“Soal penawaranku pada kamu tempo hari, Kalila. What do you say?” tanya Matteo ketika mereka berada di lokasi gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Lokasi itu sepi dan mereka tidak perlu takut jika ada seseorang yang melihat.
“Kamu masih memikirkan penawaran itu?” Kalila menoleh kaget pada Matteo. “Aku mengira itu hanya candaan, Pak Matteo.”
Matteo mendengus. “Aku serius, Kal.”
Kalila terdiam. “Aku tidak mengganggap kalo Pak Matteo serius dengan itu. Aku kira Bapak hanya main-main.”
“Tidak. Wanita yang … menggangguku, benar-benar keterlaluan. Aku sudah menolaknya mentah-mentah tapi dia tidak mau mendengarkan aku.” Matteo menatap ke arah depannya sementara Kalila menatap wajah tampan pria di sampingnya itu. Mereka masih belum sadar bahwa sedari tadi, tangan mereka saling tertaut.
“Dan kamu menganggap aku sebagai solusi, Pak Matteo?”
Matteo mengangguk. “Aku berpikir, jika dia mengetahui kalau aku sudah memiliki kekasih, mungkin dia berhenti.”
“Kalau dia tidak berhenti?”
“Aku akan memaksanya untuk berhenti. In returns, aku akan menolong kamu menghadapi apapun masalan yang kamu hadapi.”
“Aku tidak memiliki masalah apapun,” ujar Kalila mengelak fakta bahwa dia memiliki beban yang sangat berat di pundaknya.
Matteo menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan sangat intens hingga Kalila merasa bahwa dia menahan napasnya sekarang. “You are the girl with a broken smile, Kalila. Aku tahu hal itu.”
Kalila terdiam. Apa benar? Apa beban yang kini ia hadapi terlalu berat hingga orang lain bisa melihat itu dari wajahnya?
“Tidak semua orang menyadarinya, but I do. Dan aku peduli pada kamu, Kalila, entah sebagai apa yang kamu anggap. Mungkin kamu menganggap aku hanya orang asing, atau mungkin sebagai guru kamu, atau bahkan teman kamu. Apapun itu, aku peduli pada kamu. Dan aku tidak bisa mengelak bahwa kita lebih dari orang asing. You’re not a stranger for me, Kalila.”
Ucapan Matteo yang begitu halus membuat mata Kalila berkaca-kaca. Hampir saja dia menganggap bahwa Matteo bisa ia andalkan. Bahwa dia bisa menjadikan Matteo sebagai tempatnya untuk berkeluh kesah.
Namun, kesadaran kembali menariknya. Matteo bukanlah pria yang seperti itu. Dia tidak bisa percaya langsung padanya.
“Bagaimana?” tawar Matteo.
Kalila mengendikkan bahunya. “Biar aku pikir-pikir dulu.”
“Apa itu berarti kamu akan menerimanya?”
“Aku tidak tahu.”
***
Kedatangan Matteo bukan membuat semuanya lebih mudah, justru menambah beban pikiran Kalila karena dia—sialnya—kini mulai memikirkan penawaran dari pria itu. Mereka hanya berpura-pura memiliki hubungan. Tidak lebih. Kalila tidak perlu memberikan apapun pada pria itu dan begitu pula sebaliknya. Semuanya akan baik-baik saja, bukan?
“Kalila.”
Kalila tersentak dan lamunannya seketika buyar ketika ternyata Atlas sudah pulang dari kuliahnya dan kini berada di rumah mereka. Kepulangan Atlas adalah hal terakhir yang Kalila harapkan hari ini. Dia tidak mau bertemu dengan lelaki itu untuk jangka waktu yang lama. Dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana di hadapan Atlas.
“Sudah pulang? Ayo, aku siapkan makanan untuk kamu.”
Tolong siapapun, bawa Kalila dari sini!
Kalila menggenggam ujung tali tas gendongnya dengan erat. Dia gugup. Dia tidak suka dengan perilaku Atlas yang hangat dan perhatian seperti ini ketika dirinya sudah tahu apa yang Atlas rasakan. Ini semua berbeda dan Kalila membenci itu.
Tanpa sadar, Kalila menundukkan pandangannya dan hal itu tidak luput dari penglihatan Atlas. “Kalila?”
Kalila terdiam. Dia tahu perlahan namun pasti, Atlas mendekat ke arahnya. “Kalila, aku menyuruh kamu untuk makan, bukan diam.”
Sial. Kalila tahu dan mendengar dengan jelas. Tapi, apakah Atlas tidak mengerti alasan yang membuat Kalila seperti ini?
“Ayo,” ujarnya sambil menarik tangan Kalila dengan lembut. Kalila ingin menolak, namun dia juga sempat berpikir kalau dia bersikap kasar sekarang, ada kemungkinan Atlas akan bersikap lebih kasar lagi. Yap, itu mimpi buruk.
Atlas menyapkan kursi, piring dan gelas, beserta makanan untuk Kalila. “Selamat makan, Kal.” Atlas yang biasanya duduk di hadapan Kalila, kini duduk di samping adik tirinya dan memakan makanannya dalam diam. Walaupun, tanpa Kalila sadari, lelaki itu sempat melirik ke arah sang gadis yang terlihat cantik dengan wajah bingungnya.
“Kalila.” Atlas tiba-tiba berujar di sela-sela keheningan mereka.
Kalila menolehkan kepalanya dan ketika tatapan mereka bertemu kembali, Kalila memalingkan wajahnya. Seolah kedua mata Atlas adalah satu hal yang harus dia hindari. Tidak, Kalila tidak menginginkan itu.
“Aku tahu keadaan kita semakin canggung. Apa yang aku katakan sebelumnya, memang seharusnya tidak aku utarakan.”
Dalam hati, Kalila menggerutu. Memang harusnya Atlas menahan diri untuk tidak mengatakannya. Kalila saja sudah menahannya beberapa tahun, dan semuanya baik-baik saja. Walaupun dia harus selalu memakan hati di samping Atlas. Tapi, dia tidak membuat keadaan antara dirinya dan Atlas memburuk, bukan?
“Kalila, aku minta maaf jika ucapanku membuat kamu tidak nyaman. Tapi, aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan. Aku tidak mungkin asal-asalan mengatakan pada kamu kalau aku memiliki perasaan yang berbeda pada kamu hanya untuk membuat kamu tidak marah lagi padaku. Aku bukan lelaki yang berengsek.”
Well, but you hurt me, though.
Ingin sekali Kalila mengatakan hal itu dengan gamblang pada Atlas.
Seharusnya, dia bahagia karena Atlas memiliki perasaan yang sama dengannya, bukan? Setidaknya, perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Namun sayangnya, Kalila tidak merasakan apapun selain kebingungan. Karena sejak awal, Kalila tahu perasaan yang dia miliki pada Atlas adalah salah.
“Kal, bisakah kita bersikap normal lagi? Just like we used to be. Kamu yang selalu mengandalkan aku dan aku yang akan selalu ada untuk kamu. Hanya hal sederhana seperti itu yang akan membuat keadaan antara kita jauh lebih baik.”
Kalila tersenyum kecil.
“Benarkah, Atlas?”
Gadis itu bisa melihat keryitan samar di dahi lelaki di sampingnya. “Benarkah aku bisa mengandalkan kamu lagi ketika aku merasa takut pada kamu. Ini bukan masalah perasaan kamu, tapi ini karena kamu yang membuat aku terlebih dahulu, Atlas. Perasaan kamu … itu semua hanya bumbu yang membuat keadaan kita semakin buruk. Kamu yang membuatnya kacau in the first place. Seharusnya, kamu tahu bagaimana caranya agar kita tidak se-canggung ini.”
Kalila terperanjat ketika Atlas menggenggam tangannya. “Kalau begitu, tolong beritahu aku apa yang harus aku lakukan, Kalila Beatrice. Aku tidak tahan dengan situasi yang seperti ini. Aku menyukai kamu, lebih dari sekadar adikku. Aku harap kamu paham bagaimana menyiksanya ini semua bagiku.”
Atlas tidak tahu bahwa ini juga sangat menyiksa bagi Kalila.
“Kal.”
Kalila diam saja. Namun, dia kembali terkejut ketika Atlas membawanya ke dalam pelukannya. Lelaki itu mengecup pelipisnya. “Mendekap kamu seperti ini, adalah satu kebahagiaan sederhana yang bisa kamu berikan padaku, Kalila.”
Kalila terdiam.
“Aku ingin kamu selalu ada di dekapan aku. Agar aku bisa menyakinkan diriku sendiri, bahwa aku berhasil menjaga kamu. Bukan sebagai adikku.”
Oke. Kalila takut bukan main. Bukan ini yang dia harapkan.
“Atlas, tolong lepaskan,” ujarnya dengan suara lirih.
***