Kalila dapat merasakan tubuh Atlas ikut menegang saat mendengar dirinya ingin pelukan itu dilepaskan. Memang ini bukan seperti Kalila. Dulu, Kalila biasa saja ketika kakaknya memeluknya. Bahkan dia bisa lebih tenang di dalam pelukan hangat Atlas. Tapi, semuanya berubah ketika Atlas mengatakan perasaannya yang sebenarnya.
Kalila memang menyukai Atlas apalagi pelukan dari lelaki itu. Tapi, Kalila tidak pernah sekalipun mengharapkan Atlas yang membalas perasaan tidak wajarnya.
Berada di samping lelaki itu, sudah lebih dari cukup untuknya.
“Kalila?”
Kalila menundukkan pandangnnya ketika pria itu melepaskan pelukannya dan menatap Kalila heran. “Apa sekarang kamu membenci aku?”
Kalila sontak menggeleng kuat. Gila saja, bagaimana mungkin dia bisa membenci Atlas? Iya, dia memang takut pada lelaki itu dan keadaan di anrara mereka yang sangat canggung membuatnya terlihat ingin menjauhinya, tapi Kalila tidak pernah ingin membenci kakaknya.
“Baguslah. Karena akan semakin menyiksa untukku jika kamu ternyata membenci aku.”
Kalila mengangguk dengan nurut. “Tapi, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap di samping kamu. Kamu menakuti aku, lalu kamu mengatakan kalau kamu menyukai aku lebih dari adik. Semuanya terlalu mendadak dan aku tidak bisa menerimanya. Aku yakin kamu juga paham kenapa, Atlas.”
Atlas mengangguk. Perasaan ini memang harus ia bunuh dengan sendirinya. Atlas sendiri tidak tahu bagaimana caranya, karena dia sudah menyimpan perasaan ini cukup lama. “Kalila, biarkan aku memeluk kamu sekali lagi.”
Kalila hanya membiarkan pelukan itu bertahan selama beberapa detik, dan kemudian melepaskannya dengan ragu.
“Are we good now?”
Kalila diam saja. Tentu saja dia tidak bisa menghilangkan perasaan sebal dan takutnya pada Atlas begitu saja. Tapi untuk sekarang, dia akan membiarkan Atlas untuk menganggap keadaan mereka sesuka dirinya.
“Aku harap kamu tidak takut lagi padaku, Kalila. Aku harap kita memang baik-baik saja.”
Kalila tetap bergeming.
“Kalila.”
Kalila mendongak. Kali ini, dia bisa melihat tatapan lembut dari Atlas. “Aku akan menganggap kalau kita memang sudah baik-baik saja.”
Terserah. Kalila tidak akan memedulikan itu lagi. Tapi, satu yang pasti, dia akan menemui Matteo setelah ini.
***
“Pak Matteo.”
Matteo sedang bersiap untuk melihat proyek pembangunan yang sedang ia kerjakan saat ini secara langsung ketika asistennya menghampirinya.
“Hm?” Matteo membalikkan tubuhnya untuk melihat asistennya.
“Ada satu investor yang sepertinya harus diikutsertakan. Sebagai bentuk laporan langsung bahwa kita memang mengerjakan dengan baik dan benar.”
Matteo hanya menganggukkan kepalanya mengerti. “Kamu sudah memilih siapa? Atau mungkin ada yang ingin ikut?”
“Aku bisa.”
Keduanya sama-sama menoleh hampir bersamaan ketika seorang wanita tiba-tiba saja masuk ke ruangan Matteo. “Aku bisa membantu untuk mengecek lokasi di sana. Aku juga investor, bukan?”
“Aya,” desis Matteo sebal.
“Aku yakin asistenku dengan cekatan sudah menyiapkan siapa investor yang berhak untuk ikut.” Matteo menatap asistennya, ada secercah tatapan memohon dalam tatapannya. Dia bisa mati kebosanan atau karena terlampau kesal jika ternyata Aya yang ikut dalam perjalanan ini. Walaupun lokasinya tidak begitu jauh, namun tetap saja. Aya yang ikut dengannya hanya akan membuatnya terasa lebih memakan waktu yang tersia.
“Tidak, aku memaksa kalau aku yang harus ikut. Matteo, apa kamu tega menolak investor kamu sendiri? Kamu tahu kalau kelangsungan proyek ini tergantung pada kami semua, bukan?” Aya melipat kedua tangannya di depan d**a. Seolah tidak gentar dan mengatakan pada Matteo bahwa dia tidak takut sama sekali pada kemarahan Matteo.
“Benar, ‘kan? Aku sama sekali tidak salah, Matteo.”
Matteo menghembuskan napas kesal. Dia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan wanita itu bertindak sesuka hatinya. Semuanya hanya akan sia-sia jika dia mencoba untuk berdebat dengan wanita itu.
Mereka berangkat dengan mobil yang sama. Dan Matteo menyesali keputusannya. Benar-benar menyesal kenapa dia membiarkan dirinya harus memilih Aya.
“Aku ingat saat kita kuliah dulu, kamu sering sekali membelikan aku coklat batangan. Sampai aku sakit gigi karena kamu terlalu sering memberinya, apa kamu ingat juga?” Itu salah satu kebodohan terbesar dalam hidup Matteo—berpacaran dengan Aya dan memperlakukan wanita itu seperti ratu. Baru sekarang dia sadar, bahwa Aya sama sekali tidak sepadan. Wanita itu terlalu banyak menuntut ini-itu pada Matteo.
“Tidak.”
Aya mengendikkan bahunya. “Tentu saja kamu tidak ingat, kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu. Namun, aku tidak bisa melupakannya karena kamu sangat memorable.” Aya menoleh lagi pada Matteo dan menatapnya dalam. “Kamu sangat terpatri di pikiranku, apa kamu tahu itu?” Aya tidak bsia melupakan Matteo dengan mudah. Dia tidak pernah berniat untuk meninggalkan Matteo. Dia terpaksa harus mengakhiri hubungannya dengan pria itu atas permintaan orang tuanya karena sudah terlibat perjanjian dengan keluarga Nino. Padahal kalau dipikir-pikir, menikah dengan Matteo akan sangat lebih menguntungkan dirinya dari pada Nino.
“Tidak.” Matteo menjawabnya sambil membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Terdengar helaan napas dari Aya. Namun, Matteo tidak peduli. Jika Aya saja sudah lelah dengan tingkahnya sendiri yang tidak bisa mengubah Matteo, seharusnya wanita itu paham bagaimana jadinya jika dia berada di posisi Matteo, bukan?
Matteo tersiksa setengah mati.
“Kamu sudah memiliki suami, Aya. Aku tidak peduli apakah kamu terpaksa menikahi suami kamu atau tidak, aku tidak memikirkan apakah kamu mencintai dia atau tidak. Tapi, sebagai istri, harusnya kamu menghormati dia. Just respect him. Itu adalah hak-nya.” Matteo akhirnya menoleh pada Aya dan dia bisa melihat mata Aya berkaca-kaca. “Tapi jika aku melihat tingkahnya tempo hari, aku bisa melihat kalau dia mencintai kamu.”
Kali ini, Aya yang membuang muka dari Matteo. Tatapan Matteo dan perkataannya seolah menampar Aya dengan halus.
“Aku tidak mencintainya. Aku mencintai kamu, Matteo.”
Matteo melirik asistennya dan sopir yang mengemudikan mobilnya, kini mereka berdua ketahuan oleh Matteo sedang menguping percakapan dirinya dan Aya. Sekarang, Matteo sendiri yang malu. “Tidak bisa, Aya. Aku tidak akan goyah sekalipun kamu mencintai aku.”
Aya menitikkan air matanya dan itu membuat Matteo panik sendiri. Kenapa wanita ini gemar menangis di hadapannya dan bisa membuat orang lain berpikir kalau Matteo-lah yang sudah menghancurkannya? Hei!
“Aya, hentikan.” Matteo lelah dengan tingkah Aya yang membuat kepalanya pening.
“Tidak, Matteo. Aku tidak bisa bertahan dalam hubungan ini. Dan aku membutuhkan kamu untuk membantu aku. Bantu aku keluar dari hubungan aku dan Nino.” Tangan Aya terulur untuk menggenggam tangan Matteo. Namun, dengan cepat Matteo menyingkirkannya.
“Astaga, Aya. Jika kamu ingin bercerai, silakan saja. Aku tidak peduli dan tolong, jangan minta bantuan apapun padaku yang menyangkut pada hubungan kamu. Aku tidak ingin namaku tercoreng karena tingkah laku kamu ini.”
Aya mengusap air matanya. Malu setengah mati karena kini ada orang lain yang melihat bagaimana Matteo menolaknya. Aya menggelengkan kepalanya. “Hanya kamu yang bisa membantu aku, Matteo.”
“Jangan gila.”
“Aku tidak gila. Dan, aku tidak akan menyerah sebelum kamu membantu aku.”
“Oh, percayalah. Kamu akan menyerah. Aku tidak bisa membiarkan kamu mengganggu hidupku lagi.”
Sudah cukup semua ini.
***