantunya menjalani rencananya.
“Aku akan membantu kamu menyelesaikan masalah aku.”
“Kamu bahkan tidak tahu apa masalahku.”
Matteo mengangguk. “Aku memang tidak tahu dan aku bersikeras untuk membantu kamu.”
“Apa kamu akan memanfaatkan aku? Apa aku akan menjadi b***k kamu? Dulu, aku pernah membaca novel jika—”
Matteo tidak sanggup menahan tawanya. Dia tertawa kecil sambil memalingkan wajahnya. Hal itu membuat Kalila mengeryitkan dahinya tidak suka. “Kenapa kamu tertawa? Aku serius!” gerutu Kalila.
“Maaf.” Matteo mencoba untuk meredakan tawanya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya. “Kalila, apa kamu beranggapan kalau aku akan menjadi sugar daddy kamu? Memanfaatkan kamu agar aku bisa mendapat kepuasan?”
Kalila diam saja dan itu membuat Matteo yakin apa yang dipikirkannya benar adanya. “Astaga, Kalila. Aku tahu mungkin aku terlihat seperti berengsek bagi kamu. Tapi percayalah, aku tidak seperti itu. Aku tidak akan menggunakan kamu untuk kepuasan pribadi aku. Aku tidak tega melakukan itu dan tidak mau.”
“Tapi, biasanya orang-orang di novel itu—”
“Oh, kamu hidup di dunia nyata atau dunia novel, Kalila?” tanya Matteo yang kembali membungkam Kalila.
“Aku tidak mau memanfaatkan kamu, itu intinya. But I do need your favor. Bukan berarti aku akan menggunakan kamu sesuka hati. Aku akan berperan sebagai … kekasih dalam hubungan yang sehat, jika kamu mengkhawatirkan aku.”
Kalila semakin mengeryitkan dahinya. “Kekasih?”
Matteo mengangguk, “Kamu akan menjadi kekasih aku, begitu pun sebaliknya.”
Kalila tahu bahwa pria ini adalah pria yang baik. Seharusnya, Kalila tidak terkejut ketika Matteo mengatakan kalau dia tidak akan memanfaatkan dirinya dalam hal-hal yang aneh. Tapi, bukankah itu membuat Matteo terlalu baik?
“Pak Matteo.”
“Hm?” Matteo menaikkan sebelah alisnya dan menatap Kalila dengan intens. Hal itu membuat Kalila canggung sendiri.
“Sampai kapan kita akan berpura-pura? Jika memang aku setuju.”
Kalila dan gengsinya. Memang, ya. Matteo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. “Sampai aku mengatakan kalau tugas kamu sudah usai. Aku tidak tahu sampai kapan. Tapi, sebelum usai, aku akan memastikan kalau masalah kamu sudah selesai dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi.”
Kalila menyipitkan matanya. “Sungguh?” tanyanya curiga.
“Iya. Aku bersungguh-sungguh.”
Kalila terdiam dan menatap Matteo dalam diam. Penuh tanda tanya. “Pak Matteo, apa kamu tahu kalau sekarang kamu bersikap sangat baik padaku? Aku menjadi takut.”
“Kenapa kamu takut?”
“Karena belum ada orang yang pernah bersikap sebaik ini padaku. Tidak ada sama sekali.”
Detik itu juga, Matteo sadar kalau pilihan yang tepat jika mereka jadi melaksanakan misi ini. Tidak akan ada yang dirugikan dalam hal ini. Dia akan memastikan masalah yang sedang dihadapi Kalila selesai.
“Jadi, aku akan menjadi yang pertama kalau begitu. Kamu setuju?”
“Aku tidak ingin mendapat masalah jika aku setuju membantu kamu—menjalankan misi ini.”
Matteo menganggukkan kepalanya. “Dan aku tidak akan menawarkan masalah jika aku tahu kamu dalam masalah, Kal.” Matteo menggenggam tangan Kalila. “Kal, aku tidak berniat jahat pada kamu.”
Memiliki segudang masalah yang harus ia hadapi sendiri, tidak memiliki orang yang bisa ia andalkan, dan keadaan yang selalu memaksanya, membuat Kalila memiliki trauma sendiri. Dia tidak bisa begitu mudah memercayai orang lain.
“Okay.”
Matteo mengangkat kedua alisnya. “Kamu setuju?”
“Hm.”
Matteo mengulurkan tangannya. “Sebagai bentuk perjanjian kita?”
“Apa perlu?”
Matteo mengangguk dan menarik tangan Kalila. Memaksanya agar menerima uluran tangannya. “Senang bekerja sama dengan kamu, Kalila.”
***
“Aku tidak terbiasa memberikan nomor ponselku pada orang lain.” Kalila memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil ketika Matteo memberikan ponsel pria itu agar sang gadis mau memberikannya nomor ponselnya.
“Kal, sebagai bentuk pertama perjanjian kita, kita harus bertukar nomor ponsel. Bagaimana bisa aku menghubungi kamu ketika kita menjalankan misi kita jika aku tidak bisa menghubungi kamu?”
Kalila mendengus. “Bagaimana kalau alamat e-mail?”
Matteo memutar bola matanya malas. “Kal, kamu serius?”
“Iya. Kalilabeatrice@che.com itu alamat e-mail-ku.”
Matteo pasrah dan mengangguk lalu mengetikkan alamat surel itu di ponselnya guna mengingatnya. Dia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. “Oh, karena aku sudah menuruti kamu, maka ada satu hal yang juga harus kamu turuti.”
“Apa? Kamu ingin aku melayani kamu?”
Matteo berdesis. “Lama-lama, aku curiga, Kalila. Apa kamu sebenarnya yang ingin aku bertindak seberengsek itu pada kamu? Aku sama sekali tidak mengharapkan hal-hal dewasa dari kamu.” Matteo mulai sebal sendiri dan Kalila menyadarinya. Dia sudah kelewatan.
“Maaf.”
Matteo menghembuskan napasnya, mencoba untuk tidak tersulut emosi. “Kamu tidak perlu bekerja di klub itu lagi.”
“Apa?!”
***